Dahulu kala, para pendekar di Jianghu mempelajari ilmu bela diri untuk melindungi diri dan menghadapi musuh.
Namun, seiring berjalannya waktu, ilmu bela diri terus berkembang. Tujuannya bukan lagi sekadar melindungi diri, tetapi juga untuk mengalahkan dan membunuh musuh dengan lebih efektif. Teknik-tekniknya pun semakin rumit dan kompleks.
Gerakan-gerakan sederhana mulai berkembang menjadi rangkaian jurus, sementara teknik pernapasan menjadi dasar dalam mengolah energi dalam tubuh.
Para pendekar mewariskan pengetahuan mereka kepada generasi berikutnya melalui buku-buku dan berbagai ajaran. Berkat warisan tersebut, ilmu bela diri terus berkembang dari masa ke masa.
Lambat laun, para pendekar menjadi jauh lebih kuat dibandingkan manusia biasa. Mereka mampu berlari melintasi pepohonan secepat angin, menghancurkan batu dengan tangan kosong, bahkan menebang pohon hanya dengan sekali tebasan pedang.
Orang-orang seperti mereka kemudian dikenal sebagai bagian dari dunia persilatan.
Namun, para pendekar tidak pernah puas dengan kekuatan yang mereka miliki. Mereka ingin menjadi semakin kuat dan mulai berkumpul untuk membentuk klan-klan.
Mereka yang menjunjung tinggi keadilan dan kehormatan menyebut diri mereka Orthodox. Sementara itu, mereka yang tidak segan menggunakan kekerasan dan kekejaman dikenal sebagai Unorthodox.
Selain kedua kelompok tersebut, ada pula kelompok yang memilih jalan berbeda. Mereka tidak peduli dengan keadilan ataupun kejahatan. Satu-satunya hal yang mereka kejar hanyalah kekuatan.
Mereka dikenal sebagai Demonic Cult.
Kini, dunia persilatan berada dalam persaingan sengit antara ketiga kekuatan tersebut.
Di bagian selatan Jianghu, terdapat sebuah wilayah bernama Sepuluh Ribu Gunung. Wilayah ini dipenuhi ribuan puncak gunung yang membentang luas di sepanjang daratan. Tempat itu dikenal sebagai wilayah terlarang.
Alasannya sederhana: tempat tersebut merupakan markas Demonic Cult.
Di tengah hutan lebat yang jauh dari kastel Demonic Cult, seorang anak laki-laki berusia belasan tahun sedang berlari mempertaruhkan nyawanya.
"UGH!"
Anak itu tampak kelelahan. Napasnya tersengal-sengal, pakaiannya robek, dan wajahnya dipenuhi memar. Jelas sekali bahwa sebelum melarikan diri, dia telah dihajar habis-habisan.
"Sialan!"
Dia meludah kesal ketika melihat lima pria bertopeng berdiri menghadang jalannya. Selama tiga puluh menit terakhir, dia sudah berlari sekuat tenaga, tetapi ternyata usahanya sia-sia. Dia tetap tidak berhasil melarikan diri.
"Brengsek!"
Kedua kakinya gemetar menahan kelelahan. Meski begitu, dia tetap menatap tajam kelima pria bertopeng tersebut.
Wajah mereka memang tertutup, tetapi seringai puas yang tersungging di balik topeng itu masih terlihat jelas.
"Kau sudah berusaha cukup keras sampai bisa berlari sejauh ini, Pangeran Cheon."
"Hahaha. Aku sampai hampir tertidur karena terlalu lama menunggumu."
Anak laki-laki itu mengernyitkan dahi.
Jika mereka memang sudah menunggunya di tempat ini, berarti dia telah berlari ke arah yang salah sejak awal.
Kelima pria bertopeng itu kemudian mencabut pedang yang tersimpan di punggung mereka. Tatapan mereka dipenuhi niat membunuh.
Apa yang harus kulakukan?
Mereka mengincar nyawanya. Sepertinya tidak ada gunanya mencoba berunding dengan orang-orang seperti mereka.
Dia sudah menghabiskan seluruh energi dalam tubuhnya untuk melarikan diri. Sekarang, dia bahkan tidak punya tenaga lagi untuk berlari ataupun bertarung.
Namun, meskipun kematian sudah berada di depan mata, tatapannya justru dipenuhi kemarahan, bukan ketakutan.
"...Kenapa? Aku sudah menyerah untuk masuk akademi. Kenapa kalian masih ingin membunuhku?"
"Pangeran... Anda tentu tahu bahwa semua itu tidak ada artinya."
Anak laki-laki itu terdiam.
Sejak kecil, dia sudah menduga bahwa hari seperti ini suatu saat akan tiba. Namun, dia tidak pernah menyangka bahwa semuanya akan terjadi bahkan sebelum dirinya sempat masuk akademi.
"Selama Anda masih memiliki hak atas takhta, inilah takdir Anda."
