Chapter 250 — Bertahan Hidup
Lucy Mayril kini dikenal sebagai pahlawan Kekaisaran.
Ia menerima berbagai penghargaan dari keluarga kerajaan Emperor Cloel:
emas dan perak
harta karun
berbagai jabatan kehormatan
Namun ada satu hal yang tidak diberikan kepadanya:
gelar bangsawan dan wilayah kekuasaan.
Kaisar memahami sesuatu dengan jelas.
Memberikan gelar kepada Lucy justru akan menjadi belenggu bagi seorang jenius seperti dirinya.
Lucy tidak memiliki minat untuk memerintah wilayah atau mengelola politik.
Itu hanya akan menjadi beban yang sia-sia.
Pada akhirnya Lucy meninggalkan Sylvania Academy tanpa menerima gelar apa pun dan memilih tinggal di Rosstaylor Mansion.
Alasannya sederhana.
Dalam pertempuran terakhir, ia telah menghabiskan beberapa tahun cadangan mana miliknya.
Untuk sementara waktu—
Lucy hanyalah gadis biasa tanpa kekuatan sihir.
Ia membutuhkan perlindungan resmi selama beberapa tahun.
Semua hadiah yang ia terima dari kerajaan bahkan diserahkan kepada keluarga Rosstaylor.
Sejak itu Lucy menjalani hari-harinya di mansion, memulihkan kekuatannya perlahan.
Jika suatu hari kekuatannya pulih sepenuhnya—
wilayah Rosstaylor akan memiliki dua penjaga terkuat:
Yenica Palover
Lucy Mayril
Dua orang yang cukup untuk menjadikan wilayah itu tempat yang hampir tak tertembus.
Lucy vs Para Pelayan
Namun ada satu masalah yang tidak Lucy perkirakan.
Belle Maia.
Ed merekrut Belle untuk “mengurus” Lucy.
Dan Belle sangat serius menjalankan tugasnya.
Setiap hari Lucy mendengar kalimat yang sama:
“Nona Lucy, angkat cangkir dengan lebih anggun.”
“Nona Lucy, jangan menjatuhkan remah.”
“Nona Lucy, ujung gaun Anda menyentuh tanah.”
“Nona Lucy…”
“Nona Lucy…”
Lucy akhirnya duduk di meja teh dengan wajah pucat.
“…Tolong selamatkan aku.”
Traceyana memijat pelipisnya.
Sekarang ia mengerti maksud Belle ketika mengatakan “tanggung jawab.”
Belle bertekad menjadikan Lucy manusia yang beradab sebelum kekuatan sihirnya pulih.
Situasi yang Rumit
Namun sebenarnya ada alasan lain mengapa Lucy tetap tinggal di mansion.
Semua orang tahu satu hal.
Lucy Mayril menyukai Ed Rosstaylor.
Yenica menatap Lucy dengan hati-hati.
Lucy adalah kekhawatiran terbesar Yenica.
Ed memperlakukan Yenica dengan sangat istimewa.
Namun ia juga memperlakukan Lucy dengan perhatian yang sama.
Ketika pulang ke mansion, hal pertama yang dilakukan Ed adalah mengecek kondisi Lucy.
Lucy bahkan kadang duduk di pangkuannya atau memeluknya tanpa ragu.
Tak ada yang bisa menghentikannya.
Bahkan Tanya Rosstaylor tidak memperlakukannya sembarangan.
Traceyana hanya bisa berpikir dalam hati.
“Bagaimana bisa orang yang akan menjadi pembimbingku hidup di mansion dikelilingi banyak wanita seperti ini…?”
Jika dilihat dari luar—
situasinya benar-benar seperti pusat harem bangsawan.
Selain Yenica dan Lucy, ada banyak wanita lain yang sering datang:
Saint Clarice
Lortel Kecheln
Princess Selaha
Semua tokoh besar.
Traceyana langsung menyimpulkan sesuatu.
“Ed berjalan di jalan yang penuh duri.”
Kemunculan Tanya
Beberapa waktu kemudian Belle kembali.
Namun ia tidak membawa Tanya.
Ia tidak menemukannya.
Traceyana mulai bingung—
sampai Belle tiba-tiba mengangkat taplak meja.
Dan seseorang keluar dari bawah meja.
Itu adalah:
Tanya Rosstaylor.
Traceyana membeku.
Tanya berdiri dengan tenang seolah itu hal biasa.
“Terima kasih sudah datang jauh-jauh, Lady Traceyana.”
Traceyana masih bingung.
