Ch 1134 - Tekad Menjadi Immortal, Favoritisme Sang Creator Lord

Novel: Top Tier Providence, Secretly Cultivate For A Thousand Years

Chapter 1134 - Tekad Menjadi Immortal, Favoritisme Sang Creator Lord


Chu Xiaoqi langsung percaya begitu melihat aura Han Tuo. Sosok seperti itu jelas bukan kultivator biasa. Dia penuh harapan terhadap pelatihan pamannya…


Tapi kurang dari sehari—


dia sudah menyesal setengah mati.


Ini latihan apaan?!


Ini mah… dihajar tanpa ampun!


Di belakang villa.


Han Tuo membangun sebuah barrier sendiri. Ruang di dalamnya bahkan lebih luas dari seluruh dunia fana. Walaupun Chu Xiaoqi sempat kaget, dia sama sekali gak sadar seberapa absurd luasnya tempat itu.


Chu Xiaoqi tergeletak di reruntuhan, napasnya ngos-ngosan. Bajunya sudah compang-camping, tubuhnya penuh darah.


Kondisinya…


mengenaskan banget.


Dia menatap Han Tuo yang berdiri tinggi di atas, wajahnya penuh keputusasaan.


“Paman… bisa stop gak sih?”


“Aku bukan pamanmu. Kita musuh sekarang. Dalam pertarungan hidup dan mati, musuh gak akan kasih kamu waktu istirahat!”


“Tapi Spirit Qi-ku sudah habis…”


“Yang aku ajarkan adalah tetap bertarung bahkan saat Spirit Qi habis!”


BOOM—


Han Tuo menyerang lagi tanpa ampun.


Chu Xiaoqi langsung merinding.


Kalau gak menghindar…


bisa mati beneran.


Dengan sisa tenaga terakhir, dia paksa tubuhnya untuk bergerak.


Tujuh hari kemudian—


akhirnya Chu Xiaoqi keluar dari barrier.


Dengan tubuh babak belur, dia jalan sempoyongan mencari Han Jue.


Tang Wan langsung menutup mulut begitu melihatnya, shock… tapi gak berani komentar.


Soalnya yang ngajarin dia itu anak kandung Han Jue sendiri.


Harusnya… aman.


Chu Xiaoqi langsung nangis di depan Han Jue.


Sayangnya—


kali ini Han Jue gak luluh.


Seberapa pun dia memohon…


tetap ditolak.


Chu Xiaoqi cuma bisa pergi dengan putus asa.


Tak lama kemudian, Han Tuo datang menemui Han Jue dengan sikap hormat.


Dia jelas beda dengan Chu Xiaoqi. Menghadapi Han Jue, dia tetap menjaga jarak.


Dia tahu… seberapa mengerikannya ayahnya.


Tanpa basa-basi—


Han Jue langsung mulai mengajarkan Dao.


Ngobrol santai? Gak perlu.


Dibanding basa-basi, mending langsung upgrade pemahaman Dao.


Han Jue bahkan menggunakan kekuatan waktu, membuat sesi ini terlepas dari aliran waktu normal.


Di luar mungkin cuma beberapa hari…


tapi di dalam, Han Tuo sudah menyelesaikan satu sesi Dao lecture penuh.


Setelah itu—


Han Tuo kembali mencari Chu Xiaoqi.


Tanpa peduli penolakan, dia langsung nyeret bocah itu masuk ke barrier lagi.


Tang Wan jadi khawatir, akhirnya dia menemui Han Jue.


Tapi setelah sadar gak bisa mengubah keputusan ini…


dia cuma bisa menyerah.


Kali ini, Chu Xiaoqi tinggal lebih lama di dalam barrier.


Lebih tepatnya—


dipaksa tinggal.


Suatu hari—


Xing Hongxuan kembali.


Begitu masuk, dia langsung nyelonong ke pelukan Han Jue, manja kayak Chu Xiaoqi versi upgrade.


Dia mulai cerita panjang lebar tentang pengalaman yang dia alami selama ini.


Han Jue mendengarkan dengan sabar.


Di akhir cerita, Xing Hongxuan bertanya tentang rencana Han Jue terhadap Chu Xiaoqi.


Sampai memanggil Han Tuo…


itu sudah bukti kalau Han Jue sangat memperhatikan bocah itu.


Apalagi Chu Xiaoqi satu-satunya cucunya.


Han Jue tersenyum. “Dia punya potensi jadi Primordial Fiendcelestial.”


Xing Hongxuan langsung kaget sekaligus senang. “Kamu gak mau kasih tahu Huang’er soal ini?”


“Gak perlu. Bocah itu lagi sibuk membangun Primordial Chaos-nya sendiri. Lagipula… mungkin dia juga gak terlalu peduli dengan anak ini.”


“Tapi kalau begitu, hubungan ayah-anak mereka nanti…”


“Huang’er juga perlu ‘diperbaiki’,” kata Han Jue dengan nada bermakna.


Kalau dia membesarkan keturunan lain sampai melampaui Han Huang…


yang ada Han Huang cuma bakal ngambek.


Tapi kalau yang melampaui dia itu anak yang dia sendiri merasa bersalah terhadapnya…


itu cerita lain.


Xing Hongxuan tersenyum. “Menurutku sih kamu cuma memanjakan Xiaoqi. Gak masuk akal banget.”


“Ya memang. Aku memanjakan dia. Sebagai master dari Endless Era, emangnya aku perlu khawatir kalau mau manjain seseorang?”


