Ch 21 - Kau Sendiri yang Mencari Masalah (3)

Novel: Nano Machine

Seiring berjalannya hari, para murid kelompok kedelapan harus bersikap hati-hati menghadapi dua sosok penting. Cheon Mukeum dari Loyal Clan terus mengawasi Cheon Yeo-woon dengan penuh amarah. Sikap itu membuat suasana kelompok menjadi canggung, sementara Yeo-woon sendiri sama sekali tidak menggubrisnya. Rupanya, bukan hanya para murid yang merasakan ketegangan itu. Left Guardian Lee Hameng juga memperhatikan mereka.

'Dua kandidat pewaris berada dalam kelompok yang sama... menarik.'

Sebenarnya, Hameng datang bukan untuk mengawasi latihan. Hari itu, ia memang ingin melihat Yeo-woon. Performa kelompok kedelapan berjalan sesuai perkiraan karena hanya kelompok itulah yang memiliki dua murid bertanda hitam. Satu-satunya hal yang tak terduga adalah energi internal Yeo-woon.

'Jumlahnya lebih besar daripada perkiraanku.'

Dua minggu lalu, Yeo-woon bahkan belum memiliki energi internal. Namun, sekarang kekuatannya justru melampaui Jahyun, anggota Loyal Clan. Hameng tahu Submeng telah mengajarinya, tetapi jumlah energi internal itu tetap sulit dijelaskan. Dengan Black Dragon Ball, seharusnya Yeo-woon hanya memiliki energi setara dua puluh tahun, atau paling banyak tiga puluh tahun. Akan tetapi, pantulan energi yang ia lepaskan saat menyerang Jahyun menunjukkan bahwa jumlahnya sudah melebihi tiga puluh tahun.

Sekalipun Submeng membantunya menyerap bola itu, hasilnya tetap terlalu besar.

'Jangan-jangan dia menyerap seluruh energi dari bola itu? Kalau begitu, ini bakatnya sendiri, bukan semata-mata berkat si pemabuk itu... Heh. Jadi, darah itu memang mengalir dalam dirinya?'

Hameng tidak menganggap Submeng sebagai guru yang baik. Karena itu, ia bangkit dan meninggalkan tempat latihan.

Setelah latihan sore selesai, seluruh murid berbondong-bondong menuju kantin besar untuk makan malam bersama. Yeo-woon menyambutnya dengan senang hati. Selama dua minggu terakhir, ia hanya makan bubur nasi. Tahap kedua ujian menuntut kerja sama tim, jadi para murid memang diwajibkan makan bersama.

“Wah! Ada ayam!”

Daging ayam berbumbu kecap tersaji di atas meja. Salah satu keuntungan menjadi murid akademi adalah makanan disediakan tanpa batas. Para murid menunggu dengan tenang, sumpit sudah diletakkan di atas meja, sampai seorang instruktur berseru,

“Kalian boleh makan!”

“Mado!”

Para murid menjawab serempak, lalu mulai menyantap makanan dengan lahap. Yeo-woon tersenyum menikmati rasa ayam itu. Ia sudah muak dengan bubur nasi selama dua minggu. Namun, saat makan, ia bisa merasakan tatapan tajam Cheon Mukeum yang terus mengarah kepadanya. Yeo-woon tidak tahu mengapa Loyal Clan begitu membencinya.

'Nikmati saja makananmu sekarang. Mulai besok, kau tidak akan makan seenak ini lagi.'

Yeo-woon sendiri menyimpan kebencian mendalam terhadap enam Clan. Amarahnya selalu meluap setiap kali teringat ibunya yang diracun hingga meninggal.

'Kalian berani menginjak-injak orang lemah? Sekarang giliranku menginjak kalian.'

Dulu ia harus menunduk karena tidak berdaya. Namun, keadaan sekarang sudah berbeda.

Saat waktu makan malam berakhir, sebuah lonceng berbunyi. Semua orang berhenti makan dan meletakkan sumpit di atas mangkuk. Yeo-woon melirik murid lain, lalu mengikuti gerakan mereka.

“Makan malam selesai!”

“Mado!”

Para murid menjawab, kemudian meninggalkan kantin dalam barisan. Setelah kembali berkumpul di lapangan latihan, Instruktur Impeng membubarkan kelompok kedelapan.

“Kalian boleh kembali. Kecuali murid nomor 80, semuanya dibubarkan!”

“Siap!”

Semua orang pergi, kecuali Jahyun yang menunggu dengan wajah masam. Yeo-woon hanya mendengus melihatnya, lalu mengikuti Instruktur Impeng menuju asrama.

Gedung asrama terletak di sisi kiri bangunan utama. Gedung itu terbagi menjadi lima bagian, dan setiap bagian memiliki dua lantai. Lantai bawah diperuntukkan bagi murid laki-laki, sedangkan lantai atas untuk murid perempuan. Setiap lantai memiliki sepuluh kamar, dengan kapasitas maksimal dua puluh tempat tidur per kamar. Jadi, setiap kelompok menempati satu kamar.

Pembagian itu berlaku sampai bagian ketiga. Mulai bagian keempat, para murid yang berhasil melewati ujian ketiga akan mendapatkan kamar pribadi. Sementara itu, bagian kelima merupakan tempat tinggal para instruktur.

Yeo-woon menempati kamar nomor delapan.

“Hei-hei! Mau ke mana kau?”

Suara menyebalkan terdengar dari belakang saat Yeo-woon hendak masuk kamar. Ia tidak perlu melihat untuk menebak siapa pemilik suara itu. Ketika berbalik, ia mendapati Cheon Mukeum berdiri dengan tangan terlipat di dada dan tatapan penuh kebencian. Enam murid yang biasa menjadi pengikutnya berdiri di belakangnya.

