Chapter 1136 - Menciptakan Obsession


Chu Xiaoqi duduk di tepi tebing dengan mata melotot.


Otaknya masih belum nyambung.


Ascension-nya…


dihentikan?!


Dia bahkan sudah membayangkan momen bertemu Tang Wan…


Eh, malah ditarik paksa balik sama kakeknya.


Ini…


absurd banget.


Kakeknya juga Immortal.


Harusnya bisa ke Immortal World kapan saja.


Terus kenapa dia malah dicegah?


Untuk pertama kalinya—


Chu Xiaoqi merasa tidak puas dengan Han Jue.


Dia marah.


Dan memilih menjauh.


Han Jue jelas tahu isi kepalanya.


Tapi…


dia santai saja.


Tidak menjelaskan apa pun.


Dia hanya menunggu—


sampai Chu Xiaoqi sendiri datang.


Beberapa hari kemudian—


akhirnya Chu Xiaoqi muncul.


Dia duduk di depan Han Jue dengan wajah cemberut, tangan bersilang.


Aura ngambek level maksimal.


Han Jue?


Cuekin.


Mata masih terpejam.


“KEKEK!”


Chu Xiaoqi akhirnya gak tahan.


Tapi Han Jue tetap diam.


Emosinya langsung meledak.


Tiba-tiba—


dia rebahan di tanah dan mulai teriak-teriak.


Drama mode ON.


Kalau Han Tuo lihat ini…


mungkin sudah langsung mental break.


Han Jue akhirnya buka suara.


“Kamu benar-benar ingin bertemu dia?”


Chu Xiaoqi langsung bangkit. “Kalau aku gak pergi, dia bisa direbut orang lain! Aku percaya diri bisa merebutnya kembali… tapi aku gak mau jadi korban NTR!”


Han Jue hampir ngakak.


“Tenang saja. Dia tidak akan bersama orang lain.”


“Kenapa?”


“Kamu sendiri tidak percaya diri? Kenapa kamu tidak percaya padanya?”


“Tapi…”


“Xiaoqi.”


Nada Han Jue berubah lebih serius.


“Di dunia ini tidak ada obat penyesalan.”


“Sekali kehilangan… kamu harus siap menanggung akibatnya.”


“Kalau kamu naik ke Immortal World sekarang, kamu hanya akan jadi yang paling bawah.”


“Bagaimana kamu bisa menarik perhatiannya… ketika dia sudah berubah?”


Chu Xiaoqi terdiam.


“I…”


“Kalau kamu belum bisa membuatnya tertarik… kenapa tidak memilih untuk percaya?”


“Aku percaya… dia belum berubah.”


“Yang harus kamu lakukan adalah menjadi lebih kuat.”


“Cukup kuat… untuk mengubah segalanya.”


Chu Xiaoqi tenggelam dalam pikirannya.


Han Jue tersenyum tipis.


“Seumur hidupku, aku tidak pernah mengambil risiko demi wanita.”


“Jalan kultivasi adalah jalan diri sendiri.”


“Hanya ketika kamu cukup kuat… kamu punya hak untuk melindungi segalanya.”


Chu Xiaoqi menarik napas dalam-dalam.


“Aku mengerti…”


Dia menunduk.


“Maaf, Kek. Aku terlalu pendek pikir.”


Lalu dia mengangkat kepala.


“Kalau begitu… kapan aku boleh naik?”


“Ditunggu saja. Bisa cepat… bisa lama.”


Han Jue kembali menutup mata.


Chu Xiaoqi diam sejenak, lalu bangkit dan pergi.


Kali ini—


dia benar-benar berubah.


Dia kultivasi tanpa henti.


Setiap hari.


Tanpa jeda.


Tanpa drama.


Waktu terus berjalan.


Bagi Chu Xiaoqi—


hidup terasa panjang.


Tapi bagi Endless Era—


semuanya berjalan lambat.


Di blank domain.


Heavenly Court berdiri di atas puluhan dunia, memancarkan cahaya ilahi tanpa batas.


Di Imperial Garden—


Evil Heavenly Emperor dan Han Tuo sedang minum sambil ngobrol santai.


“Yang Mulia sekarang makin santai saja,” kata Han Tuo sambil tersenyum.


Evil Heavenly Emperor ikut tersenyum. “Kamu juga. Dulu jarang sekali mampir.”


Han Tuo menggeleng. “Dulu aku terlalu terobsesi… sampai banyak hal terabaikan.”


“Sekarang setelah aku melepaskan semuanya…”


“Rasanya… jadi yang terkuat itu tidak terlalu penting lagi.”


Evil Heavenly Emperor langsung nyeletuk santai:


“Wajar sih. Soalnya kamu gak bakal bisa ngejar ayahmu.”


Han Tuo langsung melirik tajam.


Ngobrol kok nyakitin.


Evil Heavenly Emperor lanjut, “Ngomong-ngomong… kamu tahu Chen Jue?”


“Tahu. Keturunan keluarga Han. Bakatnya paling gila belakangan ini.”


