Chapter 890 - Pertarungan Ayah dan Anak Perempuan
Di kedalaman Chaos.
Dua kelompok kultivator saling berhadapan di sebuah benua yang sudah hancur.
Di satu sisi ada Ancestor Xitian, Li Daokong, Shi Dudao, dan yang lainnya.
Di sisi lain… Huang Zuntian beserta pasukannya.
Dan ya—jumlah bawahan Huang Zuntian lebih banyak 😏
Huang Zuntian menatap Ancestor Xitian dan berkata,
“Ancestor, demi hubungan kita dengan Heavenly Dao, lebih baik kamu bergabung dengan Life.”
“Aku adalah garis ortodoks Life Lord. Di bawahku ada sejuta Calamity Life Controllers.”
“Kamu tidak bisa memimpin kelompokmu sendirian.”
Shi Dudao dan Li Daokong langsung mengernyit.
Nama Huang Zuntian?
Sudah terkenal.
Dari nobody jadi Life Lord—jelas bukan orang sembarangan.
Ancestor Xitian tersenyum.
“Huang Zuntian… aku tidak menyangka Heavenly Dao melahirkan orang sepertimu.”
“Bakatmu bukan di kultivasi… tapi potensimu setara dengan Divine Might Heavenly Sage.”
“Tak terukur.”
Huang Zuntian terkekeh.
“Terima kasih, Ancestor.”
“Sekarang aku hanya ingin mengumpulkan para Calamity Life Controllers dan menyongsong masa depan bersama.”
“Chaos memang terlihat damai… tapi kita tetap tidak bisa lepas dari takdir.”
“Kalau tidak bersatu, kita akan dikalahkan satu per satu.”
“Sejak kita menjadi Calamity Life Controllers… kita sudah bukan makhluk Chaos biasa.”
“Kita harus menahan diri dan bersatu… kalau ingin bertahan.”
Ancestor Xitian mengangguk… seolah setuju.
Tapi jelas—belum mau gabung.
Suasana langsung jadi tegang.
Sunyi.
Shi Dudao diam-diam berpikir.
“Kenapa Dark Forbidden Lord belum muncul?”
“Dia lagi ngapain?”
Dia mulai merasa ada yang nggak beres.
Dalam pikirannya, Dark Forbidden Lord = Divine Might Heavenly Sage.
Strateginya menurut dia:
Awalnya bantu Life → bangun reputasi
Setelah kuat → bersihkan & satukan kekuatan
Tapi sekarang… kok belum bergerak?
Huang Zuntian menyipitkan mata.
“Ancestor… sudah dipikirkan?”
Tangan kanannya di belakang pinggang… memberi isyarat.
Siap perang.
Ancestor Xitian melangkah maju.
“Kami bisa tunduk…”
“Tapi sebagai Life Lord, bukankah kamu harus membuktikan kekuatanmu?”
“Cara halus tidak cukup.”
“Kalau mau memimpin… tetap butuh Mystical Powers.”
Huang Zuntian tersenyum.
“Silakan, Ancestor.”
Tatapannya langsung dingin.
Ancestor Xitian tiba-tiba merasakan bahaya.
Entah kenapa… dia teringat satu teknik.
Heaven Earth Mystic Yellow World Piercing Sword Finger milik Han Jue.
Dalam hatinya:
“Anak ini… nggak sederhana.”
Waktu berlalu.
Seratus ribu tahun kemudian…
Di bawah pohon tua.
Han Qing’er masih berkultivasi.
Sekarang dia sudah mencapai Primordial Chaos Zenith Heaven Golden Immortal.
Naik level dalam ratusan ribu tahun?
Itu bukan cepat lagi.
Itu absurd 😅
Qingluan’er selesai berkultivasi, lalu meregangkan tubuh.
Dia melirik anaknya.
“Qing’er… kamu nggak capek?”
Han Qing’er bahkan nggak buka mata.
“Kenapa harus capek jadi lebih kuat?”
“Mungkin kamu saja yang tidak merasakan kecepatan kultivasimu.”
…
Qingluan’er langsung paham.
Ini bukan kalimat biasa.
Ini sindiran halus 😌
Dia langsung menepuk punggung Han Qing’er.
Pelan sih—takut ganggu kultivasi.
Dia menghela napas.
Anak-anaknya… semua gila kultivasi.
Dulu dia nggak paham.
Sekarang paham.
