Di Kamp Aken
Ketika Belle Maia datang ke kamp untuk menyampaikan kabar, ia justru terkejut.
Kamp itu—yang biasanya dikelola oleh Ed—ternyata jauh lebih rapi dari perkiraan.
Kayu bakar tersusun simetris.
Peralatan diletakkan sejajar.
Bahan makanan dipisahkan berdasarkan kategori.
Yenika Palover berdiri dengan kedua tangan di pinggang, tampak bangga.
“Aku tidak membiarkannya berantakan!”
Belle tersenyum tipis.
Memang, dalam lima hari di alam liar, gulma tumbuh, makanan membusuk, dan air mengering. Tapi Yenika ternyata berkembang pesat. Roh-roh membantu pekerjaan berat, sementara ia sendiri mengurus detailnya.
Namun Belle tidak datang untuk memuji.
“Jadwal kepulangan Master Ed tertunda.”
Yenika membeku.
“Ada urusan mendesak di biara.”
Wajah Yenika langsung berubah murung.
“Aku merasa akhir-akhir ini dia banyak memikirkan sesuatu…”
Belle terdiam sesaat.
Ia akhirnya duduk berhadapan dengan Yenika.
“Master Ed… dulu pernah mencoba mengakhiri hidupnya.”
Wajah Yenika pucat.
Belle menceritakan sebagian masa lalu Ed—betapa pesimisnya ia dulu. Namun ada satu bagian yang belum ia ceritakan pada Ed sepenuhnya.
Sebuah detail penting.
Dan kini, rahasia itu mulai terasa semakin berat.
Kembali ke Biara Cledric
Di tengah lorong utama biara, peti jenazah Abbot Austin dikelilingi karangan bunga.
109 tahun.
Delapan puluh tahun mengabdi pada Telos.
Seorang wanita yang membesarkan para biarawati seperti anak sendiri.
Kini terbaring tak bernyawa.
Pengumuman di Kapel
Setelah makan siang, semua tamu, bangsawan, dan biarawati senior dikumpulkan.
Di podium duduk tiga figur otoritas:
Clarice
Princess Persica
Auxiliary Bishop Melinir
Melinir berbicara pertama.
“Ada bekas tusukan belati pada tubuh Abbot Austin. Penyebab kematian adalah pendarahan hebat. Ini bukan kematian alami.”
Keributan meledak.
Para bangsawan putri berdiri memprotes. Mereka datang untuk menunjukkan kesetiaan, bukan menjadi tersangka.
Clarice menenangkan mereka.
“Sulit mencari motif. Abbot Austin adalah orang yang berbelas kasih pada semua.”
Lalu Persica berdiri.
Dengan suara tegas dan terkontrol, ia membalikkan kecurigaan yang sempat mengarah padanya.
“Membunuh seorang tetua gereja hanya untuk melemahkan dukungan terhadap Putri Fenia? Apakah aku terlihat sebodoh itu?”
Ia benar.
Membunuh Austin sama saja memusuhi seluruh Telos Church.
Itu langkah politik yang terlalu bodoh.
Kemudian Persica mengubah arah pembicaraan.
“Tadi malam, Abbot Austin mengatakan ia akan ‘menangkap hantu’.”
Suasana membeku.
Rumor tentang hantu di biara sudah menyebar beberapa hari terakhir.
Suara langkah di atap.
Bayangan kecil di lorong.
Bahan makanan hilang.
Dan Persica menyebut satu nama.
“Lucy Mayril.”
Tersangka Utama
Kerumunan terdiam.
Seorang gadis kecil dengan topi penyihir besar berdiri dari bangku doa.
Lucy Mayril berjalan perlahan ke depan.
Tatapannya datar.
Tanpa protes.
Tanpa pembelaan.
“Dia adalah satu-satunya outsider yang pergerakannya tidak tercatat,” ujar Persica.
Clarice langsung berdiri.
“Lucy tidak punya alasan menyakiti Abbot Austin!”
Persica menjawab tenang.
“Kita sudah sepakat sulit menemukan motif. Maka kita gunakan eliminasi.”
Lucy tidak melawan.
Ia bahkan tidak berusaha membela diri.
Ia membiarkan dirinya diborgol.
Di situlah kejanggalan terbesar muncul.
Lucy bisa kabur kapan saja.
Dengan sihir tingkat tinggi, bahkan laut dan dinding bukan penghalang.
Namun ia tetap tinggal.
Diam.
Seolah memang menginginkan ini.
Aku duduk di antara para tamu, menganalisis.
Jika Lucy benar-benar pelakunya, ia tak mungkin tetap di sini.
Jika ia bukan pelakunya, mengapa tidak bicara?
Ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Sesuatu yang bahkan belum ia ceritakan padaku.
Kunjungan Tengah Malam
Larut malam.
Ketukan terdengar di pintuku.
Aku membukanya dan mendapati Auxiliary Bishop Melinir berdiri di lorong gelap.
Wajahnya pucat. Tangannya gemetar.
“Aku percaya Lucy bukan pelakunya.”
“….”
“Aku… tahu siapa pelaku sebenarnya.”
Suasana mendadak berat.
“Pelakunya adalah seseorang dari dalam biara.”
Napas Melinir tak stabil.
“Ada rahasia besar yang hanya diketahui Abbot Austin… Rahasia yang bisa menentukan keberlangsungan Biara Cledric itu sendiri.”
Ia menggigit bibir.
“Jika rahasia ini terbuka… dampaknya pada Telos Church akan sangat besar.”
Tangannya gemetar lebih hebat.
“Tolong… sebelum sesuatu terjadi padaku… sampaikan ini pada Sang Santa.”
Aku menyipitkan mata.
Seseorang dari dalam.
Rahasia besar.
Dan Lucy yang sengaja membiarkan dirinya ditangkap.
Semua potongan mulai membentuk bayangan.
Tapi belum jelas.
“Tenang,” kataku pelan. “Ceritakan semuanya dari awal.”
Dan di lorong sunyi biara yang kini terasa lebih dingin dari biasanya,
Melinir mulai mengungkap rahasia yang bahkan Abbot Austin simpan selama puluhan tahun.