“…Sejak kapan Anda berada di bawah meja?”
“Menurutmu sejak kapan?”
Jawabannya jelas.
Sejak awal.
Traceyana akhirnya menyadari sesuatu.
Tidak ada satu pun orang normal di mansion ini.
Tanya duduk dan berkata santai.
“Aku hanya suka tempat gelap. Rasanya menenangkan.”
Belle berdehem pelan.
Isyarat halus:
Jaga wibawa Anda, Nona.
Tanya segera memperbaiki sikapnya.
Lalu menatap Traceyana dengan senyum kecil.
“Sepertinya Lady Traceyana sangat tertarik pada hubungan perempuan kakakku.”
Traceyana langsung merasa bersalah.
Ia tidak sadar bahwa Tanya sudah mendengar semuanya.
Namun Tanya tidak marah.
Ia hanya berkata dengan santai.
“Tidak perlu tegang. Orang-orang di meja ini bebas berbicara tanpa memikirkan statusku.”
Kemudian Tanya memberi kabar penting.
Ed tidak berada di mansion.
Ia sudah kembali ke Pulau Aken sejak dua hari lalu.
Traceyana langsung lemas.
Setelah perjalanan sejauh ini—
ia tetap harus kembali.
Dua Tahun Setelah Velbroke
Sementara itu di Hutan Utara Aken Island.
Ed Rosstaylor duduk di depan api unggun.
Tempat ini dulunya hanyalah gubuk kayu kecil yang ia bangun saat pertama kali dibuang dari Ofilis Hall.
Perlahan tempat itu berkembang.
Dari:
gubuk kecil
gudang kayu
kabin
hingga laboratorium pribadi
Ia menatap api unggun.
Ia berhasil bertahan hidup.
Dan bagi orang yang bertahan hidup—
selalu ada satu pertanyaan.
Bagaimana cara hidup setelahnya?
Dua tahun telah berlalu sejak kematian Velbroke.
Dunia masih terus berjalan.
Skenario permainan telah berakhir.
Namun dunia tidak berhenti.
Mungkin masa depan gelap yang dilihat Sylvania telah berubah.
Atau mungkin hanya tertunda.
Tidak ada cara untuk mengetahuinya.
Karena masa depan memang tidak pernah pasti.
Kunjungan Tak Terduga
Tiba-tiba seseorang muncul dari belakang.
Tailley McLaure.
Ed terkejut melihatnya.
Tailley duduk di seberang api unggun.
Lalu menunduk.
“Terima kasih.”
Ed terdiam.
Tailley melanjutkan.
“Ketika aku melihat kembali masa kuliahku… setiap momen penting selalu ada Senior Ed.”
Ed hanya menjawab santai.
“Tidak perlu dibesar-besarkan.”
Tailley hanya ingin melakukan satu hal sebelum lulus.
Mengucapkan terima kasih.
Setelah itu ia berdiri.
Ia akan lulus dan memulai perjalanan sebagai pahlawan bersama Ayla Tris.
Sebelum pergi, Ed berkata satu kalimat.
“Semangat.”
Tailley mengangguk.
Dan berjalan pergi.
Generasi Pahlawan
Generasi mereka lulus dari akademi.
Nama-nama besar lahir:
Tailley McLaure — Pembunuh Naga
Ayla Tris — Penerus Sage
Ziggs Eiffelstein — Pahlawan Stepa Utara
Clevious Nortondale — Master Pedang Darah
Elvira Anniston — Alkemis revolusioner
Fenia Elias Cloel — Calon Kaisar
Lortel Kecheln — Pewaris Elte Company
Dan di pulau yang sama—
Sylvania Academy tetap berdiri.
Menunggu generasi berikutnya.
Seleksi Mahasiswa Baru
Para calon mahasiswa berkumpul di pintu masuk Hutan Utara.
Seorang pemuda desa bernama Felim tampak gugup.
Tiba-tiba kerumunan berbisik.
“Ed Rosstaylor!”
Profesor Ed muncul di depan mereka.
Di belakangnya berdiri:
Traceyana Bloomriver.
Ed menatap semua calon mahasiswa.
Lalu berkata dengan tenang.
“Hanya setengah dari kalian yang bisa masuk Sylvania.”
Ia menjelaskan ujian mereka.
Menyeberangi hutan yang penuh ilusi monster.
Namun ia merangkum semuanya dalam satu kata.
Ed berkata singkat.
“Bertahan hidup.”
Itulah syarat terpenting di akademi ini.
Tamat
Surviving at the Academy — selesai.