Ini turunan ayahnya.
Han Jue…
Bertapa jutaan tahun tanpa henti.
Cuma dibayangin aja… sudah bikin merinding.
Tiba-tiba…
Suara langkah kaki.
Han Jue datang.
Qingluan’er langsung berdiri.
“Husband, kenapa ke sini?”
Han Qing’er juga buka mata.
Langsung berdiri di depannya.
“Father! Aku mau spar denganmu!”
Makhluk lain di sekitar ikut buka mata.
Semua penasaran 😏
Han Jue tersenyum.
“Aku cuma mau melihat kalian.”
Lalu dia melirik Han Qing’er.
“Kamu belum layak bertarung denganku.”
Han Qing’er langsung nggak terima.
“Mustahil!”
“Aku sekarang kuat!”
“Para murid itu bukan lawanku!”
Han Jue santai.
“Mereka belum masuk Dao. Cuma kultivasi biasa.”
“Jelas kalah.”
Han Qing’er langsung jawab cepat.
“Makanya… cuma kamu yang cocok jadi lawanku!”
Han Jue berpikir sebentar.
“Kalau begitu… biar Jiang Jueshi yang lawan kamu.”
“Tidak!”
Jawaban instan.
Tegas.
Dia bukan bodoh 😅
Jiang Jueshi itu Freedom Sage.
Auranya saja sudah bikin trauma.
Dan yang paling penting…
Dia nggak bakal nahan diri 😭
Sementara ayahnya?
Nggak mungkin melukainya.
Han Jue tersenyum.
Langsung… tarik Han Qing’er ke dalam mimpi dengan Dark Nightmare.
Tempatnya?
Chaotic Void.
Han Qing’er melihat sekeliling.
Dia kira ini dunia nyata.
Padahal… ini mimpi.
Han Jue berkata santai.
“Kamu mau bertarung? Ayo.”
BOOM.
Di atas kepalanya muncul…
Seratus Fiendcelestial Dharma Idol.
Masing-masing setinggi satu juta kaki.
Semua menunduk… menatap Han Qing’er.
Dia langsung beku.
Shock total.
Ini bukan battle.
Ini… teror 😶
Dia melihat sekeliling.
Dikelilingi.
Tidak ada celah.
Tiba-tiba dia teringat sesuatu.
Semut.
Dulu, saat di Immortal World, dia pernah lihat anak-anak main semut.
Mereka mengelilingi semut… lalu mempermainkannya.
Sekarang…
Dia adalah semut itu.
Han Jue berkata datar.
“Kamu ingin bertarung denganku?”
“Kalau begitu lihat baik-baik… kekuatanku.”
Salah satu Fiendcelestial mengaum.
Han Qing’er gemetar.
Instingnya ingin lari.
Tapi…
Nggak bisa bergerak.
Tubuh terkunci.
Bahkan jiwanya… nggak bisa keluar.
“Tidak mungkin…”
Wajahnya pucat.
Dia hanya bisa menatap.
Satu pukulan datang.
Niat membunuhnya… nyata.
Ayahnya… serius.
BOOM.
Satu pukulan.
Tubuhnya hancur.
Jiwanya hancur.
Instant delete.
Mimpi berakhir.
Han Qing’er membuka mata.
Napasnya terengah-engah.
Keringat dingin di seluruh tubuh.
Trauma langsung update versi terbaru 😅
Qingluan’er panik.
“Ada apa?!”
Dia bahkan nggak sadar anaknya barusan “mati” di mimpi.
Han Jue tersenyum tipis.
“Mau lanjut spar?”
Han Qing’er langsung geleng-geleng.
Cepat.
Tanpa mikir.
NOPE 😭
Qingluan’er langsung menatap Han Jue dengan wajah nggak senang.
Han Jue batuk kecil.
“Cuma spar di mimpi.”
“Aku nggak melukai dia.”
“Dia cuma… kaget.”
Lalu dia menghela napas.
“Dengan mental seperti ini… berani menantangku?”
“Masih mau melampaui kakaknya?”
Han Qing’er langsung merah wajahnya.
Malu.
Tapi juga… masih gemetar.
Dalam hatinya cuma satu:
Ayahku… ternyata monster. 😭
Pantes saja para Sage di Universal Hall begitu hormat.
Jangan-jangan…
Mereka juga pernah “ditampar realita” kayak gini dulu 😌