Chapter 238 – Variabel yang Tak Terduga
Ed Rosstaylor berlari menyusuri lorong lantai tiga Trix Building, sambil menahan rasa sakit dari lengannya yang terus berdarah.
Angin malam masuk melalui jendela-jendela yang telah pecah.
Di langit, bintang-bintang dan lingkaran sihir terlihat jelas melalui atap yang sudah setengah runtuh.
Di kejauhan, pertempuran antara
Velbroke
dan
Lucy Mayril
masih berlangsung.
Namun Ed tidak punya waktu untuk memikirkan itu.
Prioritasnya sekarang hanya satu:
bertahan hidup dari Sylvania.
Serangan Petir
Ed berusaha menuju bagian bangunan yang memiliki banyak puing dan dinding agar bisa memanfaatkan medan.
Namun lawannya adalah
Sylvania Robester.
Seorang penyihir yang membaca niatnya dengan mudah.
Mana tiba-tiba berkumpul dari bawah.
Ed langsung mengertakkan gigi.
Lalu—
BOOOOOOOM!
Petir raksasa turun dari langit.
Sihir tingkat tinggi: Lightning Punishment.
Sisa bangunan Trix Building langsung hancur lagi.
Kini bangunan itu tidak lebih dari sekumpulan puing.
Ed berlari di antara dinding yang tersisa, berusaha menghindari kehancuran.
Namun tiba-tiba—
WHOOSH
Sylvania muncul tepat di depannya.
Sihir ruang tingkat tinggi:
Space Leap.
Sihir yang biasanya membutuhkan mana luar biasa besar.
Namun bagi Sylvania—
itu hanya gerakan ringan.
Ia tertawa serak.
“Aku tidak tahu bagaimana kau menahannya sekali…”
“Tapi kedua kalinya akan sulit.”
Duel Jarak Dekat
Ed langsung menunduk dan menendang tongkat Sylvania.
Namun Sylvania tidak peduli.
Dua peluru sihir langsung menghantam bahunya.
Ed terlempar ke sudut lorong sambil menahan luka.
Ia tahu satu hal:
Aspect Magic tidak bisa dilawan dengan sihir biasa.
Satu-satunya cara melawannya—
adalah menggunakan Aspect Magic juga.
Namun jika ia diam saja—
Sylvania akan selesai mengucapkan mantra.
Jadi Ed memanggil roh.
Api berkobar.
Seekor kelelawar api muncul.
Itu adalah roh api:
Mug.
Roh itu langsung meluncurkan sihir api besar ke arah Sylvania.
Api besar menyapu lorong.
Namun Sylvania hanya mengayunkan tongkatnya.
Api itu langsung terpencar.
Lalu ia menunjuk Mug.
Sihir Aspect muncul.
Time Prison.
Dalam sekejap—
Mug membeku di udara.
Waktu roh itu berhenti total.
Jika sihir itu tidak dibatalkan, Mug akan tetap seperti itu selamanya.
Namun Ed sudah mendapatkan yang ia inginkan.
Sylvania kehilangan momentum.
Ed mengumpulkan mana.
Dan memanggil roh terkuatnya.
Kemunculan Merilda
Angin besar menyapu langit.
Dari badai itu muncul serigala raksasa.
Merilda.
Ia mengaum dan menatap Sylvania.
“Sylvania…”
Dulu mereka teman.
Namun Sylvania hanya memandangnya kosong.
“Oh.”
“Serigalanya besar.”
Tidak ada tanda pengakuan.
Merilda langsung mengumpulkan mana.
Namun—
CRASH!
Ice Spear raksasa menembus tubuhnya.
Merilda membelalakkan mata.
Ia bahkan tidak sempat merasakan aliran mana.
Sihir itu hanya Ice Spear tingkat menengah.
Namun di tangan Sylvania—
kekuatannya berubah menjadi sesuatu yang mengerikan.
Sylvania berkata datar.
“Sayang sekali.”
“Kalau kau manusia, kau sudah mati dengan nyaman.”
Serangan Balik Ed
Namun sihir sebesar itu tetap memakan mana.
Dan Ed tidak menyia-nyiakan kesempatan.
BOOM!
Ia meledakkan lantai dengan One Point Explosion.
Lalu melompat turun ke bawah.
Sylvania mengikutinya dengan santai.
Saat ia mendarat—
Ed muncul dari titik buta.
Belati di tangannya menusuk punggung Sylvania.
Namun—
CLANG!
Sihir pertahanan Sylvania memantulkan belati.
Sylvania langsung mencengkeram kerah Ed.
Mana besar mendorongnya ke tanah.
Ia menekan perut Ed dengan lutut.
Mata merahnya menatap Ed dari jarak sangat dekat.
Ia tertawa.
“Kau pikir bisa menang dalam pertarungan jarak dekat?”
“Hanya karena aku penyihir?”
Ia mulai berbicara seperti orang gila.
“Kau benar-benar luar biasa.”
“Dalam situasi seperti ini pun kau masih memikirkan strategi.”
Ia bahkan terlihat sedih.
“Sayang sekali.”
“Kalau dunia tidak seperti ini…”
“Kau bisa menjadi orang hebat.”
Lalu wajahnya berubah.
“Jadi aku akan membunuhmu.”
Trik Terakhir Ed
Ed menjawab pendek.
“Aku menolak.”
BOOM!
Dari dalam pakaiannya, sebuah bola kristal pecah.
Artefak:
Shock-Enhanced Wave Sphere.
Gelombang kejut besar meledak.
Pandangan Sylvania terganggu.
Ed langsung melempar debu ke matanya.
Sylvania mundur sambil menjerit.
Ia jelas tidak terbiasa dengan pertarungan kotor seperti ini.
Ed mengambil belatinya lagi.
Namun ritual roh tidak aktif.
Karena Mug masih terperangkap Time Prison.
Kesempatan itu sangat kecil.
Namun Ed tetap menyerang.
Sylvania menghindar secara refleks.
Tubuhnya menabrak pilar runtuh.
Belati di tangan Ed terlihat jelas.
Sylvania tiba-tiba berhenti.
Matanya membesar.
“Belati upacara keluarga Rosstaylor…”
“Jadi kau…”
“Ed Rosstaylor.”
Pengakuan Sylvania
Sylvania mulai berbicara dengan suara kacau.
Ia mencoba mengingat sesuatu.
“Aneh…”
“Ed Rosstaylor yang kulihat di masa depan…”
“Tidak seperti ini…”
Lalu ia tertawa.
“Aku mengerti.”
“Kau adalah produk kesalahan yang kulakukan dulu.”
Ed terdiam.
Sylvania menjelaskan.
Dulu—
ia mencoba melawan dunia.
Ia mencoba mencari harapan.
Dan saat itu—
ia memanggil Ed ke dunia ini.
Ed adalah korban dari eksperimen masa lalunya.
Sylvania mulai menangis.
“Aku minta maaf.”
“Kau pasti sangat menderita.”
“Jadi aku akan bertanggung jawab.”
“Aku akan membunuhmu.”
Instant Death Kedua
Aspect mana memenuhi area.
Sylvania mengaktifkan Instant Death lagi.
Ed mencoba bergerak.
Namun tubuhnya sudah tidak bisa.
Mana Aspect terlalu kuat.
Sylvania terus meminta maaf sambil menangis.
“Maaf…”
“Kau sudah menderita…”
Lalu—
ia mengepalkan tangannya.
Instant Death aktif.
Ed Rosstaylor mati.
Tubuhnya jatuh bersandar pada dinding.
Matanya tertutup seperti orang tertidur.
Penyesalan Sylvania
Sylvania menatap tubuh itu.
Roh-roh yang dipanggil Ed kembali menghilang.
Ia berbisik pelan.
“Maaf.”
“Jika hidup hanya penuh penderitaan…”
“lebih baik berakhir seperti ini.”
Ia teringat seorang murid lama.
Anak bernama Glokt.
Dulu ia bertanya:
“Apakah ada alasan untuk terus hidup?”
Sylvania tidak ingat jawabannya.
Namun samar-samar ia ingat berkata sambil tertawa:
“Jalani saja dulu hidupmu, brengsek.”
Kebangkitan Ed
Dan saat itulah—
SRAK!
Belati menusuk bahu Sylvania.
Ed Rosstaylor yang berlumuran darah berdiri di belakangnya.
Di lantai jatuh sebuah benda kecil.
Artefak berbentuk jam pasir.
Sylvania membelalakkan mata.
“Delheim… Hourglass…?”
Artefak alkimia legendaris.
Diciptakan oleh muridnya dulu:
Philona Bloomriver.
Artefak yang bisa menghindari kematian satu kali.
Sylvania bahkan tidak pernah melihat artefak itu selesai dibuat di masa depan yang ia lihat.
Ed menyembunyikannya sampai detik terakhir.
Ed Berdiri Lagi
Ed berdiri seperti mayat hidup.
Tubuhnya hampir hancur.
Namun matanya masih menyala.
Keinginannya untuk hidup—
tidak padam.
Ia berkata pelan.
“Aku paling benci orang sepertimu.”
“Kau pikir kau tahu masa depan.”
“Dulu aku juga begitu.”
Ia tertawa lemah.
Hidupnya tidak pernah berjalan sesuai rencana.
Namun ia tetap hidup.
Ia kehilangan banyak hal.
Ia juga mendapatkan banyak hal.
Ia menceritakan kehidupan di Aken Island.
Tentang kemahnya.
Tentang roh yang ia lindungi.
Tentang orang-orang yang ia bantu.
Tentang kehidupan yang tidak pernah ia rencanakan.
Lalu ia berkata:
“Hal sombong seperti itu…”
“hanya bisa dikatakan oleh orang yang sudah hidup.”
Serangan Terakhir
Sylvania marah.
Ia memanggil puluhan Ice Spear.
Serangan mematikan.
Namun sebelum mengenai Ed—
api raksasa muncul.
BOOOOM!
Sihir roh tingkat tinggi.
Fire Flower.
Api melelehkan semua Ice Spear.
Seseorang muncul di depan Ed.
Rambut merah muda berkibar.
Yenica Palover.
Ia memanggil roh angin raksasa Kallax.
Lalu memeluk Ed yang hampir mati.
Ia segera mundur menggunakan roh angin.
Roh-roh lain menutupi langit.
Sylvania mencoba mengejar.
Namun ledakan api Tarkan menutup pandangan.
Ketika asap menghilang—
Yenica sudah terbang jauh.
Ia membawa Ed pergi.
Sylvania Sendirian
Di reruntuhan Trix Building—
Sylvania berdiri sendirian.
Ia memegang bahunya yang terluka.
Pikirannya kacau.
Variabel di dunia ini semakin banyak.
Ia masih harus menyingkirkan mereka semua.
Ia menatap langit.
Velbroke masih mengamuk.
Lucy masih menahannya.
Sylvania menggertakkan gigi.
“Masih banyak yang harus dilakukan…”
Namun kegilaan yang perlahan menggerogoti pikirannya—
semakin kuat.