Di Kamp Aken
Api unggun berderak pelan.
Yenika Palover duduk terpaku, matanya basah setelah mendengar kisah masa lalu Belle Maia.
Kisah tentang Baron Planzel—ayah kandung Belle—yang mengorbankan dirinya demi menyelamatkan putrinya dari bangsawan serakah.
“Itu… terlalu menyedihkan…” gumam Yenika.
Belle menggeleng pelan.
“Ada bagian yang tidak kuceritakan pada Master Ed.”
Yenika mengangkat wajahnya.
“Baron Planzel sudah sakit parah. Umurnya tak akan lama, bahkan tanpa kejadian itu.”
Hening.
Makna cerita itu berubah total.
Bukan tragedi tak berdaya.
Melainkan pilihan.
Seorang pria tua yang tahu ajalnya dekat—memutuskan sendiri bagaimana hidupnya berakhir.
“Ia ingin memberi makna pada hidupnya,” ujar Belle pelan.
Di kamarnya di Ofilis Hall, belati keluarga Planzel masih tergantung rapi. Warisan terakhir dari seorang ayah yang tersenyum saat mengucapkan selamat tinggal.
Bagi Belle, itu bukan kisah yang menyakitkan.
Itu kisah kepahlawanan.
Kapel yang Kosong
Di Biara Cledric, malam kembali sunyi.
Aku duduk berhadapan dengan Princess Persica.
“Austin bunuh diri,” kataku datar.
Tune langsung menempelkan pisau ke leherku.
Aku tak bergerak.
“Putri Persica,” lanjutku tenang, “aku jauh lebih kuat dari pengawalmu.”
Itu bukan ancaman.
Itu fakta.
Persica menyipitkan mata.
“Kau berbicara terlalu jauh.”
“Justru belum cukup jauh.”
Aku menyebutkan semuanya.
Rencana Persica untuk menekan Austin dengan rahasia demi-human.
Upaya membujuknya agar mendukung secara resmi dalam sidang kekaisaran mendatang.
Dan bagaimana Austin menyadari—
Jika ia tetap hidup, biara akan selamanya berada di bawah ancaman politik.
Maka ia memilih mati.
Dengan mengubah luka cakaran menjadi luka tusukan.
Dengan membakar semua surat dari Persica.
Dengan mengunci sang putri dalam jebakan moral yang tak bisa ia bantah.
Jika kebenaran terbongkar—
Telos Church akan memusuhi Persica.
Jika tidak terbongkar—
Persica harus menjaga rahasia itu selamanya.
“Dia memaksamu naik ke perahu yang sama dengannya,” kataku.
Persica menutup mata.
Ia mengerti.
“Permintaanku sederhana,” lanjutku.
“Kirim sejumlah Ksatria Kekaisaran ke Pulau Aken nanti. Dan bebaskan Lucy.”
Hanya dua itu.
Persica terdiam lama.
Akhirnya—
“Kau menang kali ini.”
Loteng yang Kosong
Aku menaiki menara untuk menemui Lucy Mayril.
Loteng kosong.
Dinding berlubang oleh sihir.
Tentu saja.
Ia kabur.
Bukan untuk melarikan diri—
Tapi untuk berjalan.
Di Atap Biara
Angin laut berhembus dingin.
Lucy duduk memeluk lutut, menatap langit penuh bintang.
Di belakangnya, bilah-bilah cahaya membentuk segel ruang.
Di dalamnya—
Ailen.
Gadis demi-human pirang yang kabur beberapa hari lalu.
Tangan berlumur darah. Telinga binatang terlihat jelas. Ia menangis, setengah sadar.
Lucy menahannya.
Melindunginya.
“Jangan dekat-dekat,” gumam Lucy. “Kadang dia masih mencoba menggigit.”
Jadi rumor “hantu”—
Separuh Ailen.
Separuh Lucy yang bergerak malam hari membawa makanan.
Aku duduk di samping Lucy.
“Ceritakan semuanya.”
Malam Terakhir Austin
Lucy menemukannya di atap.
Abbot Austin tergeletak bersimbah darah.
Luka kecil tapi dalam di perut—bekas cakar.
Bagi orang tua 109 tahun, itu sudah cukup mematikan.
Lucy mencoba menyembuhkan.
Austin menolak.
“Aku tahu tubuhku sendiri.”
Ia mengenali Lucy sebagai murid Glokt.
Dan ia meminta dua hal:
Tangkap Ailen.
Pindahkan aku ke kamarku.
Di kamar sederhana itu, surat-surat dari Persica menumpuk di meja.
Lucy membaca sekilas.
Austin membakar semuanya.
“Aku harus melindungi putri-putriku.”
Ia membuka laci bawah.
Belati upacara.
Menusukkannya ke luka cakar.
Menghapus jejak demi-human.
Mengubahnya menjadi pembunuhan manusia.
Kategori tersangka melebar.
Biara selamat.
Austin tersenyum pada bintang terakhir dalam hidupnya.
Di Atap, Sekarang
Lucy menatap laut.
“Aku bisa menghancurkan biara ini kalau mau.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa memindahkan orang sejauh ribuan langkah dalam sekejap.”
“Aku tahu.”
“Tapi… aku tak bisa melakukan apa-apa.”
Air mata jatuh.
Untuk pertama kalinya, Lucy—archmage yang bisa membengkokkan ruang—tak berdaya.
Jika ia bicara sembarangan, rahasia demi-human terbongkar.
Jika ia melawan, pengorbanan Austin sia-sia.
Jadi ia diam.
Dan membiarkan dirinya ditangkap.
“Ada banyak hal di dunia… yang tak bisa diselesaikan dengan kekuatan saja,” kataku pelan.
Lucy terisak.
Aku merangkul bahunya.
Kami duduk berdampingan di atap tinggi biara, menatap api obor pasukan investigasi di kejauhan.
Bintang jatuh melintas panjang di langit.
Lucy menangis tanpa suara.
Dan untuk pertama kalinya sejak lama—
Ia belajar bahwa makna hidup bukan sesuatu yang ditemukan.
Melainkan sesuatu yang diberikan.