Chapter 874 - Masa Lalu


Begitu masuk ke kuil Dao, Han Jue melihat Xing Hongxuan masih bermeditasi.


Qingluan’er agak gugup.


Sementara Han Qing’er?


Tenang.


Bahkan menatap Xing Hongxuan tanpa rasa takut.


Xing Hongxuan membuka mata.


Melihat mereka bertiga—


Dia langsung berdiri dan menyambut dengan senyum hangat.


“Kamu pasti Sister Qingluan’er, ya?”


Setahun sebelumnya, Han Jue sudah memberi tahu lewat voice transmission, jadi dia sudah siap.


Qingluan’er langsung merasa lega melihat sikapnya.


Dua wanita itu langsung ngobrol akrab.


Cepat banget nyambung.


Xing Hongxuan lalu melirik Han Qing’er di belakang Han Jue.


Dia tersenyum lembut.


“Qing’er, panggil aku Eldest Mother.”


Han Qing’er memiringkan kepala.


Wajahnya polos.


“Apa itu Eldest Mother? Bukannya ibu cuma satu?”



Han Jue hampir ketawa.


Xing Hongxuan menggendongnya.


“Karena aku dan ibumu sama-sama istri ayahmu, jadi aku juga bisa dianggap ibumu.”


Qingluan’er diam-diam berpikir.


Eldest Mother?


Berarti Xing Hongxuan sudah bersama Han Jue lebih dulu?


Dia langsung teringat masa lalu Han Jue yang misterius.


Kemungkinan besar…


Xing Hongxuan sudah ikut dia sejak dulu.


Tapi dia tidak bertanya.


Masih banyak waktu nanti.


Yang jelas—


Dia tidak cemburu.


Malah ramah.


Bahkan langsung akrab dengan Xing Hongxuan dan putrinya.



Setelah lama mengobrol—


Qingluan’er bertanya penasaran,


“Anakmu di mana? Bukannya suamiku bilang kamu juga punya anak?”


Xing Hongxuan tersenyum sambil menyentuh perutnya.


“Di sini. Belum lahir.”


Qingluan’er langsung bengong.


“Belum… lahir?”


Dia refleks menoleh ke Han Jue.


Han Jue menjelaskan santai,


“Anak ini agak spesial. Sudah dikandung sangat lama tapi belum lahir. Tapi kalau dihitung dari waktu dikandung, dia memang kakaknya Qing’er.”


“Apa?! Kakak?! Masih di dalam perut?!”


Han Qing’er langsung protes.


“Aku mau jadi kakak! Aku mau jadi kakak!”


Dia bahkan mengulurkan tangan, penasaran menyentuh perut Xing Hongxuan.


Xing Hongxuan tersenyum licik.


“Kalau jadi kakak, kamu harus menjaga adikmu, mengalah terus. Tapi kalau jadi adik, kakakmu yang harus menjaga kamu. Mau jadi kakak atau adik?”


Han Qing’er berpikir sebentar.


Serius banget.


Lalu jawab—


“Kalau begitu… aku jadi adik saja.”


Qingluan’er langsung tertawa.


Xing Hongxuan mencubit hidungnya.


“Pintar juga ya Qing’er kita.”


“Jelas! Aku paling pintar!”


Han Qing’er langsung sombong kecil 😆


Han Jue cuma berdiri di samping.


Senyum.


Ini momen keluarga yang jarang banget dia nikmati.



Dua jam kemudian—


Mereka pergi.


Han Jue membawa Qingluan’er dan Han Qing’er ke kuil Dao Xuan Qingjun.


Berbeda dengan Xing Hongxuan—


Xuan Qingjun sudah menunggu.


Dia memang lebih kalem, tapi tetap membuat Qingluan’er merasa nyaman.


Bahkan—


Dia memberi Qingluan’er sebuah Dharma treasure.


Namun sebelum pergi—


Han Jue menangkap tatapan Xuan Qingjun.


Maknanya jelas.


Dia juga ingin anak.


(Sinyal keras itu 😏)


Han Jue hanya bisa menghiburnya lewat voice transmission sebelum pergi.


Lalu—


Dia menggunakan kehendaknya.


Tubuhnya diganti.


Dan langsung membawa Qingluan’er dan Han Qing’er ke Immortal World.



Mereka muncul di sebuah kota manusia.


Qingluan’er terdiam.


Menatap orang-orang yang lalu lalang.


Matanya berkaca-kaca.


Sudah terlalu lama.


Lima juta tahun.


Semua yang dia kenal…


Sudah jadi debu.


Han Qing’er?


Super excited.


Lari sana sini.


Teriak-teriak.


Han Jue membawa mereka berkeliling.


Immortal World luas.


Dia berniat menemani mereka sambil jalan-jalan sampai Han Qing’er tumbuh.



Setahun kemudian—


Mereka kembali ke kota lama mereka.


Tapi…


Sudah berubah.


Tidak ada kota.


Hanya gunung dan ilalang.


Sepi.


Qingluan’er berdiri di tepi tebing.


Tatapannya kosong.


Han Qing’er sibuk main di hutan.


Bahkan sempat minta dikejar.


Han Jue?


Cuekin 😅


Dia berdiri di samping Qingluan’er.


“Waktu memang seperti ini. Lama-lama kamu akan terbiasa.”


Qingluan’er menoleh.


Menatapnya.


“Jadi… dulu waktu bersamaku, kamu juga setenang ini?”


Han Jue menjawab datar.


“Ya.”


Qingluan’er mendengus.


“Terus kenapa dulu kamu bilang kamu baru dapat kesempatan kultivasi setelah aku mati?”


Han Jue santai.


“Mau dengar ceritaku? Kita masih punya waktu puluhan tahun. Bisa aku ceritakan pelan-pelan.”


Qingluan’er langsung semangat.


“Mau!”


Mood langsung naik.


Han Jue menatap langit.


Lalu mulai bercerita.


“Aku lahir di dunia fana di bawah Immortal World. Orang tuaku adalah budak di kebun herbal sekte. Waktu aku kecil, mereka melarikan diri… dan meninggalkanku sendirian…”


Qingluan’er langsung mengernyit.


Dia tidak menyangka masa lalu Han Jue sekeras itu.


Han Jue menceritakan semuanya.


Detail.


Tapi beberapa hal dia sembunyikan—


Tentang system, Hidden Sect, dan Divine Might Heavenly Sage.


Waktu berlalu.


Sore tiba.


Han Qing’er muncul dari belakang.


Wajahnya cemberut.


Dia pergi setengah hari.


Tapi orang tuanya?


Nggak nyariin 😤


Han Jue menggenggam tangannya.


Tetap lanjut cerita sambil berjalan.


Qingluan’er?


Sudah seperti mendengar novel.


Serius banget.


Sampai lupa anaknya.



Beberapa hari kemudian—


Cerita selesai.


Qingluan’er menghela napas.


“Aku tidak menyangka kamu mengalami begitu banyak penderitaan sebelum bertemu denganku…”


Tatapannya lembut.


Penuh kasih.


Pria ini—


Selalu tenang.


Menghadapi segalanya sendirian.


Tidak pernah mengeluh.


Dia tiba-tiba merasa malu.


Han Jue sudah berusaha menghidupkannya kembali.


Memberinya kesempatan kultivasi.


Tapi dia?


Mengeluh karena kesepian.


Padahal dulu—


Han Jue bahkan tidak punya siapa-siapa.


“AYAH! IBU! Kalian sudah selesai belum sih?! Aku bosan!”


Han Qing’er akhirnya meledak.


Dia sudah tidur, bangun, tidur lagi…


Masih saja ngobrol 😭


Han Jue mencubit pipinya.


“Qing’er, bagaimana kalau aku ajak kamu bertemu keponakanmu?”


“Keponakan? Itu apa?”


“Anak dari kakakmu.”


“Mau! Mau! Ayo sekarang!”


Langsung semangat lagi.


Qingluan’er kaget.


“Tuo’er punya anak? Masih hidup?”


Han Jue tersenyum.


“Anak itu mirip aku. Tidak peduli dengan anaknya sendiri. Kalau bukan karena aku, cucumu sudah mati sejak lama. Oh ya, kamu juga sebenarnya punya cucu laki-laki… tapi sudah meninggal jutaan tahun lalu.”


Qingluan’er mengernyit.


Perasaannya campur aduk.


Tanpa banyak bicara—


Han Jue membawa mereka ke Netherworld.


Tujuan:


Istana Raja Neraka milik Yang Tiandong.


Di dalam aula—


Sunyi.


Yang Tiandong sedang kultivasi.


Tidak ada pelayan roh.


Tiba-tiba—


Suara kecil terdengar.


“Ayah, siapa dia? Seram banget…”


Yang Tiandong membuka mata.


Melihat Han Jue—


Dia langsung membeku.


Otaknya kosong.


“Gu… Guru…”

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .
Tekan ▶ untuk mulai membaca
0% 100%