Chapter 884 - Perubahan Sifat, Batu Prasasti Misterius
Kalimat Han Jue terdengar santai.
Tapi di telinga para Sage?
Itu dominan banget.
Inilah Divine Might Heavenly Sage.
Tidak takut siapa pun.
Heavenly Venerate Xuan Du tersenyum.
“Aku tentu tidak takut. Yang memimpin Three Pure Sacred World adalah Heavenly Lord of Primordial Beginning.”
“Sedangkan guruku… selalu dalam pengasingan.”
“Kalau benar-benar harus bertarung… aku tetap memilih Heavenly Dao.”
Han Jue hanya mengangguk.
Tidak banyak bicara.
Aura: nggak perlu debat, kalau perlu ya hajar.
Setelah itu, Heavenly Venerate Xuan Du memberi beberapa instruksi.
Diskusi selesai.
Para Sage bubar.
Han Jue berdiri.
Han Qing’er langsung mengikuti.
Belum sempat keluar—
Long Hao, Ji Xianshen, Fang Liang, Han Yu, Qin Ling, dan para Sage Hidden Sect lainnya langsung mengerubungi.
Target utama?
Han Qing’er.
Mendadak jadi pusat perhatian.
Han Qing’er agak kewalahan.
Dia tidak menyangka…
Begitu banyak senior, junior, bahkan murid generasi bawah—
Semua tersembunyi di antara para Sage!
Hidden Sect ini… bukan sekadar sekte.
Ini kayak boss guild level dewa.
Han Jue mendengus.
Lalu berkata santai, tapi nadanya dingin:
“Jaga dia baik-baik saat dia muncul di Heavenly Dao nanti.”
“Kalau tidak…”
“Aku akan menghukum kalian.”
“Tidak ada yang bisa lolos.”
Kalimat sederhana.
Efeknya?
Para Sage yang belum keluar dari aula langsung tegang.
Mereka tahu—
Itu bukan cuma untuk muridnya.
Itu juga peringatan halus buat mereka semua.
Han Qing’er langsung protes manja:
“Father, aku ini Pseudo-Sage. Siapa yang bisa menyakitiku di Immortal World?”
Walau ngomel…
Dalam hatinya hangat.
Sudah lama dia tidak merasakan perhatian seperti ini.
Dan…
Dia sedikit malu.
Dulu sering ngeluh soal ayahnya.
Sekarang?
Baru sadar…
Ayahnya segila ini protektifnya.
Han Jue cuma tersenyum.
Tidak menjawab.
Para murid langsung mengiyakan.
Tiba-tiba—
Red Fate melangkah maju.
Pinggang berayun.
Aura menggoda level dewa.
Dia tersenyum manis.
“Heavenly Sage, bagaimana kalau aku menjadikannya muridku?”
“Aku akan mengajarkan semua Dao techniques milikku.”
Seketika—
Para Sage lain yang punya niat sama langsung pucat.
Mau nolak?
Itu Great Dao Sage!
Bisa ditekan pakai satu tangan.
Han Qing’er melihat Red Fate.
Langsung merasa…
Ancaman.
Bukan untuk dirinya.
Tapi untuk—
Ibunya.
Refleks.
Dia menoleh ke Han Jue.
Han Jue tetap santai.
“Lihat saja keputusannya.”
Semua mata ke Han Qing’er.
Dia jawab cepat:
“Father, aku tidak jadi ke Immortal World.”
“Aku mau berkultivasi bersamamu selama satu juta tahun dulu.”
Semua orang:
…?!
Han Jue agak kaget.
Tapi melihat ekspresinya serius—
Dia paham.
Anak ini… akhirnya “bangun”.
Dia mengangguk pelan.
Good.
Han Jue mengibaskan lengan.
Langsung hilang.
Bersama Han Qing’er.
Red Fate menghela napas.
Sedikit kecewa.
Dia memang terikat oleh Primordial Heavenly Prison.
Setia pada Han Jue.
Tapi…
Perasaannya sendiri?
Masih ada.
Dia selalu ingin jadi Dao companion Han Jue.
Sayangnya…
Status sekarang?
Pelayan.
Tidak bisa maksa.
Dia menggeleng.
Menghilang.
Para murid Hidden Sect masih heboh.
Topik utama:
Junior sister baru!
Dan jelas—
Kabar ini bakal menyebar ke seluruh Hidden Sect.
Di sisi lain.
Han Jue dan Han Qing’er kembali ke Dao Field ketiga.
Han Qing’er bertanya:
“Father, kita tidak mengunjungi Eldest Mother dan Second Mother?”
Han Jue menjawab santai:
“Mereka juga perlu berkultivasi.”
“Kalau tidak ada urusan penting, jangan ganggu.”
“Kita tidak kekurangan waktu.”
Masuk akal.
Han Qing’er mengangguk.
Lalu memeluk lengan Han Jue.
Mode manja ON.
“Father… ceritakan lagi kisahmu.”
Kali ini…
Han Jue cerita.
Versi lengkap.
Dan tentu saja—
Sedikit “dibumbui”.
Musuh-musuhnya?
Diceritakan lebih kuat.
Supaya…
terlihat makin keren.
Han Qing’er:
“Wah!”
“Serius?!”
“Gila!”
Reaksi maksimal.
Beberapa jam kemudian…
Cerita selesai.
Jujur saja—
Hidup Han Jue memang tidak panjang.
Tapi tiap kejadian?
Levelnya selalu event besar.
Kalau dijadikan novel…
Best seller.
Dan itu pun…
Belum termasuk identitas Dark Forbidden Lord.
Han Qing’er sekarang…
Tatapannya penuh kekaguman.
Han Jue?
Bahagia.
Banget.
“Father, kamu hebat banget!”
“Aku mau jadi seperti kamu!”
“Aku mau selalu lebih kuat dari musuhku!”
Goal sudah jelas.
Han Jue tersenyum.
“Bagus.”
“Nanti kalau kakakmu kembali, aku biarkan kalian bertarung.”
“Kamu harus mengalahkannya.”
“Biar dia tahu… rumah tetap yang terbaik.”
Han Qing’er langsung percaya diri:
“Tenang saja!”
Lalu—
Pergi.
Han Jue tertawa kecil.
Duduk.
Mulai kultivasi.
Target berikutnya:
Breakthrough.
Di bawah pohon tua.
Qingluan’er merasakan angin.
Membuka mata.
Han Qing’er sudah di depan.
“Kamu… balik?”
Han Qing’er tersenyum.
“Mother, aku sudah paham.”
“Kultivasi lebih penting.”
Tanpa banyak penjelasan—
Dia duduk.
Mulai kultivasi.
Qingluan’er menatapnya.
Terdiam.
Untuk sesaat…
Dia melihat bayangan Han Jue.
Bukan wajah.
Tapi…
feeling-nya.
Dia penasaran.
Apa yang Han Jue lakukan…
Sampai bisa mengubah anak ini?
Di kehampaan gelap.
Sebuah kapal kayu raksasa melaju.
Seperti ditarik makhluk tak terlihat.
Di atasnya—
Lima Divine Punisher sedang berkultivasi.
Yi Tian bosan.
Lalu melihat Han Tuo senyum-senyum sendiri.
“Apa yang kamu ketawain? Mukamu mencurigakan banget.”
Han Tuo memutar mata.
“Aku baru tahu sesuatu.”
“Aku punya adik perempuan.”
Yi Tian langsung duduk tegak.
“Namanya siapa?”
“Heh, aku kakakmu.”
“Heh.”
“Cepat bilang!”
“Namanya Han Qing’er.”
“Baru lahir 200 ribu tahun lalu.”
“Sudah Pseudo-Sage.”
“Sekarang berkultivasi di sisi ayahku.”
Yi Tian:
“Gila.”
“Memang anak Godfather.”
“Coba tanyakan ke seniormu, kapan aku diakui?”
Dia garuk kepala.
Sejak jadi Divine Punisher…
Hidupnya terlalu damai.
Tidak ada musuh.
Semua orang tunduk.
Dia jadi…
Bosan.
Target hidupnya sekarang?
Jadi anak angkat resmi Han Jue.
Han Tuo mendengus.
“Senior-seniorku juga keluyuran. Gimana aku mau tanya?”
Yi Tian nyengir.
“Benar juga.”
“Dao Sovereign, Zhao Xuanyuan, Jiang Yi… lagi bikin masalah di mana-mana.”
“Banyak Great Dao Divine Spirit sudah komplain.”
“Ngomong-ngomong… mereka punya utang padaku.”
Dia tersenyum aneh.
Entah lagi mikir apa.
Tiba-tiba—
Kapal bergetar.
Semua Divine Punisher berdiri.
Han Tuo mengernyit.
Menatap ke depan.
Di kegelapan…
Muncul sesuatu.
Sebuah batu prasasti raksasa.
Penuh lubang.
Angin mengerikan berhembus.
Menghentikan kapal.
Yi Tian berbisik:
“Itu… apaan?”
Lubang-lubang di batu itu…
Seperti bergerak.
Seperti…
Cacing.
Atau tulang.
Menjijikkan.
Mengerikan.
Jantung Han Tuo berdetak lebih cepat.
Perasaan yang sudah lama tidak muncul—
Muncul lagi.
Gelisah.
Bahaya.
Dan kali ini…
Instingnya berteriak:
Ini bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh.