Lorong biara sunyi total malam itu.
Tak ada biarawati yang berjalan-jalan. Tak ada tamu yang berani keluar kamar. Setelah kematian Abbot Austin, semua orang memilih diam dan menutup pintu.
Itu sebabnya aku dan Auxiliary Bishop Melinir bisa bergerak tanpa terlihat.
Di ujung lorong, kami menuruni tangga panjang menuju bawah tanah.
Di sabuk Melinir tergantung puluhan kunci. Bunyi gemerincingnya memantul di dinding batu.
“Di bawah Biara Cledric… ada ruang penebusan dosa,” katanya pelan.
Ruang Penebusan
Kami melewati dapur, gudang logistik, kebun kecil, lalu masuk ke bangunan annex. Di ujung terdalam terdapat tangga turun bertuliskan:
Repentance Room
Di bawahnya, lorong panjang seperti penjara batu.
Sel-sel berjajar kiri kanan. Jeruji besi berkarat. Di dalamnya hanya ada kitab suci dan perlengkapan doa sederhana.
Sekilas, tempat ini tampak hanya simbolis.
Namun Melinir terus berjalan.
Di ujung lorong, ia mengambil sebuah Alkitab dari rak tinggi. Menekan sesuatu di baliknya.
— Krek.
Rak bergeser.
Sebuah pintu kayu besar tersembunyi terbuka.
Dan di baliknya—
— Haaahh…
— Kaang! Kaang!
— Grrrrr…
Suara napas berat.
Suara makhluk.
Sel-sel lain berjajar di dalam ruangan rahasia itu.
Dan di balik jeruji—
Makhluk setengah manusia.
Telinga binatang. Ekor. Mata merah.
Para demi-human.
Anak-Anak yang Disembunyikan
Melinir berbicara dengan mata tertutup, seolah tak sanggup melihat.
“Setelah perang penaklukan demi-human… Zelan membawa tiga belas anak demi-human ke Abbot Austin.”
Nama itu tak asing.
Zelan the Cutter. Pahlawan perang yang membasmi kaum demi-human.
Ternyata, di balik reputasi itu, ia menyelamatkan anak-anak yang terlalu kecil untuk bertarung.
Ia menyerahkan mereka pada Austin.
“Anak-anak ini tidak terlibat perang. Mereka lahir dalam darah, tapi tidak memilihnya.”
Namun ada satu masalah.
Saat bulan purnama—
Naluri binatang mereka bangkit.
Karena itu, pada malam tertentu, mereka mengurung diri di ruang ini.
Mengikat diri sendiri.
Menunggu sampai kesadaran kembali.
Aku teringat ucapan Austin dulu:
“Anak-anak ini lahir dari hatiku.”
Ia menyembunyikan keberadaan demi-human dari Kekaisaran.
Jika ini terbongkar—
Biara Cledric bisa dihancurkan.
“Hantu” Itu Bukan Lucy
Melinir menuntunku ke satu sel kosong.
Jendelanya pecah.
“Ailen… kabur beberapa hari lalu.”
Ailen.
Gadis pirang bermata biru yang pernah kulihat di ruang jahit.
Jadi rumor “hantu”—
Bukan Lucy.
Itu Ailen, yang kehilangan kendali mendekati purnama.
Dan malam itu, Austin berkata:
“Aku akan menangkap hantu.”
Ia pergi mencari Ailen.
Lalu ditemukan tewas di kamarnya.
Awalnya tampak tak masuk akal.
Luka tusukan belati.
Kamar rapi.
Tak ada jejak amukan binatang.
Namun saat aku memikirkan ulang—
Potongan terakhir jatuh pada tempatnya.
Keesokan Harinya
Siang hari berikutnya, pertemuan kembali digelar.
Princess Persica berdiri di podium, tenang seperti biasa.
“Tim investigasi Kekaisaran akan tiba malam ini. Lucy Mayril akan diserahkan. Lalu semua kembali ke wilayah masing-masing.”
Lucy Mayril dikurung di loteng menara.
Ia tidak melawan. Tidak bicara.
Clarice memandangku dari podium.
Tatapan yang bertanya:
Apakah ini benar-benar akan berakhir seperti ini?
Aku menggeleng pelan.
Belum.
Setelah Semua Orang Pergi
Kapel kosong.
Persica duduk di meja doa, ditemani ksatrianya, Tune.
“Akhirnya selesai,” katanya lelah. “Sayangnya… tak ada hasil yang berarti.”
Ia menatap kaca patri bergambar malaikat.
Persica tidak percaya Tuhan.
Dan aku juga tidak.
Saat itulah—
Aku bangkit dari bangku belakang.
Melangkah pelan ke karpet merah di tengah kapel.
Ia terkejut melihatku.
Ed Rosstaylor.
Kami duduk saling berhadapan di meja doa.
Aku menautkan tangan, pura-pura berdoa.
“Lucu ya,” kataku tenang, “kita berdoa di tempat suci, padahal tak percaya pada Tuhan.”
Persica tersenyum tipis.
“Berani sekali kau berkata begitu di pusat Telos.”
Aku membuka mata.
“Kalau Tuhan maha tahu, tentu Ia tahu kebenaran tentang kematian Abbot Austin.”
Hening.
“Apa maksudmu?”
Aku menatap lurus ke arahnya.
“Setidaknya… Yang Mulia Putri pasti tahu, bukan?”
Tune sedikit bergerak.
Itu reaksi kecil, tapi cukup.
Aku melanjutkan.
“Bahwa Abbot Austin tidak dibunuh.”
Persica menyipitkan mata.
Aku mengucapkannya tanpa ragu.
“Itu bunuh diri.”
Keheningan di kapel terasa berat seperti batu.
Tune, yang selalu tenang, untuk pertama kalinya terlihat goyah.
Dan aku tahu—
Aku tidak salah.