Chapter 210 – Undangan, Perasaan Yenika, dan Rahasia yang Akan Terungkap
Kabar dari Ofilis Hall
Suatu sore, setelah kelas Spirit Society dan Elemental Science selesai, Yenika Palover bertemu dengan seseorang di jalan menuju asrama elit Ofilis Hall.
Orang itu adalah kepala maid di sana.
Belle Maia.
Belle berkata dengan tenang,
“Nona Yenika, Anda bisa kembali ke Ofilis Hall.”
Yenika terkejut.
“Apa?! Bukankah aku dikeluarkan karena hukuman disiplin?!”
Belle menjelaskan dengan sabar.
Hukuman disiplin akademi biasanya berlaku selama satu tahun.
Yenika menerima hukuman itu pada musim semi tahun lalu.
Sekarang musim gugur sudah tiba.
Artinya masa hukuman telah berakhir.
Jika tidak ada komite disiplin baru yang dibentuk, maka kasus tersebut dianggap selesai.
Belle menambahkan satu hal lagi.
“Fakta bahwa ketua OSIS sekarang adalah Tanya Rosstaylor juga berpengaruh besar.”
Tanya bukan tipe orang yang akan memperpanjang hukuman lama.
Selain itu, reputasi Yenika di kalangan mahasiswa sebenarnya cukup baik.
Saat insiden roh gelap dulu, semua orang tahu bahwa Yenika hanyalah korban kekuatan roh.
Bahkan banyak mahasiswa mengirimkan petisi simpati untuknya.
Karena itu Belle berkata,
“Tidak akan ada masalah besar jika Anda kembali ke Ofilis Hall.”
Secara aturan, Yenika bisa kembali ke asrama itu setelah liburan semester kedua berakhir.
Namun Belle memandang Yenika dengan tajam.
“Namun sebenarnya… Anda tidak ingin kembali, bukan?”
Yenika langsung kaget.
Kehidupan liarnya di kamp bersama Ed Rosstaylor sudah cukup terkenal di kalangan orang dekatnya.
Beberapa mahasiswa bahkan mulai berpikir bahwa Ed dan Yenika tinggal bersama.
Yang memalukan adalah—
Yenika sebenarnya tidak terlalu membenci kesalahpahaman itu.
Namun ia buru-buru menyangkal.
“Apa?! Tidak! Ed akan repot kalau rumor seperti itu menyebar! Aku selalu menyangkalnya!”
Belle tersenyum sopan.
Namun jelas sekali ia tidak benar-benar percaya.
Bagi Belle, melihat seorang gadis seusia Yenika merasa malu karena hal seperti itu adalah hal yang menyenangkan.
Ia sendiri hampir tidak pernah menikmati masa muda atau cinta karena kehidupan keras yang ia jalani.
Melihat Yenika seperti itu terasa seperti melihat sesuatu yang berharga.
Sebelum berpisah, Belle berkata,
“Ofilis Hall akan mengadakan pesta kecil, pesta teh, dan api unggun selama festival.
Jika punya waktu, datanglah bersama Tuan Ed.”
Yenika mengangguk ceria.
Namun setelah Belle pergi, ia tiba-tiba terdiam.
Senja di Kampus
Saat berjalan pulang di jalan akademi saat matahari terbenam, Yenika melihat banyak mahasiswa berbincang santai setelah seharian kuliah.
Pemandangan itu terasa damai.
Seolah dunia di luar yang penuh konflik tidak ada hubungannya dengan tempat bernama sekolah.
Tempat belajar memang selalu seperti itu.
Tempat di mana mahasiswa menjadi pusat dunia mereka sendiri.
Namun setiap mahasiswa tentu memiliki kekhawatiran:
nilai akademik
masa depan
tugas kuliah
Yenika juga pernah memiliki kekhawatiran seperti itu.
Namun sekarang…
semuanya terasa ringan.
Nilainya tetap berada di tingkat atas.
Jika ingin, ia bisa kembali ke desa dan meneruskan pertanian keluarganya.
Setelah posisi seniornya diserahkan kepada Ed, tekanan dari sekitar juga berkurang.
Hubungan dengan orang lain pun terasa lebih santai.
Dan yang paling penting—
hidupnya sekarang selalu berkaitan dengan satu orang.
Ed Rosstaylor.
Jika dipikir-pikir, setiap hari Yenika:
memulai hari bersama Ed
pergi kuliah bersama
kembali ke kamp bersama
mengakhiri hari di tempat yang sama
Ia menggenggam ujung jarinya sendiri sambil berjalan.
“Hidup tanpa kekhawatiran… memang seperti ini ya…”
Hari-harinya terlalu bahagia.
Hampir terasa berlebihan.
Namun ada satu hal yang terus mengganggunya.
Ed.
Malam yang Berbeda
Suatu malam Yenika terbangun karena suara dari luar kabin.
Ia membuka pintu sedikit.
Di luar, Ed masih duduk di dekat api unggun.
Seperti biasa.
Ed hampir selalu orang terakhir yang tidur.
Ia membaca buku, melatih sihir, atau memperbaiki sesuatu di kamp.
Namun pada akhirnya, ia selalu mengakhiri hari dengan duduk di depan api unggun.
Memandangi api.
Berpikir.
Wajahnya serius.
Seolah masih memikul banyak beban.
Yenika teringat semua yang telah Ed lalui:
konflik keluarga Rosstaylor
berbagai peristiwa di akademi
perjalanan ke rumahnya
bahkan insiden roh jahat
Ed berhasil melewati semuanya.
Namun sepertinya masih ada masalah besar yang tersisa.
Melihat kontras antara kebahagiaannya sendiri dan beban yang Ed pikul…
Yenika tiba-tiba merasa bersalah.
Ia bahkan berpikir bahwa kebahagiaannya terlalu berlebihan.
Ia tidak ingin menjadi gadis naif yang hanya tertawa tanpa memahami dunia.
Surat dari Putri
Suatu malam di kamp, Ed berkata tiba-tiba,
“Ada surat dari Princess Fenia.”
“Bukan hanya untukku. Untukmu juga, Yenika.”
Yenika terkejut.
“Apa?! Untukku juga?!”
Ed menjelaskan isi surat itu.
Emperor Cloel tampaknya ingin segera mengakhiri konflik perebutan takhta tahun ini.
Sudah lama sejak Prince Lindon tiba-tiba menyerahkan hak suksesi tanpa alasan.
Sekarang kekaisaran ingin segera menentukan penerus.
Karena itu situasi akan segera memanas.
Ed berkata,
“Terutama karena Princess Selaha juga akan datang ke Sylvania saat festival.”
Itu berarti konflik politik akan semakin intens.
Yenika bertanya,
“Lalu kenapa kita dipanggil?”
Ed menjawab singkat.
“Karena mereka juga ingin menarik kita ke pihak mereka.”
Istana tempat tinggal Fenia berdiri di tebing barat Pulau Aken.
Ed pernah ke sana beberapa kali.
Ia menutup surat itu dan berkata,
“Besok pagi kita ke sana bersama. Jadwal kuliah kita cukup longgar.”
Yenika mengangguk.
Namun sikapnya tampak sedikit ragu.
Ed memperhatikannya.
Namun sebenarnya—
Ed sendiri juga memiliki sesuatu yang ingin ia lakukan.
Ia berpikir dalam hati.
Sudah waktunya memberitahu Yenika segalanya.
Rahasia yang selama ini ia sembunyikan.