Orang normal tidak akan pernah mengalami wajahnya tertancap ke tanah. Yumpa baru bisa berpikir jernih setelah kekuatan dahsyat menghantamnya ke permukaan tanah. Rasa sakit yang luar biasa menjalar ke seluruh wajahnya hingga dia hampir pingsan. Batu dan tanah menancap di kulit wajahnya. Dia bisa merasakan darah mengalir dari sekujur wajah.
“Aaargh...”
Yeo-woon kembali mengangkat kepala Yumpa. Wajahnya sudah remuk. Gigi depannya bergoyang, sedangkan hidungnya yang patah membentuk sudut aneh. Rasa sakit yang begitu hebat membuat Yumpa bahkan tak mampu menyadari betapa hancurnya wajahnya sendiri.
“Argh... Ah...”
Setelah bisa bernapas lagi, Yumpa berusaha mengumpulkan pikirannya dan akhirnya mampu berbicara dengan susah payah.
“I-ini... keterlaluan.”
“Aku bahkan belum mulai.”
“Heeek!”
Wajah Yumpa langsung pucat. Setelah sekali dibanting ke tanah saja dia merasa hampir mati, tetapi ternyata itu baru permulaan. Yeo-woon kembali menjambak rambutnya. Yumpa buru-buru berteriak, “A-apa kau pikir Cheon Yuchan akan membiarkanmu bebas setelah melakukan ini?!”
Dia seharusnya merahasiakan orang di balik semua kejadian ini, tetapi malah keceplosan menyebut namanya. Tentu saja, Yeo-woon sudah tahu bahwa Yumpa bekerja untuk Cheon Yuchan.
“Cheon Yuchan... memangnya kenapa?”
Yumpa sadar telah melakukan kesalahan, tetapi semuanya sudah terlambat. Kini dia hanya bisa berharap Yeo-woon takut kepada Yuchan. Cheon Yuchan adalah salah satu kadet terkuat di akademi, sehingga kebanyakan kadet memang takut kepadanya. Namun...
“Aku tidak peduli.”
‘A-apa?’
Rencana Yumpa sudah berantakan sejak awal. Menyebut nama Yuchan justru tampaknya membuat Yeo-woon semakin marah.
“Kau pikir aku akan takut hanya karena kau menyebut nama Cheon Yuchan?”
Tiba-tiba, sesuatu terlintas di benak Yumpa.
‘Tunggu... kudengar Cheon Yeo-woon menghancurkan semua tulang Cheon Jongsum.’
Reputasi buruk Cheon Yeo-woon mencapai puncaknya setelah dia menyingkirkan Cheon Jongsum. Yumpa pun menyesal telah menyebut nama Yuchan. Jika Yeo-woon takut kepada pangeran lain, dia tak mungkin melakukan hal seperti itu kepada Cheon Jongsum.
“Sebaiknya kau urus keselamatanmu sendiri dulu. Lagi pula, dia memang targetku berikutnya.”
“Hah? Berikutnya? Ah... AAAAARGH!”
Kepala Yumpa kembali dibanting ke tanah. Ini kali kedua. Mungkin dia akan terbiasa setelah mengalaminya sekali, tetapi ternyata tidak. Yumpa mengerang dengan busa keluar dari mulutnya, lalu segera pingsan. Setidaknya, Yeo-woon melakukannya dengan cukup hati-hati agar kepalanya tidak benar-benar hancur. Yeo-woon memandang Yumpa dengan jijik dan menggelengkan kepala. Ko Wanghur lalu menghampirinya.
“Master, kita sudah mengalahkan semuanya.”
“Bagus.”
Sebelas kadet yang berada bersama Ha Ilming kini berlutut di belakang Ko Wanghur. Semuanya terluka dan gemetar ketakutan. Mereka tak menyangka kejadian malam sebelumnya akan berujung seperti ini.
“Lalu Ha Ilming?”
“Dia di sana.”
Ko Wanghur menunjuk ke satu arah. Ha Ilming sedang berlutut di hadapan Bakgi dan menatapnya dengan penuh amarah.
‘Seandainya tulang rusukku baik-baik saja...!’
Ha Ilming berpikir dia tak akan kalah semudah itu jika tulang rusuknya tidak cedera. Namun, pertarungan sudah berakhir. Yeo-woon menghampirinya dan menatapnya dengan dingin.
“NNNGHH!”
Ha Ilming berusaha mengatakan sesuatu, tetapi titik darahnya telah disegel sehingga dia tak bisa berbicara. Yang keluar hanya erangan. Meski kalah, dia tetap melawan sebisanya. Karena itulah titik darahnya juga disegel agar tubuhnya tak bisa bergerak.
“Apa yang kau inginkan? Perlu kubiarkan dia bicara?” tanya Bakgi.
Yeo-woon menggeleng. Dia memang tidak ingin mendengar apa pun dari orang itu.
“Lalu?”
“Kita balas dengan cara yang sama.”
‘Balas?’
Ha Ilming mendongak dengan ekspresi bingung. Yeo-woon berjongkok hingga sejajar dengannya, lalu meraih tangan kanannya.
‘A-apa yang akan dia lakukan?!’
Mata Ha Ilming bergetar karena membayangkan sesuatu yang mengerikan. Tak lama kemudian, bayangannya menjadi kenyataan. Yeo-woon menekuk salah satu jarinya ke arah berlawanan hingga patah.
“NNNNNNNGH!”
Ha Ilming mengerang dan menggeliat kesakitan. Gallen dan para kadet kelompok ke-12 lainnya juga meringis melihatnya. Namun, itu baru permulaan. Yeo-woon melanjutkan dengan mematahkan semua jari Ha Ilming ke arah belakang.
‘B-bajingan gila ini!’
Rasa sakitnya begitu hebat hingga wajah Ha Ilming memerah padam dan urat-urat di lehernya menonjol. Matanya juga merah, tetapi luar biasa dia masih belum menangis karena kesakitan.
“Kenapa? Sakit?” tanya Yeo-woon.
Ha Ilming menatap Yeo-woon dengan penuh kebencian meskipun sedang menahan rasa sakit.
‘Berani-beraninya dia bertanya begitu setelah mematahkan jari-jariku!’
Yeo-woon tak peduli pada tatapan Ha Ilming dan melanjutkan ucapannya.
“Ohjong mungkin merasakan sakit yang sama. Tidak... mungkin malah lebih sakit daripada ini.”
Jari-jari Ohjong dipatahkan saat dia dihajar. Begitu nama Ohjong disebut, anggota kelompok Ha Ilming mulai gemetar ketakutan.
‘S-sial...’
Saat itu Ha Ilming sedang sibuk bertarung melawan Bakgi, tetapi justru para anggotanya yang menghajar Ohjong dan mematahkan jari-jarinya. Kini semuanya kembali menghantui mereka.
“Aku hanya membalas kalian dengan cara yang sama. Kalian sendiri yang mengundang akibat ini.”
“NNNNGH!”
‘BAJINGAN!!! AKU AKAN MEMBUNUHMU!!!’
Ha Ilming kesakitan luar biasa, tetapi dia tetap tak mau gentar. Yeo-woon lalu tersenyum dan menamparnya.
“NGH!”
Tamparan itu begitu kuat hingga hampir mematahkan lehernya. Ha Ilming tak bisa menggerakkan tubuh, sehingga kepala dan tubuhnya terlempar ke belakang bersamaan. Justru hal itu yang menyelamatkannya. Kalau dia sempat menahan serangan, tulang lehernya mungkin akan patah. Tamparan itu begitu keras hingga Ha Ilming pingsan. Yeo-woon berdiri dan memberi perintah kepada anggota timnya.
“Patahkan kaki mereka dan patahkan semua jari mereka.”
Ucapan Yeo-woon membuat ekspresi kedua kelompok berubah drastis. Anggota tim Yeo-woon tersenyum puas karena akhirnya bisa membalas perlakuan terhadap Ohjong. Sebaliknya, para anggota Ha Ilming langsung pucat.
‘K-kami beruntung...’
Gallen merasa lega karena telah mengambil keputusan yang tepat. Seandainya dia menerima tawaran Yumpa, nasibnya pasti akan sama. Akhir yang mengerikan bagi orang-orang yang terlalu serakah demi mendapatkan yellow tag.
Tepat saat itu, tubuh Ha Ilming mulai bergerak. Ada yang aneh. Urat-urat mulai menonjol dari bawah kulitnya, sementara bola matanya yang semula berputar mulai berubah merah. Setelah semuanya memerah, Ha Ilming mengaum seperti binatang buas dan menerjang Yeo-woon.
“Kaaaaargh!”
“M-Master!”
Peringatan keras Hu Bong menggema di seluruh pegunungan.