Pria bertopeng lainnya ikut menimpali.
"Menyerahlah. Kami akan mengakhiri semuanya dengan cepat."
"Meskipun darah Anda berasal dari rakyat jelata, kami tidak akan mencemari kehormatan darah Tuan kami."
Mendengar perkataan itu, kemarahan anak laki-laki tersebut semakin memuncak.
Ada satu hal yang paling dia benci: siapa pun yang menghina ibunya.
Dasar bajingan!
Jika memang harus mati, setidaknya dia akan melawan sampai akhir.
Dia mengeluarkan sebuah belati.
Sayangnya, dia tidak pernah mempelajari ilmu bela diri. Satu-satunya hal yang dia ketahui hanyalah gerakan-gerakan yang pernah diamatinya ketika melihat pengawalnya, Pendekar Jang, berlatih.
"Hmm? Belati? Apa kau mempelajari sesuatu dari Jang?"
Sayangnya, dia sama sekali tidak pernah mempelajarinya secara langsung. Padahal, jika saja dia benar-benar menguasai teknik tersebut, mungkin kemampuannya itu bisa sangat berguna dalam situasi seperti sekarang.
"Gerakanmu memang masih kasar. Namun, darah yang mengalir dalam dirimu sudah cukup membuktikan bahwa kau tidak akan gentar menghadapi kematian."
Para pria bertopeng itu tampak senang.
Bagi mereka, membunuh seseorang yang berani melawan sampai akhir jauh lebih memuaskan daripada membunuh seseorang yang hanya bisa memohon belas kasihan.
"Bunuh dia."
Salah seorang pria memberikan perintah. Empat orang lainnya langsung menyerang anak laki-laki itu secara bersamaan.
Awalnya, dia mengira setidaknya bisa menahan serangan mereka selama beberapa saat.
Namun, kenyataannya jauh berbeda.
"Haaaa!"
"ARGH!"
Salah seorang pria bertopeng mengayunkan pedangnya dan menghantam pergelangan tangan anak itu.
Belatinya terlepas dan jatuh ke tanah.
Wajah anak laki-laki itu meringis kesakitan. Dia menatap tajam pria yang menyerangnya, tetapi pria tersebut justru langsung mencengkeram lehernya.
"Argh..."
"Sudah selesai?"
Wajah anak itu mulai memerah karena kesulitan bernapas. Namun, sorot matanya masih menunjukkan bahwa dia belum menyerah.
Tiba-tiba, pria lain berteriak.
"Awas!"
"Apa?"
"Belatinya!"
Sebuah belati tiba-tiba menancap di dagu pria yang sedang mencekik anak tersebut.
Ternyata, anak laki-laki itu masih menyimpan satu belati lainnya. Serangan tak terduga itu langsung membunuh pria bertopeng tersebut.
Apa...? Anak kecil yang sama sekali tidak menguasai ilmu bela diri berhasil membunuh salah satu anak buahku?
Pemimpin kelompok pria bertopeng yang menyaksikan kejadian itu mulai tertarik.
Sepertinya, sejak awal anak tersebut memang sudah merencanakan serangan itu.
"Dasar bocah sialan! Tangkap dia!"
Pria lainnya langsung menerjang dan menendang anak laki-laki itu. Bersamaan dengan itu, dia mengayunkan pedangnya ke arah perut korban.
"AAAAAAAAARGH!"
Anak laki-laki itu belum pernah merasakan rasa sakit sehebat ini sepanjang hidupnya.
Rasa perih yang membakar menjalar dari perutnya. Darah bahkan menyembur keluar dari mulutnya.
Sialan... Jadi, cara itu tidak akan berhasil untuk kedua kalinya.
Namun, setidaknya dia merasa sedikit lega karena berhasil membunuh salah satu dari mereka.
Toh, dia memang akan mati.
"Aaaagh..."
Pria bertopeng itu kemudian menginjak luka tusukan di perut anak tersebut. Anak itu langsung menjerit kesakitan.
Darah mulai menggenangi tanah di sekitarnya.
Pria itu sebenarnya bisa langsung membunuhnya. Namun, sepertinya dia sengaja ingin membuat anak tersebut menderita selama mungkin.
"Pelan-pelan... Akan kubuat kau mati secara perlahan!"
Pemimpin kelompok itu sebenarnya tidak terlalu menyukai tindakan anak buahnya. Namun, dia juga tidak bisa menghentikannya karena pria tersebut sedang membalaskan dendam rekannya.
Tiba-tiba...
Cahaya terang menyilaukan muncul, seolah-olah petir baru saja menyambar tempat itu.
Ketika cahaya tersebut menghilang, para pria bertopeng langsung terbelalak kaget.
"A-Apa?!"
Darah menyembur ke udara seperti air mancur.
Pria bertopeng yang tadi menginjak tubuh anak laki-laki itu kini kehilangan seluruh bagian atas tubuhnya. Darah mengalir deras dari tubuhnya yang terpotong.
