Han Jue langsung memakai Heavenly Dao Token untuk melihat retakan di langit.
Dari sudut pandang Heavenly Dao…
Seluruh dunia sebenarnya seperti ruangan besar yang disegel.
Sekarang?
Segelnya sobek.
Kayak bungkus snack yang dibuka pakai gigi.
Bedanya…
Ini bukan snack.
Ini dunia.
Sebagai dewa penjaga dunia fana, Han Jue langsung merasakan satu hal:
Bahaya.
Satu kata muncul di kepalanya.
“Invasi.”
Han Jue hampir saja bergerak.
Tapi tiba-tiba—
Swoosh!
White-Robed Buddha muncul di depan retakan.
Han Jue berkedip.
“Eh?”
White-Robed Buddha juga terlihat kaget.
Dia mengangkat tangan, mencoba menutup retakan dengan Dharmic power.
Tapi tiba-tiba—
WHOOSH!
Angin hitam keluar dari retakan.
Aura yang keluar cukup bikin bulu kuduk berdiri.
White-Robed Buddha langsung mengeluarkan Tathagata Buddha Staff.
Serius mode.
Lalu…
Sebuah sosok keluar perlahan dari retakan.
Tinggi: seribu kaki.
Memakai jubah hitam dengan sembilan naga.
Mahkota dari tulang bertanduk.
Di tangannya ada sabit panjang yang kelihatan sangat tidak ramah.
Dia tersenyum.
Senyum tipe:
“Aku villain dan aku bangga.”
Dia menatap White-Robed Buddha.
Lalu berkata dengan santai,
“Dunia ini… milikku.”
White-Robed Buddha mengernyit.
Dia sudah lama tinggal di Scarlet Cloud World.
Sudah ceramah.
Sudah kumpulin follower.
Providence-nya sudah terikat ke dunia ini.
Kalau dunia ini dihancurkan…
Influencer-nya juga ikut tamat.
Jadi tanpa banyak basa-basi—
BOOM!
White-Robed Buddha langsung memukul dengan tongkatnya.
Pria berjubah hitam bahkan belum sempat bereaksi.
Langsung terpental.
Masuk lagi ke retakan.
White-Robed Buddha menyusul.
Han Jue yang menonton dari jauh mengangguk puas.
“Lumayan juga.”
“Tool yang bagus.”
Sekarang providence White-Robed Buddha sudah terhubung dengan Scarlet Cloud World.
Han Jue = penjaga dunia.
White-Robed Buddha = penjaga follower.
Artinya?
Mereka sekarang sekubu secara tidak resmi.
Beberapa hari kemudian.
White-Robed Buddha keluar lagi dari retakan.
Aura membunuhnya masih tebal.
Seperti orang habis berantem di parkiran mall.
Dia langsung memperbaiki retakan langit.
Butuh lebih dari sepuluh hari.
Akhirnya selesai.
White-Robed Buddha menghela napas lega.
Baru kemudian dia sadar sesuatu.
“Tunggu…”
“Kenapa Han Jue tidak muncul?”
Han Jue Menghubungi Heavenly Court
Setelah semuanya tenang, Han Jue menghubungi Di Taibai.
“Apa yang barusan terjadi?”
Di Taibai menjelaskan.
“Dunia fana juga punya kompetisi.”
“Heavenly Court, Divine Palace, Buddhist Sect, dan Demon Court punya aturan.”
“Dunia fana boleh bertarung bebas.”
“Tapi Immortal Emperor tidak boleh ikut campur.”
Han Jue mengerutkan kening.
“Sejak kapan ada aturan ini?”
Di Taibai menjawab santai.
“Dulu Scarlet Cloud World terlalu lemah.”
“Tidak ada yang peduli.”
Terjemahan bebasnya:
Dulu dunia kamu nggak penting.
Sekarang baru dianggap.
Han Jue langsung paham.
Heavenly Court sedang memakai dia sebagai…
Tombak.
Scarlet Cloud World dinaikkan providence-nya.
Supaya jadi arena perang dunia fana.
Dan Han Jue?
Boss dungeon-nya.
Pantas saja Heavenly Emperor membiarkan White-Robed Buddha tinggal.
Ini semua sudah direncanakan dari awal.
Han Jue menghela napas.
“Sepertinya… aku tidak bisa terlalu santai lagi.”
Ganti Nama Dunia
Han Jue melihat Heavenly Dao Tablet.
