Chapter 215 – Rahasia Sang Sage
“Great Sage Sylvania…? Maksudmu orang yang membangkitkan Naga Tombak Suci Velbroke?”
Yenika menatap Ed dengan wajah kaget.
Ed Rosstaylor menghela napas pelan sebelum menjawab.
“Semua ini masih sebatas hipotesis. Belum ada bukti apa pun. Tapi… kemungkinan itu cukup masuk akal.”
Dugaan Tentang Great Sage
Ayla Tris bukan tipe petarung yang kuat.
Namun dalam bidang akademik sihir, terutama Aspect Magic, pengetahuannya luar biasa.
Bahkan dulu
Professor Glast
pernah mencoba menjadikannya korban eksperimen karena sensitivitasnya terhadap sihir tersebut.
Ed mengusap wajahnya dan mulai menyusun pikirannya.
Saat cerita dunia ini berakhir—ketika semua peristiwa selesai dan para karakter menjalani hidup masing-masing—ada satu adegan yang muncul di bagian akhir.
Beberapa tahun setelah kelulusan.
Banyak karakter ditampilkan sekilas.
Dan di antara mereka, Ayla muncul dengan gelar baru.
Great Sage.
Great Sage Ayla Tris.
Saat pertama kali melihatnya, Ed mengira itu hanya semacam epilog biasa.
Seperti menunjukkan bahwa Ayla akhirnya menjadi akademisi besar.
Namun sekarang—
kemungkinan itu terasa berbeda.
Jika Ayla menemukan sesuatu tentang
Great Sage Sylvania…
Jika dia mengikuti jejaknya…
maka mungkin ada sesuatu yang tidak pernah dijelaskan dalam cerita utama.
Ayla adalah rekan dari
Tailley McLore.
Namun apa sebenarnya yang ia temukan tentang Sylvania?
Itu semua terjadi di luar panggung cerita.
Sekarang ketika cerita sudah mendekati akhir—
hal-hal yang dulu tersembunyi mulai muncul ke permukaan.
Seolah ada bayangan seorang akademisi perempuan berambut putih yang selalu berdiri diam di belakang panggung sejarah.
Harapan Pada Ayla
Ed berkata pelan,
“Tidak ada cara memastikan sekarang. Bagaimana mungkin kita mengetahui pikiran seseorang yang sudah hilang dari masa lalu?”
Ia lalu menatap Yenika.
“Tapi Ayla mungkin bisa menemukan sesuatu.”
Yenika berkedip.
“Maksudmu… pacarnya Tailley?”
Ed mengangguk.
“Jika perkiraanku benar, dia akan menjadi Great Sage berikutnya.”
Yenika memandang Ed dengan serius.
“Jadi karena itu kamu semakin terburu-buru…”
Ed menggenggam tangannya.
“Semua tanda bahwa peristiwa besar akan terjadi sudah muncul.”
Ia mengakui dengan suara rendah.
“Sejujurnya… aku takut.”
Karena itulah ia memaksa dirinya berlatih sihir tingkat tinggi.
Karena bencana yang ia tahu akan datang—
sudah terasa sangat dekat.
Perasaan Yenika
Yenika Palover menatap Ed lama.
Lalu ia berkata pelan.
“Mungkin aneh kalau aku bilang ini… tapi aku senang.”
Ed terkejut.
“Apa?”
Yenika tersenyum malu.
“Selama ini Ed selalu terlihat seperti orang yang sedang dikejar sesuatu.”
Dia mengingat berbagai momen:
saat membangun kabin
saat berburu
saat duduk di depan api unggun
Ed selalu terlihat tenang.
Namun sebenarnya—
dia seperti seseorang yang terus berlari dengan pisau di belakang punggungnya.
Yenika memandang langit.
“Kalau semua ini selesai… setelah kita lulus…”
Ia menoleh kembali pada Ed.
“Kamu tidak perlu lari lagi.”
Ed terdiam.
Yenika melanjutkan.
“Aku dibesarkan di desa yang tenang. Jadi aku tidak benar-benar tahu betapa beratnya hidup seperti itu selama bertahun-tahun.”
“Tapi aku bisa membayangkannya.”
Ia tersenyum hangat.
“Itu pasti sangat melelahkan.”
Ed tidak menyangkal.
Yenika berkata lagi.
“Kalau mengalahkan Velbroke benar-benar akhir dari semuanya…”
Ia berdiri.
“Mari kita berhenti berlari.”
Lalu ia mengulurkan tangan.
“Sampai saat itu… aku akan berlari bersamamu.”
Gangguan Tak Terduga
Tiba-tiba sebuah suara memanggil.
“Lady Yenika.”
Seorang gadis berambut biru muncul.
Belle Maia.
Yenika menoleh kaget.
“Belle?!”
Belle membungkuk sopan.
“Orang tua Anda datang.”
“…Apa?”
Belle menjelaskan.
“Mereka sekarang berada di Ofilis Hall.”