"A-Apa?!"
Anak laki-laki itu sendiri juga terkejut.
Jika penglihatannya tidak salah, sebuah kilatan cahaya putih telah menyambar pria tersebut hingga tubuhnya seolah-olah meleleh begitu saja.
"Dia! Itu dia!"
Pemimpin kelompok tersebut menunjuk ke arah tertentu dengan wajah terkejut.
Di sana terlihat seorang pria aneh dengan pakaian yang tidak biasa.
Namun, sesaat kemudian pria itu menghilang.
"Hah?"
Pria tersebut tidak menggunakan teknik gerakan apa pun. Dia seolah-olah berubah menjadi tidak terlihat.
Kilatan cahaya lainnya kembali menyambar dan membunuh seorang pria bertopeng.
Kini, hanya tersisa sang pemimpin dan satu anak buahnya.
Ada seseorang yang membantunya... Cahaya putih itu. Apakah itu sejenis sinar energi?
Jika bukan sinar energi yang konon hanya bisa digunakan oleh pendekar dengan kemampuan tingkat tinggi, tidak ada hal lain yang mampu melelehkan tubuh manusia dalam sekejap.
Sementara itu, anak laki-laki tersebut sudah kehilangan begitu banyak darah. Cepat atau lambat, dia pasti akan mati.
Kami sudah menyelesaikan tugas. Sebaiknya kita mundur.
Sang pemimpin mencoba memberi isyarat kepada anak buahnya agar segera mundur.
Namun, sebelum sempat melakukan apa pun, sebuah kilatan cahaya kembali menyambarnya.
Tubuhnya pun menghilang.
"AAAAARGH!"
Pria yang tersisa berteriak panik dan mencoba melarikan diri. Namun, dia juga tidak berhasil lolos. Kilatan cahaya itu kembali menyambarnya.
Pada akhirnya, seluruh pria bertopeng tersebut tewas.
Anak laki-laki itu tersenyum kecil dan terkekeh.
"Hah... Selamat tinggal, bajingan."
Tak lama kemudian, seorang pria dengan pakaian aneh muncul tepat di hadapannya.
Anak laki-laki itu sebenarnya ingin berteriak karena terkejut, tetapi tubuhnya sudah terlalu lemah untuk mengeluarkan suara.
"Wah. Jadi, leluhurku ternyata masih cukup kuat bahkan saat kau hampir mati?"
Leluhur?
Anak laki-laki itu mengernyitkan dahi.
Namun, dia sudah tidak punya tenaga untuk berbicara. Tubuhnya semakin terasa dingin karena terlalu banyak kehilangan darah.
Apa aku akan mati sekarang?
Saat itulah dia mendengar suara bunyi bip yang aneh.
Kemudian, matanya tertuju pada sesuatu yang terpasang di pergelangan tangan pria berpakaian perak tersebut.
Dia pun terkejut.
"Aku sebenarnya ingin datang lebih awal dan mengajarimu cara menggunakannya, tapi... sudahlah."
Pria itu mengambil dua benda dari sebuah tas kecil.
Salah satunya adalah sebuah alat suntik.
Anak laki-laki itu sudah berada di ambang kematian.
"Aku harus bergegas."
Pria tersebut kemudian menyuntikkan sesuatu ke bagian belakang telinga anak itu.
Setelah itu, dia mengambil alat suntik lainnya dan menusukkannya tepat ke jantung anak tersebut.
"Ugh... Melihatnya saja sudah membuatku ikut merasa sakit. Bagaimanapun juga... Hei, Leluhur."
Pria itu memanggil anak laki-laki tersebut.
"Tolong urus semuanya dengan baik dan buat kehidupan keturunanmu ini menjadi lebih mudah, ya? Nano machine ini adalah teknologi generasi terbaru, jadi seharusnya tidak terlalu sulit untuk digunakan."
Apa... yang sedang dia bicarakan...?
Setelah mengatakan itu, pria tersebut menghilang.
Tak lama kemudian, anak laki-laki itu mendengar suara aneh di telinganya.
[Nomor seri: 034-4532-5893.
Mengaktifkan Nano Machine generasi ke-7 milik Sky Corporation.
Memindai data fisik pengguna.
Pemindaian dimulai...]
Suara-suara aneh terus terdengar di telinganya. Cahaya misterius mulai memancar dari tubuhnya.
Rasanya seperti ada ribuan semut yang merayap di seluruh permukaan kulitnya.
Tak lama kemudian, suara itu kembali terdengar.
[Pemindaian selesai.
Darurat! Darurat!
Ditemukan luka serius pada bagian perut pengguna.
Kehilangan darah mencapai 13%.
Memulai injeksi darah dan proses penyembuhan untuk mempertahankan fungsi hidup.]
Tubuh anak laki-laki itu mulai mengalami perubahan.
Dan saat itulah, titik balik yang menentukan jalan hidupnya dimulai.