“Iya iya, kamu paling hebat.”


Xing Hongxuan lalu berkata, “Aku mau bawa Tang Wan pergi. Potensinya terlalu rendah. Nanti juga dia gak bakal bisa ngimbangin Xiaoqi.”


Han Jue mengangguk. “Baik. Nanti aku suruh dia pamitan setelah Xiaoqi keluar. Sekalian aku pancing bocah itu biar lebih giat.”


“Kamu ini… licik juga ya.”


Xing Hongxuan malah jadi tertarik melihat reaksi Chu Xiaoqi nanti.


Hari itu—


dia menemui Tang Wan dan menunjukkan sebagian kekuatannya.


Tang Wan langsung terkejut dan dengan senang hati mengakui Xing Hongxuan sebagai gurunya.


Tapi ketika dia diajak pergi…


dan harus berpisah lama dengan Chu Xiaoqi—


dia langsung panik.


Sejak kakaknya meninggal…


Chu Xiaoqi adalah satu-satunya keluarganya.


Ditambah lagi, dia selalu melindunginya.


Gimana mungkin dia ninggalin dia demi kesempatan?


“Lupakan saja… aku gak bisa pergi.”


Tang Wan menghela napas, tapi matanya tegas.


Demi cinta…


dia rela melepaskan umur panjang.


Itu bukan keputusan ringan.


Dia juga sadar—


di mata Han Jue, yang penting cuma Chu Xiaoqi.


Dia… cuma figuran.


Xing Hongxuan tersenyum. “Kultivator bisa hidup ribuan bahkan puluhan ribu tahun. Kalau jarak kultivasi kalian makin jauh… cepat atau lambat kamu bakal tertinggal.”


Dia melambaikan tangan—


sebuah memori langsung masuk ke pikiran Tang Wan.


Sebuah kuil Dao.


Versi tua dirinya terbaring di ranjang, menunggu ajal.


Di sampingnya—


Chu Xiaoqi berdiri.


Masih muda. Bahkan lebih tampan.


Perbedaan hidup dan mati.


Memori itu sangat singkat.


Tanpa kata-kata.


Tapi… lebih menyakitkan dari seribu kalimat.


Tang Wan tersentak sadar, keringat dingin mengucur di dahinya.


Setelah pergulatan panjang…


akhirnya dia setuju.


Dia mengikuti Xing Hongxuan untuk berkultivasi.


Setengah tahun kemudian—


Chu Xiaoqi akhirnya keluar dari barrier.


Kali ini…


auranya berubah total.


Seperti pedang yang baru keluar dari sarungnya—


tajam.


Berbahaya.


Tapi kali ini dia tidak mencari Han Jue.


Dia langsung menuju rumah Tang Wan.


Namun—


yang dia temukan hanya sebuah jade slip.


Begitu dia memasukkan Spirit Qi—


muncul bayangan Tang Wan.


“Brother Xiaoqi… saat kamu melihat ini, aku sudah pergi.”


“Aku mendapat kesempatan dari seorang Immortal. Dia ingin membawaku ke Immortal World untuk berkultivasi.”


“Sebenarnya… aku selalu menyukaimu. Tapi sepertinya… kamu tidak cukup menyukaiku.”


“Aku awalnya gak mau pergi… tapi aku melihat masa depan.”


“Tanpa kesempatan… aku gak akan bisa mengimbangimu. Kamu akan tetap muda saat aku mati.”


“Aku gak mau itu.”


“Aku ingin berjalan berdampingan denganmu.”


Mata Tang Wan di bayangan itu mulai memerah.


“Aku harus kultivasi… harus menyusulmu.”


“Tapi satu penyesalanku…”


“Aku gak tahu… apakah kamu benar-benar menyukaiku.”


“Kakek bilang kita berjodoh… tapi apakah benar begitu?”


“Brother Xiaoqi… sampai jumpa di masa depan.”


“Kita pasti akan bertemu lagi… selama kamu tidak melupakanku.”


Bayangan itu menghilang.


Chu Xiaoqi berdiri diam di depan meja.


Tanpa suara.


Hari berlalu…


dia tetap tidak keluar dari kamar Tang Wan.


Di sisi lain—


Han Tuo duduk di tepi tebing, pikirannya melayang.


Dia juga teringat wanita terpenting dalam hidupnya.


Orang itu…


sudah lama mati.


Sekarang hanya tinggal kenangan.


Dia sebenarnya bisa menghidupkannya kembali.


Tapi…


itu hanya akan jadi cangkang.


Bukan dia yang sebenarnya.


Ada beberapa orang…


yang memang seharusnya tetap tinggal dalam kenangan.


Setengah bulan kemudian—


Chu Xiaoqi akhirnya keluar.


Dia tidak mencari Han Jue.


Tidak bertanya soal Immortal yang membawa Tang Wan.


Dia langsung mencari Han Tuo.


Dan melanjutkan kultivasi.


Mereka kembali masuk ke dalam barrier.


Han Jue keluar dari rumah, berdiri di halaman sambil menikmati sinar matahari.


Dia tersenyum.


Lagi santai…


dia stretching sebentar, lalu cek “email”-nya.


Dan tak lama—


dia menemukan sesuatu yang menarik.


[Muridmu Ji Xianshen telah menyeberangi Origin Space-time. karmanya telah terputus.]

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .
Tekan ▶ untuk mulai membaca
0% 100%