Scarlet Cloud World sekarang secara karmic sudah terkait dengannya.
Kalau begitu…
Sekalian saja.
Dia ganti nama dunia.
“Scarlet Cloud World?”
Terlalu puitis.
“Earth Immortal World?”
Tidak.
Nama itu terlalu berat karmanya.
Han Jue berpikir sebentar.
Lalu tersenyum.
“Reroll World.”
Sederhana.
Masuk akal.
Karena hidupnya memang dimulai dari reroll providence.
Lagipula…
Nama dunia juga bisa diganti.
Mirip username game online.
Kalau nanti cringe?
Tinggal ganti.
White-Robed Buddha Jadi Security
Empat puluh tahun berlalu.
Han Jue belum breakthrough.
Jadi dia kembali ke kegiatan favoritnya:
Ngutuk orang.
Sambil membaca laporan dunia.
Selama beberapa tahun terakhir…
Ada tiga invasi lagi.
Semuanya dihentikan oleh White-Robed Buddha.
Biksu itu mulai kelelahan.
Jadi dia menyebarkan kabar:
“Dunia ini sedang jadi target.”
Para cultivator langsung panik.
Semua Holy Land mulai rekrut murid besar-besaran.
Tujuannya satu:
Naikkan kekuatan dunia.
Han Jue melihat semua ini lewat Heavenly Dao Token.
Dia tersenyum puas.
White-Robed Buddha benar-benar…
Tool yang berkualitas.
Li Yao Dalam Bahaya
Beberapa hari kemudian.
Dao Comprehension Sword tiba-tiba berkata,
“Master, Li Yao kena masalah.”
Han Jue masih duduk meditasi.
“Masalah apa?”
“Dia… ditangkap.”
Han Jue akhirnya membuka mata.
Divine sense langsung masuk ke Nine Heavens Galaxy Water.
Dia melihat Li Yao.
Terkurung dalam botol giok.
Gelap.
Ada air di dalamnya.
Dia mencoba menghancurkan segel.
Gagal.
Di luar botol…
Ada seorang Grand Unity Golden Immortal.
Bagi Li Yao yang baru Grand Unity True Immortal…
Itu seperti bos raid level 999.
Pria itu tertawa sinis.
“Berhenti melawan.”
“Kalau sudah aku incar, kamu tidak bisa kabur.”
Tiba-tiba—
Dia berhenti.
“Siapa?!”
Dia merasakan divine sense Han Jue.
“Kalau berani, muncul!”
Han Jue berkata santai.
“Fellow Daoist, beri aku muka.”
“Biarkan dia hidup.”
Pria itu mendengus.
“Siapa kamu?”
“Sebutin namamu!”
Han Jue berpikir sebentar.
Lalu berkata:
“Divine Palace. Yu Tianbao.”
Pria itu langsung tertawa.
“Yu Tianbao?”
“Jangan kira aku idiot.”
“Kalau kamu Yu Tianbao, kamu sudah muncul.”
Han Jue menjawab santai.
“Aku sedang di Divine Palace.”
“Tidak convenient bertarung.”
“Kalau bisa menghindari musuh, lebih baik.”
Pria itu mencibir.
“Divine Palace?”
“Aku dari Demon Court!”
“Mau selamatkan dia?”
“Datang sendiri!”
Lalu dia berkata dengan nada sombong:
“Aku pasti membawa gadis ini.”
“Bahkan Heavenly Emperor tidak bisa mengambilnya dariku!”
Han Jue dalam hati:
Ini orang… percaya diri sekali.
Dia tidak menjawab lagi.
Malas.
Sebaliknya, dia mengirim voice transmission ke Li Yao.
“Aku akan mengajarimu Mystical Power.”
“Mulai belajar sekarang.”
Li Yao bingung.
Tapi tetap duduk meditasi.
Mendengarkan dengan serius.
Pria dari Demon Court tertawa.
“Tsk tsk.”
“Bagus.”
“Kultivasi yang rajin.”
“Semakin kuat kamu, semakin berguna untukku.”
“Kalau ikut aku, masa depanmu cerah.”
“Lihat kan orang tadi? Dia bahkan tidak berani melawanku!”
Li Yao tidak menjawab.
Dia sudah masuk meditasi penuh.
Han Jue juga tidak menjawab.
Dalam hati dia berkata pelan:
“Terus saja sombong.”
“Nanti kalau aku muncul…”
“Jangan sampai kamu langsung sujud minta ampun.”