Yenika langsung pucat.
Orang Tua Yenika di Ofilis Hall
Orang tua Yenika datang ke
Ofilis Hall
karena mereka mengira putri mereka masih tinggal di sana.
Belle langsung memahami situasinya.
Ia tahu Yenika pasti tidak memberi tahu orang tuanya bahwa dia sudah diusir dari asrama dan tinggal di kabin hutan.
Dengan cepat Belle melakukan improvisasi.
Ia:
menyiapkan kamar kosong
mengisinya dengan barang pribadi
lalu mengatakan bahwa itu kamar Yenika
Para pelayan senior bahkan tercengang melihat improvisasi Belle yang begitu sempurna.
Masalahnya hanya satu.
Akting Yenika.
Dan aktingnya… sangat buruk.
Pertemuan Keluarga
Di ruang tamu sederhana, Yenika duduk gugup.
“Oh—Ayah?! Kenapa tiba-tiba datang?!”
Ayahnya,
Orte Palover,
tertawa.
“Karena festival! Dan karena surat-surat tentang bangsawan itu!”
Ibunya juga tersenyum.
“Kami sangat bangga padamu, Yenika.”
Orte bahkan hampir menangis.
“Aku tidak menyangka anakku tinggal di kamar semewah ini!”
Yenika hanya bisa tertawa kaku.
Namun masalah sebenarnya segera muncul.
Orte berkata dengan penuh semangat.
“Kami ingin bertemu orang dari keluarga Rosstaylor!”
Yenika membeku.
Ayahnya melanjutkan.
“Dia sudah membantu kita begitu banyak!”
Ibunya bahkan menambahkan dengan nada menggoda.
“Aku juga ingin melihat pemuda yang kamu sebut-sebut itu.”
Yenika hampir pingsan.
Karena orang yang mereka maksud—
dan orang yang duduk di samping Yenika tadi—
adalah orang yang sama.
Duel Festival Dimulai
Sementara itu di arena sparring festival.
Pertandingan antara siswa tingkat rendah berlangsung terlebih dahulu.
Namun semua orang tahu bahwa acara utama adalah duel antara:
Ed Rosstaylor
Dyke Elphelan
Namun sebelum itu ada duel lain.
Wade Calamore
melawan
Lucy Mayril.
Wade sangat gugup.
Ia tahu kekuatan Lucy.
Bahkan jenius seperti dirinya pun tidak mungkin menang.
Dyke menepuk bahunya.
“Takut?”
Wade menjawab jujur.
“…Ya.”
Dyke tertawa pahit.
“Aku juga akan takut kalau di posisimu.”
Wade terkejut.
Dyke lalu berkata serius.
“Keberanian bukan berarti tidak takut.”
“Keberanian adalah tetap maju meski kamu takut.”
Wade menarik napas dalam.
Lalu berjalan menuju arena.
Hasil Duel
Wade mengangkat pedangnya.
“Lucy Mayril… bersiaplah!”
Lucy hanya menguap sambil memakan beef jerky.
Duel dimulai.
BOOM!
Dalam sekejap arena dipenuhi cahaya.
Lucy menggunakan:
High-Level Lightning Magic – Never’s Punishment.
Tiga serangan berturut-turut.
Wade langsung terpental ke dinding arena dan pingsan.
Lucy berkedip.
“…Ah.”
Dia baru sadar.
Selama sebulan terakhir dia terlalu sering bertarung dengan Ed.
Karena terbiasa menghadapi seseorang yang bisa menahan sihir tingkat tinggi—
dia tanpa sadar menggunakan terlalu banyak kekuatan.
Untung Wade tidak mati.
Lucy buru-buru pergi sambil berkata singkat,
“…Maaf.”
Penonton bersorak.
Percakapan dengan Roh Angin
Di kabin hutan, Ed berbicara dengan roh angin tingkat tinggi.
Merylda.
Ed bertanya langsung.
“Menurutmu… apakah Great Sage Sylvania mungkin membuka segel Velbroke?”
Merylda langsung menjawab.
“Tidak mungkin.”
Dia menjelaskan dengan serius.
“Sylvania mencintai akademi ini lebih dari siapa pun.”
“Dia tidak akan pernah menghancurkannya.”
Bagi roh angin itu—
Sylvania adalah manusia yang benar-benar layak dihormati.
Namun kemudian Merylda berkata pelan.
“Ada satu hal yang tidak pernah tercatat di buku sejarah.”
Ia menatap jauh ke masa lalu.
“Cerita tentang kematian Sylvania.”
Dahulu—
Pulau Aken hanyalah hutan dan pegunungan liar.
Seorang gadis akademisi berambut putih datang ke sana.
Dia membangun akademi besar.
Selalu tersenyum cerah.
Selalu menatap langit malam dengan mata berbinar.
Merylda menarik napas pelan.
“Dan aku adalah saksi dari akhir hidupnya.”
Cerita dari masa lalu—
akhirnya akan terungkap.