“Aku mau rekrut dia. Mau bantu ngomong?”


Han Tuo mengangkat bahu. “Dia gak gabung ke faksi besar mana pun. Cuma dilindungi diam-diam sama Ling’er. Kenapa gak langsung undang saja?”


“Sudah. Dia meremehkan Immortal…”


Evil Heavenly Emperor tampak pasrah.


Chen Jue ini…


karakternya mirip banget dengan “seseorang”.


Walau cuma mirip luar dan sikapnya saja.


Han Tuo santai. “Ya sudah. Aku juga gak bisa paksa takdir keturunanku.”


Evil Heavenly Emperor menghela napas panjang.


Suasana mendadak mellow.


Han Tuo?


Bodo amat.


Topik langsung diganti.


Tiba-tiba—


Evil Heavenly Emperor bertanya, “Ngomong-ngomong… kenapa kamu pernah turun ke dunia fana?”


Sebagai Great Dao Supreme—


dia bisa merasakan pergerakan Han Tuo.


Tapi tidak bisa mengetahui apa yang dia lakukan.


Han Tuo tersenyum tipis.


“Itu… tidak bisa dibicarakan.”


“Masalah penting.”


“Yang Mulia, Endless Era ini kelihatannya damai…”


“Padahal arus bawahnya kuat.”


“Heavenly Court itu netral.”


“Jangan sampai salah pilih pihak.”


Heavenly Court—


fondasinya masih lemah.


Kalau salah langkah…


bisa hancur.


Tentu saja—


Han Tuo cuma “menakut-nakuti”.


Dia tahu Han Jue punya rencana besar terhadap Chu Xiaoqi.


Dia tidak ingin mengganggunya.


Dia memang tidak bisa membaca pikirannya Han Jue…


tapi jelas—


semua ini bukan kebetulan.


Evil Heavenly Emperor terdiam.


Beberapa jam kemudian—


Han Tuo pergi.


Senyumnya hilang.


Tatapannya menjadi serius.


Dia menatap dunia fana tempat Han Tuo tadi turun.


“Dao Mystic Realm…”


Dia memutar gelas anggurnya perlahan.


Zaman sudah berubah.


Yang dulu selamat dari Great Dao Immeasurable Calamity…


sekarang semua punya ambisi yang sama.


Menjadi Dao Creator.


Hanya dengan menjadi Dao Creator—


seseorang bisa benar-benar abadi.


Bisa menentukan mana realita… mana ilusi.


Evil Heavenly Emperor…


juga ingin mencapai itu.


Dan dia tahu—


Heavenly Court saja tidak cukup.


Waktu berlalu cepat.


Seribu tahun berlalu di dunia fana.


Dinasti berganti.


Dunia berubah.


Tapi para kultivator di pegunungan…


tetap tidak peduli.


Chu Xiaoqi adalah salah satunya.


Setelah seribu tahun—


dia mencapai Grand Unity Heaven Immortal Realm.


Di mata Han Jue?


Lambat.


Di standar Immortal World?


Cepat banget.


Suatu hari—


Han Jue memanggilnya.


Chu Xiaoqi duduk santai di depannya.


Tidak lagi drama.


Tidak lagi manja.


“Kenapa, Kek?”


Dia tersenyum.


Wajahnya sekarang sudah matang.


Tampan.


Berwibawa.


Han Jue merasa…


bangga.


Bagaimanapun—


dia yang membesarkan anak ini.


Han Jue tersenyum.


“Kamu sekarang… bisa naik.”


Mata Chu Xiaoqi langsung membesar.


Napasnya jadi cepat.


“Kakek ikut?”


Han Jue menggeleng pelan.


“Tidak. Kamu jalan sendiri.”


Chu Xiaoqi langsung diam.


Beberapa detik…


lalu dia berkata:


“Aku gak jadi pergi.”


Han Jue sedikit terkejut.


“Kenapa? Kamu gak kangen Wan’er?”


Chu Xiaoqi tersenyum tipis.


“Setiap orang punya jalan hidup.”


“Kalau dia masih peduli padaku… dia pasti akan mencariku.”


“Aku tidak berutang apa pun padanya.”


“Tapi aku…”


berhenti sejenak.


“…berutang segalanya padamu.”


Dia menatap Han Jue dengan penuh rasa terima kasih.


Kalau bukan karena kakeknya—


dia sudah mati di bawah tebing.


Tidak akan pernah bertemu Tang Wan.


Tidak akan pernah masuk jalan kultivasi.


Selama ini—


dia belum pernah benar-benar berbakti.


Dia membayangkan—


kalau dia pergi…


Han Jue akan tetap sendirian di lembah ini.


Menikmati kesunyian waktu.


Dan entah kenapa—


itu membuat hatinya sesak.


Dari awal sampai sekarang—


semua kenangan muncul kembali.


Dari awal…


sampai sekarang…


Orang yang selalu ada di sisinya…


selalu…


adalah kakeknya.

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .
Tekan ▶ untuk mulai membaca
0% 100%