Chapter 206 – Ambisi dan Kesalahpahaman
Ambisi Seorang Putri Rosstaylor
“Selama Kekaisaran Cloel bersinar, kejayaan Rosstaylor tidak akan pernah pudar.”
Kalimat itu selalu membuat dada seorang gadis berdebar.
Itu adalah kata-kata yang pernah diteriakkan oleh Bolsherr Rosstaylor, pendiri keluarga Rosstaylor, ketika mengibarkan bendera keluarga di pusat kekaisaran.
Bagi Tanya Rosstaylor kecil, kalimat itu seperti sumpah.
Ia ingin menjadi wanita kuat.
Wanita yang pantas menyandang nama Rosstaylor.
Wanita yang membuat dunia menunduk hormat saat namanya disebut.
Ambisinya menyala seperti obor.
Ambisi yang terlalu besar untuk seorang gadis yang bahkan belum menjalani upacara kedewasaan.
Dua Hari Setelah Ed Pergi
Namun kenyataan di kantor ketua OSIS Obel Hall sangat berbeda.
Tanya tergeletak di meja.
“Aku… ingin mati…”
Di depannya berdiri Ziggs Epelstein yang sedang memegang setumpuk laporan.
“Presiden Tanya… bisa tolong periksa dokumen ini dulu?”
Tanya menoleh dengan mata kosong.
“Senior Ziggs… menurutmu kenapa manusia harus bekerja?”
“Pertanyaan filsafat seperti itu sebaiknya dipikirkan setelah pekerjaan selesai.”
Tanya mendesah panjang.
Ia menatap daftar inventaris bahan alkimia klub mahasiswa, lalu bergumam putus asa.
“Apakah mengecek stok bahan alkimia benar-benar penting…?”
“Penting. Kalau tidak, anak-anak klub bisa mencuri bahan dan membuat sesuatu yang aneh.”
“…Memang penting.”
Dengan wajah seperti orang disiksa, Tanya mulai menandatangani dokumen.
Lalu tiba-tiba ia bergumam lagi.
“Senior Ziggs… di Pegunungan Pulan ada rumah tua milik Baron Clecton yang dijual…”
“Presiden?”
“Aku ingin pensiun dan tinggal di sana.”
Ziggs memijat pelipisnya.
“Presiden, bahkan setengah tahun masa jabatanmu belum selesai.”
Rencana “Pensiun”
Namun Tanya tampak sangat serius.
Ia menggambarkan kehidupan idealnya:
Rumah kecil di pedesaan.
Melukis pemandangan.
Memasak sendiri.
Belajar bordir.
Pergi ke pertemuan sosial dua kali sebulan.
Seolah-olah ia adalah nenek yang akan pensiun dari dunia.
Padahal—
Ia baru memulai hidupnya.
“Senior Ziggs… aku punya ide.”
“Kenapa aku merasa ide ini akan buruk?”
“Aku akan membuat rencana pensiun.”
“….”
Ziggs menjelaskan satu fakta sederhana.
Ketua OSIS tidak bisa mengundurkan diri sesuka hati.
Karena jabatan itu hasil pemilihan mahasiswa.
Tanya membeku.
“…Apa?!”
Jika ia berhenti, seluruh administrasi akademi harus mengadakan pemilihan ulang besar-besaran.
Dan wakil ketua tidak bisa menggantikan permanen tanpa mandat mahasiswa.
Wajah Tanya langsung berubah pucat.
Perang Psikologis Ziggs
Tanya mencoba berbagai cara.
“Kalau aku mogok kerja, mereka pasti mencopotku!”
Ziggs hanya menghela napas.
“Jika presiden berhenti bekerja, berapa banyak mahasiswa dan staf yang harus menunggu keputusan yang tertunda?”
Ia menunjuk tumpukan dokumen.
“Mungkin bagi presiden ini hanya rutinitas. Tapi bagi seseorang… ini bisa jadi harapan yang sangat penting.”
Tanya terdiam.
Ziggs bahkan menyebutkan masalah kesehatan seorang mahasiswa bernama Elka yang membutuhkan keputusan khusus.
Wajah Tanya berkerut.
“Kalau begitu… kenapa tidak bilang dari awal?!”
“Tidak adil meminta perlakuan khusus hanya karena aku anggota OSIS.”
Tanya menggertakkan gigi.
Ia ingin menyerah.
Tapi—
Ia tidak bisa.
Karena satu hal yang tidak bisa ia lepaskan:
tanggung jawab.
Akhirnya dengan wajah seperti orang disiksa, Tanya mulai menandatangani dokumen lagi.
“Ugh… aku benar-benar… benci ini…”
Ziggs menatapnya dengan lega.
Ia tahu sejak awal.
Tanya Rosstaylor tidak akan pernah benar-benar lari dari tanggung jawabnya.
Dua Hari Setelah Ed Pulang
Aku sedang berada di kantor Lortel Kecheln untuk membeli bahan pembuatan busur.
Lortel tiba-tiba berkata,
“Presiden Tanya datang kemari dua hari lalu.”
“Serius?”
Ia mengangguk.
“Aneh sekali. Ia mengancam akan melakukan inspeksi terhadap Elte Company.”
Aku terdiam.
“Itu tidak seperti Tanya.”
“Benar. Ia bertingkah seolah ingin membuat kami marah.”
Lortel bahkan menyelidiki lebih jauh.
Ternyata Tanya juga:
berselisih dengan kantor akademik
menekan klub mahasiswa
memperketat disiplin
memeriksa organisasi tanpa alasan jelas
Seolah-olah—
Ia sengaja membuat orang tidak suka padanya.
“Aneh,” gumam Lortel. “Seolah ia ingin seseorang menyerangnya.”
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Popularitas Tanya
Menurut Lortel, dukungan mahasiswa terhadap Tanya justru sangat tinggi.
Alasannya sederhana:
bekerja keras tanpa henti
menghormati senior
tetap serius belajar
mendengarkan klub mahasiswa
Semua orang melihatnya sebagai ketua OSIS teladan.
Sekretaris Rienna bahkan berkata dengan kagum,
“Presiden Tanya keren sekali. Padahal dia mahasiswa tahun pertama, tapi auranya seperti senior.”
Aku tersenyum bangga.
Tanya memang telah tumbuh.
Keputusan Besar
Aku menatap Lortel dengan serius.
“Tolong dukung Tanya.”
“Untuk apa?”
“Agar dia bisa terpilih lagi tahun depan sebagai ketua OSIS.”
Lortel berkedip kaget.
Namun akhirnya ia tersenyum.
“Kalau itu permintaan Senior Ed… aku tidak keberatan.”
Hari Berikutnya
Di depan Obel Hall, markas OSIS—
tumpukan furnitur mewah tiba-tiba berdatangan.
Patung dekorasi.
Meja mahal.
Kursi antik.
Bahkan keanggotaan tahunan gratis Laplace Bakery untuk anggota OSIS.
Semua hadiah dari Elte Company.
Para anggota OSIS terkejut.
“Ini semua dari Elte Trading Company?!”
“Presiden Tanya luar biasa!”
“Bahkan Lortel Kecheln sampai mendukung kita?!”
Tanya berdiri terpaku di tengah halaman.
Ia datang ke Elte Company dengan niat mencari masalah supaya dimakzulkan.
Namun yang terjadi justru sebaliknya.
Semua orang mengaguminya.
Dyke dari klub tempur bahkan bertanya kagum,
“Presiden… trik apa yang kamu gunakan?”
Tanya hanya berkeringat dingin.
Di kepalanya hanya ada satu pikiran.
Kenapa semuanya malah jadi seperti ini…?
Di langit biru yang cerah—
seolah-olah bayangan kakaknya, Ed Rosstaylor, tersenyum puas sambil mengacungkan jempol.
Dan bagi Tanya—
itu adalah mimpi buruk.