Ch 194 - Api di Kelas, Api di Biara

Novel: The Extra's Academy Survival Guide

← Sebelumnya Berikutnya →


Bang!!


Orang-orangan sawah untuk praktik luar ruangan hancur dilahap ledakan.


Asap mengepul tinggi.

Potongan kayu berserakan.


Satu mantra saja.


Point Explosion.

Sihir tingkat menengah yang menitikberatkan kecepatan, bukan daya hancur.


Namun dampaknya cukup membuat seluruh kelas membeku.


Ketika asap menipis, aku berdiri di tengahnya, menggoyangkan tangan yang tadi mengayun mantra.


Tak ada keringat.

Tak ada napas terengah.


Professor Kaleid menatapku dengan mata setengah mengantuk.


“Cukup. Ed Rothstaylor, mulai besok masuk Kelas A.”


“Tapi evaluasi transfer belum keluar.”


“Aku yang urus. Pergi saja.”


Suasana kelas sunyi.


Mahasiswa tahun ketiga yang baru pertama kali belajar sihir menengah menatapku seolah harapan mereka runtuh bersama orang-orangan sawah itu.


Advanced Magic.


Jumlah mahasiswa yang bisa memakainya di Sylvania tak sampai sepuluh.


Dan aku baru saja dilempar ke sana tanpa proses formal.


“Kau tak akan belajar apa-apa di sini. Pulanglah.”


Aku hanya mengangguk dan keluar.


Tatapan mereka menempel di punggungku.


Waktu Luang yang Tak Nyaman


Tiba-tiba aku punya waktu kosong.


Rutinitasku biasanya padat dan terstruktur.

Waktu senggang justru terasa mengganggu.


Aku duduk di Student Plaza, memandangi mahasiswa berlalu-lalang di bawah matahari musim gugur.


Tawa.

Seragam rapi.

Percakapan ringan.


Baru kali ini aku benar-benar memperhatikan.


Sylvania memang tempat penuh romansa masa muda.


Apakah selama ini aku hidup terlalu kaku?


…Mungkin.


Tapi aku tak punya kemewahan itu.


Kupikir, mumpung ada waktu, aku pergi ke Obel Hall.


Tanya Rothstaylor sudah kembali.


Realita di Balik Wibawa


Yang kutemui di ruang ketua OSIS jauh dari bayanganku.


“Aku ingin meninju semuanya… hiks…”


Tanya membenamkan wajah di meja.


“Aku ingin kabur. Bangun rumah kecil di Kohelton. Bertani. Minum teh. Lupakan semuanya…”


Aku terdiam.


Gadis yang dulu berdiri tegap di depan reruntuhan mansion kini menangis karena 97 laporan keluhan harian.


“Selah terus menekanku. Surat datang ratusan. Tak ada yang memujiku. Tolong aku, Kak.”


“…Kau bisa.”


Respons paling klise yang pernah kuucapkan.


Namun ia menatapku dengan mata membesar.


“Tak ada yang pernah menyemangatiku seperti itu.”


Tanya menghela napas panjang.


Meski mengeluh, ia tetap bertahan.


Ia sudah merekrut:

  • Komandan Magnus dari Callamore

  • Sinir Bloomriver

  • Erkel Elpelan


Langkah politiknya tajam.


“Aku terang-terangan memusuhi Putri Selah. Karena dia tak akan pernah jadi sekutu.”


Sederhana. Brutal. Efektif.


Namun saat kusebut soal Biara Cledric, wajahnya berubah.


Biara Cledric


Saint Clarice memintaku menemaninya.


Upacara besar Telos.

Tamu kehormatan termasuk—


Princess Persica Cloel.


Tanya menggigil.


“Jangan pergi.”


“Kenapa?”


“Itu tempat terkutuk.”


Ia menjelaskan.


Biara di pulau kecil.

Hanya bisa diakses saat air surut.


Para biarawati—


Sebagian bangsawan yang disingkirkan.

Anak haram.

Yatim piatu.


Terisolasi dari dunia.


“Dan mereka… tak pernah berinteraksi dengan pria.”


Aku mengerutkan kening.


“Setiap kali melihat pria, mereka bisa membayangkan seluruh hidup bersama sebagai pasangan.”


“…Apa?”


“Bahkan dengan tukang bangunan berjanggut!”


Tanya menatapku serius.


“Dan kau? Usia pas. Wajah lumayan. Itu akan jadi bencana.”


Aku tak tahu harus menanggapi bagaimana.


“Singkatnya, jangan pergi.”


Masalahnya, variabel bernama Persica ada di sana.


Dan Clarice bersikeras.


Di Kamp


Sore itu, Yennekar Palerover sedang menyiapkan makan malam.


Ia bersenandung pelan.


Tiba-tiba suara canggung terdengar.


“H-Halo…”


Patriciana Bloomriver muncul membawa botol merah.


Ramuan Red Forget-Me-Not.


“Korban jadi setengah sadar, menuruti perintah, dan lupa setelahnya!”


Yennekar mendengarkan.


Semakin lama wajahnya mengeras.


“Ini tidak benar, Patriciana.”


“Apa…?”


“Itu tidak sopan. Itu akan merusak hubungan.”


Ia menolak dengan lembut.


Patriciana tak menyangka ditolak.


Tatapannya berubah keras kepala.


Firasa


Di koridor Ophelis Hall,

Trayciana Bloomriver mencengkeram tongkatnya gelisah.


“Aku merasa sesuatu akan terjadi…”


Bell Maia mencoba menenangkannya.


Namun intuisi seorang kakak jarang meleset.


Langit Sylvania tampak damai.


Namun di bawahnya:

  • Ramuan manipulatif mulai bergerak.

  • Biara Cledric menunggu.

  • Persica bersiap tampil.

  • Dan Velbrok masih menjadi bayangan di masa depan.


Ketenangan ini… terlalu sunyi.


Biasanya, sebelum badai berikutnya datang.

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .