“ARGH!”
Ha Ilming terpental. Orang yang menendangnya adalah Bakgi. Ha Ilming bangkit sambil meringis menahan sakit.
‘Sial... patah lagi!’
Belum lama dia pulih dari tulang rusuk kanan yang patah akibat Yeo-woon, sekarang tulang rusuk kirinya kembali patah. Bakgi memancing amarahnya.
“Lawan aku.”
“Berani sekali kau menyergapku!”
“Menyergap? Aku cuma melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan.”
Ha Ilming murka, tetapi tak bisa menemukan alasan untuk membantah. Malam sebelumnya, dia juga mendapat keuntungan karena serangan Wu Penghak ketika mereka berusaha menangkap Bakgi. Kini semua perbuatannya berbalik menimpanya.
‘Terlambat untuk kabur sekarang.’
Dia tak punya pilihan selain bertarung. Ha Ilming lalu berteriak kepada anggota kelompoknya.
“Serang!”
“Aaaaaah!”
Para anggotanya langsung menyerbu dengan pedang kayu. Namun, Ha Ilming justru tertegun karena mereka hanya menyerang para kadet kelompok ke-12 yang berada di belakang mereka.
“Apa yang kalian lakukan?!”
Ha Ilming berteriak marah, tetapi anggota kelompoknya tetap fokus menyerang kelompok ke-12. Kelompok itu menghalangi jalan keluar mereka. Para anggota Ha Ilming hanya ingin melarikan diri dari tempat itu. Mereka tak mau berhadapan dengan monster seperti Cheon Yeo-woon dan teman-temannya. Dari apa yang mereka lihat, mereka pasti akan babak belur jika tidak segera kabur.
“Rasakan ini!”
Bakgi melayangkan tendangan bertubi-tubi dan menghujani Ha Ilming dengan serangan. Ha Ilming marah kepada anggota kelompoknya yang sibuk melarikan diri, tetapi dia juga tak bisa mengabaikan serangan Bakgi.
“Sial!”
Ha Ilming mengambil posisi bertahan untuk menangkis tendangan Bakgi.
“Kalau begitu, kita bergerak juga?”
Ko Wanghur menegangkan otot-ototnya lalu melompat maju. Hu Bong, yang sejak tadi menunggu kesempatan untuk membalas dendam, juga ikut menyerbu dengan penuh amarah.
“Ini pertarungan pertamaku. Heh.”
Hou Sangwha tersenyum puas. Wajahnya memang bulat dan imut, tetapi aura yang dipancarkannya justru kasar dan agresif.
“K-kau ternyata lebih galak daripada kelihatannya.”
Jin Guuk terperangah melihat perkelahian besar itu.
“Kita juga harus maju! Saatnya membalas mereka!”
Ja Wumin berteriak. Hou Sangwha, Machil, dan Jin Guuk pun menyerbu anggota kelompok Ha Ilming. Kini total empat puluh kadet saling bertarung. Pertarungannya berlangsung timpang karena anggota Ha Ilming berusaha kabur, sementara Yeo-woon dan para kadet kelompok ke-12 mengejar mereka dengan penuh amarah.
“Ugh!”
Yumpa terperangah. Dia sudah berusaha sekuat tenaga menghindari situasi seperti ini. Seandainya dia berhasil membuat lebih banyak kadet ikut melawan, kejadian ini tak akan terjadi. Yumpa mundur selangkah, tetapi Cheon Yeo-woon berjalan ke arahnya seperti malaikat maut.
“Kau pikir bisa kabur?”
“Aku tidak menyangka akan melihat kejadian seperti ini.”
“Itulah akibatnya kalau kau suka bermain licik.”
Sungguh bodoh jika Yumpa mengira Yeo-woon akan terjebak dalam permainan Cheon Yuchan. Aura agresif yang terpancar dari Yeo-woon membuat Yumpa sadar bahwa dia tak mungkin bisa kabur.
“Argh!”
Anggota kelompok Ha Ilming tumbang satu per satu. Jumlah mereka kalah banyak dan kemampuan mereka juga kalah jauh. Hasilnya sudah bisa ditebak.
“Hah!”
Tendangan Bakgi terus menghantam dada Ha Ilming. Ha Ilming berusaha sekuat tenaga untuk melawan, tetapi tulang rusuk kirinya yang patah membuat gerakannya melambat. Kini dia tak punya cara untuk menahan tendangan Bakgi.
‘...Aku gagal. Tidak mungkin menang.’
Ha Ilming, satu-satunya harapan Yumpa, bahkan sedang kalah. Pertarungan itu sudah ditentukan hasilnya. Perlawanan lebih jauh hanya akan membuat mereka semakin terluka. Yumpa lalu memikirkan satu-satunya pilihan yang tersisa.
‘Kalau aku tidak bisa mengalahkannya...’
Yumpa melemparkan pedangnya ke tanah, lalu berlutut di hadapan Yeo-woon. Tindakannya membuat pihak lawan terkejut. Dia menundukkan kepala hingga menyentuh tanah dan berbicara dengan sopan.
“Anda menang, Pangeran Cheon.”
Itu adalah pernyataan menyerah. Yumpa sudah pernah kalah sekali, jadi dia tahu tak punya peluang melawan Cheon Yeo-woon. Karena itu, dia memilih menyerah demi menyelamatkan diri.
“Ini belum selesai.”
Pertarungan memang hampir berakhir, tetapi masih berlangsung. Namun, Yumpa, sang dalang, justru menyerah tanpa mencoba apa pun. Yeo-woon merasa jijik melihatnya.
“Tidak, semuanya sudah selesai. Kami sudah kalah. Kumohon, tunjukkan belas kasihan yang pantas diberikan oleh seorang pewaris takhta.”
Kata-katanya terdengar sopan, tetapi dalam situasi seperti itu, menyebut-nyebut pencalonan sebagai pewaris takhta justru terasa menjijikkan.
“Huh.”
Cheon Yeo-woon menghela napas.
‘Dia memang marah, tetapi tidak akan menyerang orang yang sudah berlutut meminta ampun... Hehehe.’
Yumpa menunduk sehingga tak seorang pun bisa melihat ekspresinya, tetapi dia sedang tersenyum. Jika Yeo-woon sebagai pemimpin mengambil keputusan saat itu, pertarungan pasti akan berakhir. Yeo-woon juga salah satu pewaris takhta, jadi Yumpa mengira dia tak akan menyerang orang yang sudah menyerah.
“Belas kasihan?”
Yeo-woon menggeleng dan berjongkok. Lalu, dia menjambak rambut Yumpa dengan keras.
“ARGH!”
Yeo-woon menariknya ke atas hingga kepala Yumpa ikut terangkat. Wajah Yumpa tampak kesakitan.
“Aaaargh! A-apa yang kau lakukan? Aku sudah menyerah...”
“Menyerah? Kalau kau tidak ingin bertarung, seharusnya sejak awal kau tidak memulai semua ini.”
Yeo-woon lalu mengepalkan tangannya.
‘T-tidak! Jangan bilang...!’
Yumpa ketakutan dan berusaha melepaskan diri dari cengkeraman Yeo-woon, tetapi tak berhasil. Rasanya seperti tertindih batu raksasa.
“T-tunggu...”
“Diam.”
“ARGH!”
Yeo-woon membantingnya ke tanah dengan posisi telungkup. Wajah Yumpa menghantam tanah hingga separuhnya terbenam, sementara darah mengucur keluar. Yeo-woon berbisik kepada Yumpa yang gemetar, “Kau akan membayar karena sudah menyakiti teman-temanku.”