Ch 36 - Mengungkap Rahasia dari Leluhur Cheon Ma (4)

Novel: Nano Machine

Ha Ilming. Sejak menjadi pendekar tangguh di usia muda, dia mengira bisa mengalahkan siapa pun di antara para pangeran. Dia bahkan sempat melukai salah satunya, Cheon Mukeum. Namun, saat berhadapan dengan Cheon Yuchan, dia sama sekali tidak mampu menandingi lawannya. Kesombongannya pun runtuh.

‘Aku benar-benar bodoh.’

Dia sadar bahwa dirinya masih harus banyak berlatih. Semua kemarahannya terhadap Cheon Yeo-woon pun dia kesampingkan.

‘Aku tidak boleh membuang waktu untuk orang bodoh seperti itu.’

Ha Ilming langsung kembali berlatih. Seperti para kadet lainnya, dia berniat menghabiskan seluruh masa liburannya untuk menempa diri. Karena itulah pagi-pagi sekali dia sudah berada di ruang latihan pribadi. Pagi harinya dia melatih energi internal, lalu sore harinya berlatih formasi. Sampai akhirnya, kejadian itu terjadi.

Tiba-tiba terdengar ledakan dari atas. Bongkahan batu berjatuhan dari langit-langit. Sebuah batu besar menghantam Ha Ilming hingga dia terkapar tak sadarkan diri. Saat kesadarannya mulai memudar, dia melihat Cheon Yeo-woon muncul dari lubang di atas.

‘B-bedebah itu…! Sial…’

Amarahnya kembali berkobar. Tak lama kemudian, instruktur yang bertanggung jawab atas ruang latihan pribadi datang berlari sambil membawa kunci utama. Dia membuka ruangan dan membawa Ha Ilming ke ruang medis. Setelah kembali, instruktur itu langsung memarahi Cheon Yeo-woon habis-habisan.

“Bagaimana bisa kau membuat lubang di tempat semua orang sedang berlatih?! Bagaimana kalau dia sedang bermeditasi? Kau hampir saja membunuhnya!”

Kalau Ha Ilming benar-benar sedang bermeditasi, kejadian itu bisa membahayakan nyawanya.

“Anggap saja kau beruntung dia masih hidup. Kalau tidak, kau bisa saja dikeluarkan dari akademi. Kejadian ini akan masuk ke dalam penilaianmu.”

“...Maaf, Sir.”

“Kalau kau sampai merusak ruang latihan pribadi lagi, kau tidak akan diizinkan menggunakannya lagi.”

“Baik, Sir.”

Sebenarnya, Yeo-woon memang sudah dilarang menggunakan ruang latihan di lantai satu dan dua. Dia hanya boleh memakai ruang bawah tanah yang jarang diminati para kadet. Mau tak mau, dia harus menerima aturan itu.

Saat Yeo-woon berjalan turun ke lantai bawah tanah, sang instruktur memperhatikannya dengan heran.

‘Dia sampai membuat lubang pada lantai batu yang terbuat dari batuan sangat keras… Apa energi internalnya sudah setara dengan tenaga dalam enam puluh tahun?’

Hal itu juga membuat Cheon Yeo-woon bertanya-tanya.

‘Bagaimana bisa aku menjadi sekuat ini?’

Dia sendiri tak menyangka mampu melubangi lantai tersebut.

[Kekuatan otot dan serat otot Master telah ditingkatkan hingga batas maksimum.]

‘Apa?’

[Tubuh Master telah disesuaikan agar secara fisik mampu meninggalkan bekas pada batu Blue Pearl. Dengan demikian, kemampuan otot Master meningkat hingga batas maksimum.]

‘Oh… jadi begitu.’

Kali ini Nano tidak menganalisis data teknik pedang. Nano justru menganalisis bekas yang tertinggal pada batu. Karena itu, Nano menyimpulkan bahwa pedang tersebut mampu menggores batu, tanpa memperhitungkan bahwa goresan itu sebenarnya tercipta berkat energi internal.

‘Wah.’

Cheon Yeo-woon sampai tertegun.

‘Jadi, inikah batas kekuatan yang bisa kucapai?’

[Penyesuaian ini tidak akan mengganggu pertumbuhan normal Master.]

‘Kalau aku sudah tumbuh dewasa, bisakah kau meningkatkan batasnya lagi?’

[Batas maksimum potensi serat otot akan meningkat seiring pertumbuhan tulang dan otot.]

‘Menarik.’

Yeo-woon sudah mempelajari banyak hal tentang kemampuan Nano, tetapi setiap penemuan baru tetap saja terasa mengagumkan.

‘Sepertinya aku memang harus tumbuh lebih besar dulu.’

Setelah itu, dia mulai menguji formasi pedangnya. Pedangnya bergerak cepat, menirukan dua puluh empat gerakan dalam formasi tersebut. Namun, setelah selesai, wajahnya sama sekali tidak menunjukkan kepuasan.

‘A-apa?’

Seolah-olah dia gagal. Tak mau menerima hasil itu, dia mencoba mengulanginya.

‘Bukan. Bukan begini.’

Dia memang berhasil melakukan gerakan yang sama, tetapi tetap merasa ada yang kurang. Rasanya seperti belum menyelesaikan formasi itu dengan benar. Dia lalu mencoba formasi yang tertulis di lantai dua. Kali ini gerakannya jauh lebih rumit dan kuat. Namun, setelah selesai, wajahnya justru semakin muram.

“Kenapa?!”

Dia bahkan mulai kesal. Cheon Yeo-woon kemudian mencoba formasi tandingan yang berlawanan dengan formasi aslinya. Gerakannya dengan cepat menirukan formasi keempat puluh lima yang pernah dia lihat di lantai satu perpustakaan.

Pedangnya bergerak lincah. Kali ini wajahnya langsung berbinar.

‘Berhasil! Sempurna!’

Dia lalu mencoba formasi yang ditemukan di lantai dua. Hasilnya juga berhasil. Namun, ketika kembali mencoba formasi awal, dia kembali kebingungan.

“Kenapa yang ini tidak berhasil?”

Gerakannya berbeda dari simulasi yang pernah dia lihat.

‘Nano, tampilkan gerakan yang baru saja kulakukan. Bandingkan dengan gerakan aslinya dari perpustakaan.’

[Mengaktifkan Augmented Reality.]

Nano menampilkan dua sosok manusia. Sosok pertama tampak seperti figur manusia biasa, sedangkan sosok kedua menyerupai Cheon Yeo-woon. Keduanya mulai bergerak secara bersamaan.

Setelah memperhatikan dengan saksama, Yeo-woon bisa melihat perbedaannya. Sosok pertama bergerak sempurna, setiap gerakan tersambung dengan mulus. Sementara itu, gerakan Yeo-woon memang saling tersambung, tetapi terlihat kaku dan sedikit terlambat.

‘Aku belum bisa melakukannya dengan sempurna. Kenapa?’

Dia tak mengerti. Nano sudah memberinya informasi dan kemampuan otot untuk meniru gerakan itu, tetapi hasilnya tetap tidak sempurna. Yeo-woon duduk untuk memikirkan masalah tersebut. Sekitar satu jam berlalu, dan tubuhnya mulai dipenuhi keringat.

‘Apa masalahnya? Walaupun aku belum menguasai aliran energi, seharusnya itu tidak berpengaruh… Tunggu!’

Sebuah gagasan tiba-tiba muncul di benaknya.

‘Aliran energi!’

Akhirnya dia menemukan jawabannya. Kebanyakan gerakan formasi tidak membutuhkan energi internal agar bisa dilakukan dengan sempurna. Namun, formasi pedang ini justru membutuhkan aliran energi internal yang tepat.

‘Sama seperti formasi terakhir Butterfly Blade Dance.’

Dia teringat bahwa formasi terakhir teknik pedang itu juga mengharuskan energi mengalir di dalam tubuhnya.

‘Berarti, ada unsur utama yang belum kumiliki.’

Untuk sementara, Yeo-woon harus puas menguasai formasi tandingannya. Untungnya, formasi tandingan itu tidak membutuhkan aliran energi khusus. Meski begitu, dia tetap merasa kesal.

‘Kenapa dia tidak sekalian meninggalkan petunjuk tentang cara mengalirkan energi?’

Dia bahkan mulai marah kepada Leluhur Cheon Ma yang meninggalkan formasi tersebut. Setelah termenung cukup lama, dia teringat puisi yang tertulis di bagian depan setiap batu.

‘Jangan-jangan ada sesuatu yang disembunyikan di dalam puisi itu.’

Rasanya tidak masuk akal jika hanya meninggalkan formasi pedang tanpa petunjuk apa pun.

‘Nano, bisakah kau menampilkan kembali sisi depan batu di lantai satu?’

[Mencari melalui data video yang tersimpan.]

Nano biasanya menyimpan semua yang dilihat dan didengar Yeo-woon. Tak lama kemudian, rekaman sisi depan batu itu ditemukan.

[Video ditemukan. Membuat gambar tiga dimensi sisi depan batu.]

Batu itu pun muncul di hadapan Yeo-woon.

[Angin perkasa bertiup, menghamburkan awan-awan yang melayang. Setelah menyatukan seluruh wilayah, aku kembali ke rumah. Bagaimana mungkin aku menugaskan para prajurit tangguhku untuk menjaga empat penjuru negeri?]

Yeo-woon mengernyit saat membaca tulisan tersebut.

‘Kelihatannya cuma puisi biasa. Apa ada sesuatu yang tersembunyi?’

[Berdasarkan pemeriksaan data internal, puisi ini ditulis pada masa berdirinya Dinasti Han.]

‘Hah?’

[Puisi ini ditulis oleh Liu Bang setelah kembali dari kemenangannya atas Xiang Yu.]

‘...Jadi, puisi ini bukan tulisan Leluhur Cheon Ma?’

[Benar, Master.]

Yeo-woon sudah mengetahui asal puisi itu, tetapi masih harus menemukan rahasia di baliknya.

‘Nano, apakah ada huruf atau tulisan yang berbeda dalam puisi ini?’

[Tidak ada, Master.]

Yeo-woon menghela napas.

‘Analisis semuanya. Cari petunjuk sekecil apa pun.’

[Memindai permukaan.]

Sebuah garis bergerak perlahan dari atas ke bawah. Setelah pemindaian selesai, Nano kembali berbicara.

[Ada lubang kecil pada setiap kata dalam puisi tersebut.]

Nano menampilkan lubang-lubang kecil yang sebelumnya tidak terlihat. Jumlah lubang pada setiap huruf ternyata berbeda.

‘Apa maksudnya?’

Yeo-woon mulai berpikir keras.

‘Lubang kecil… lubang… Apa itu titik darah?’

Jantungnya mulai berdegup kencang.

‘Pikirkan… empat lubang… empat titik darah? Bukan. Lalu apa? Hmm… Oh, coba lihat buku itu.’

Dia teringat buku tentang titik darah yang pertama kali dipindainya. Yeo-woon kembali membuka informasi di dalam buku tersebut.

‘Empat lubang… mungkin maksudnya titik darah keempat.’

Lokasi titik darah keempat memang ditunjukkan di dalam buku.

‘Aneh. Aliran energi dasar dimulai dari tempat lain… berarti seharusnya dibutuhkan tujuh lubang… OH!’

Akhirnya, Cheon Yeo-woon memahami rahasianya.

‘Kata pertama terdiri dari tiga garis. Kalau ditambah empat, hasilnya menunjuk ke titik darah ketujuh!’

Itulah kuncinya. Yeo-woon mulai menghitung jumlah garis dan lubang pada setiap huruf untuk menentukan titik-titik darah yang menjadi jalur aliran energi. Tak lama kemudian, dia berhasil menyusun aliran energi yang melewati dua puluh tiga titik.

“Hahahahaha! Ini dia! Akhirnya ketemu!!!”

Lanjut membaca Ch 37 - Mengumpulkan Sebelas Orang (1)

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .
☕
Tekan ▶ untuk mulai membaca
0% 100%