'Memangnya dia harus selalu menjadi penguasa di mana pun berada?'

Para pangeran dan putri dari enam Clan terkenal karena dibesarkan dengan segala kemewahan dan penghormatan. Mereka tidak pernah perlu melakukan apa pun sendiri karena selalu dilayani para pelayan. Contohnya Cheon Wonryou, putri Lust Clan. Meski menjadi ketua kelompok, saat waktu bebas tiba pun masih ada sekitar sepuluh murid yang mengikutinya seperti rakyat yang mengiringi seorang penguasa.

Para murid segera berkumpul ketika melihat pangeran ketujuh yang terkenal itu berhadapan dengan Cheon Mukeum dari Loyal Clan.

'Heh. Akan kutunjukkan padamu.'

Mukeum menyukai situasi ini. Ia ingin mempermalukan Yeo-woon di hadapan semua orang.

“Bocah kampung. Enak, ya, dikurung di ruang medis seperti pengecut?”

Tatapan Yeo-woon berubah dingin. Mukeum senang melihat ucapannya berhasil memancing emosi Yeo-woon, lalu melanjutkan,

“Kenapa? Tidak suka disebut begitu? Bocah kam—”

“Apakah kau sedang menghina Lord?”

“Apa?”

“Kalau aku anak kampung, berarti kau menganggap Lord juga anak kampung.”

Mukeum terdiam dengan wajah bodoh. Tadinya ia hanya bermaksud menghina ibu Yeo-woon. Namun, begitu Yeo-woon membawa-bawa Lord, kata-katanya langsung tersangkut di tenggorokan.

“Memangnya kau begitu mulia sampai berani menjelek-jelekkan Lord sendiri?”

“A-aku tidak pernah bilang begitu...”

Semua murid di sana setia kepada Lord. Entah mereka anggota enam Clan atau anak-anak Lord sendiri, mereka tetap harus berhati-hati dalam berbicara. Para murid yang menyaksikan kejadian itu pun terdiam.

“Orang-orang Loyal Clan memang bodoh.”

Cheon Wonryou mendengus saat melihat kejadian itu. Menurutnya, sungguh memalukan melihat Mukeum dipermainkan kata-kata oleh bocah seperti Yeo-woon.

'Bodoh. Masih saja terpancing oleh bocah kampung itu?'

Cheon Kungwun dari Sword Clan yang ikut berhenti untuk menonton juga menggelengkan kepala.

“Ugh...!”

Wajah Mukeum memerah. Ia tadinya ingin mempermalukan Yeo-woon, tetapi justru dirinya sendiri yang dipermalukan!

“Bajingan! Akan kuhancurkan wajahmu dengan—UGH!”

Semua orang mendadak terdiam. Sebelum Mukeum sempat menyelesaikan ucapannya, tinju Yeo-woon sudah menghantam wajahnya. Darah langsung mengucur dari hidung Mukeum.

“Dengan apa? Apa tadi yang ingin kau katakan?”

“AAAAAAH!”

Mukeum mencoba melancarkan bela diri Loyal Clan, dimulai dengan Loyal Demon Fist Formation. Namun, Yeo-woon malah berlari. Tak seorang pun yang menyaksikan menyangka Yeo-woon akan memilih kabur.

“AAAARGH! Tangkap dia!”

“B-baik!”

Murid-murid yang berada di belakang Mukeum langsung mengejar Yeo-woon ke arah hutan di belakang asrama. Mukeum juga menggunakan teknik gerak cepat untuk menyusul. Berbeda dengan murid lain yang menonton dengan antusias, Cheon Wonryou dan Cheon Kungwun justru memandang Yeo-woon dengan tatapan aneh.

Enam murid yang mengejar Yeo-woon terkejut. Mereka tahu Yeo-woon tidak memiliki energi internal, tetapi tetap saja mereka tidak mampu menyusulnya.

“Kenapa dia cepat sekali?!”

Mereka memang tidak berhasil menangkapnya, tetapi Yeo-woon juga tidak benar-benar menjauh. Murid nomor 203 mulai curiga.

'Jangan-jangan dia sedang memancing kami?'

Ia memikirkannya sejenak. Yeo-woon tampak sengaja mempertahankan jarak tertentu sambil terus berlari.

“Apa yang kalian lakukan?!”

“Hah?”

Mukeum mengusap darah dari hidungnya, lalu melesat melewati mereka. Ia harus menangkap Yeo-woon dan meremukkan tulangnya agar puas. Yeo-woon melirik ke belakang, kemudian berhenti.

“Dasar bajingan! Sudah selesai larinya?!”

Mukeum mengepalkan tangan dan berjalan mendekat. Yeo-woon menjawab dengan seringai,

“Lari? Hah, aku justru membawamu ke sini.”

“Apa?”

“Aku tidak mau orang lain melihatnya dulu.”

Begitu mengucapkan itu, tubuh Yeo-woon melesat seperti pegas. Telapak tangannya menghantam Mukeum. Serangan itu nyaris seperti penyergapan, tetapi Mukeum sudah melapisi seluruh tubuhnya dengan energi internal. Ia mengangkat kedua tinjunya untuk menahan telapak tangan Yeo-woon.

Mukeum terdorong mundur dua langkah. Matanya bergetar karena terkejut.

“K-kau... bagaimana bisa mempelajari bela diri seperti itu?!”

Lanjut membaca Ch 22 - Kau Sendiri yang Mencari Masalah (4)

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .
☕
Tekan ▶ untuk mulai membaca
0% 100%