Ch 220 – Langkah Politik Setelah Duel

Novel: The Extra's Academy Survival Guide

← Sebelumnya

Chapter 220 – Langkah Politik Setelah Duel


Butuh usaha lebih besar dari yang kupikirkan.


Dari sudut pandangku—yang tahu betapa kuatnya

Dyke Elphelan

aku sudah memperkirakan bahwa dengan spesifikasi kemampuanku saat ini, mustahil aku mengalahkannya dengan mudah.


Karena itu, untuk memastikan segala kemungkinan, aku mempelajari high-level magic secara sempurna melalui

Lucy Mayril.


Aku menghafal teori, prinsip sensitivitas mana, serta metode penerapannya berulang-ulang. Setelah insting praktisku cukup terasah, aku akhirnya bisa menguasai sihir tingkat tinggi itu.


Sulit dibilang aku “belajar dengan cepat”.


Selama duel latihan dengan Lucy, aku bahkan harus melewati batas beberapa kali… tapi itu proses yang perlu.


Setelah Duel


“Waaaa!”


Sorakan penonton masih terdengar ketika aku kembali ke ruang tunggu.


Begitu melewati pintu besi dan masuk ke ruangan yang sunyi, suasana langsung terasa tenang.


Aku melepas seragam yang sudah seperti lap karena berguling di tanah arena, lalu membuka kotak persediaan yang sudah disiapkan. Aku mengambil seragam cadangan dan kembali ke meja di tengah ruangan.


Seragam ini dicuci oleh

Belle Maia.


Dulu, jika satu lengan seragam sedikit robek saja, kami harus memperbaikinya semalaman.


Sekarang bahkan ada seragam cadangan.


Hal kecil seperti itu membuatku sadar betapa banyak hal telah berubah.


Tamu Tak Terduga


“Kenapa kau menontonnya?”


Suara familiar tiba-tiba terdengar.


Nada suaranya yang lemah dan mengantuk membuatku langsung tahu siapa itu.


Di sofa ruang tunggu, tersembunyi di balik sandaran,

Lucy Mayril sedang berbaring.


Sejak kapan dia di sana?


Lucy mengangkat kepalanya sedikit dan bergumam.


“Aku tidak menonton.”


“Kalau kau mau, kau bisa mengakhirinya sejak awal.”


Aku diam.


Lucy mengenal semua kemampuanku secara detail.


Jadi baginya, duel tadi terlihat aneh.


Seolah-olah pertarungan sengit itu… sengaja dipertahankan.


Mengapa Duel Dipanjangkan


Sebenarnya, jika sejak awal aku:

  • memanggil Merilda, spirit angin tingkat tinggi

  • menjaga jarak

  • bertarung dengan sihir jarak jauh


maka Dyke tidak akan punya kesempatan sama sekali.


Namun aku sengaja membiarkannya masuk ke pertarungan jarak dekat.


Bagi penonton awam, terlihat seperti Dyke bertahan dengan kemauan keras.


Namun Lucy tahu itu bukan kebetulan.


Seolah-olah pertarungan itu dipentaskan.


Lucy menatapku dari balik topinya.


“Kalau kau membuat satu kesalahan saja, kau bisa kalah.”


Alasan Sebenarnya


Aku menjelaskan sambil mengenakan seragam.


“Itu perlu dilakukan.”


“Aku tidak berniat kalah. Tapi setidaknya aku ingin memperlihatkan kepada semua orang… orang seperti apa Dyke Elphelan itu.”


“Kenapa?”


“Supaya posisinya di keluarganya tidak jadi sulit.”


Jika Dyke kalah tanpa perlawanan, reputasinya di keluarga akan hancur.


Namun setelah duel tadi—


orang-orang berkata:

  • “Dia kalah, tapi bertarung dengan gagah.”

  • “Kemauannya luar biasa.”

  • “Dia menunjukkan semangat seorang pejuang sejati.”


Reputasi itu menyelamatkannya.


Selain itu—


ada alasan politik.


Lucy memiringkan kepala.


“Politik?”


“Ya.”


Gangguan Kecil


Saat aku mengganti baju, Lucy tiba-tiba bersembunyi di sofa.


“…Kenapa kau telanjang?”


“Aku sedang ganti baju.”


“Bilang dulu.”


“…Sejak kapan kau peduli soal itu?”


Biasanya Lucy bahkan tidur di batu saat aku mandi di sungai dekat kabin.


Namun kali ini dia menutupi wajah dengan topinya.


Aku hanya mengangkat bahu.


Dua Buronan


Beberapa saat kemudian—


aku membuka pintu lemari.


Dan menemukan seseorang bersembunyi di dalamnya.


“Ah, halo kakak.”


Itu

Tanya Rosstaylor.


“Ada 191 agenda festival yang harus kubahas… jadi aku kabur sebentar.”


Aku langsung menutup mata dengan telapak tangan.


Tiga Orang yang Kabur


Akhirnya kami bertiga duduk di bangku lorong:

  • Ed Rosstaylor

  • Lucy Mayril

  • Tanya Rosstaylor


Orang yang lewat hanya bisa menatap dari jauh.


Mereka mengenali wajah kami, tapi tak berani mendekat.


Lucy kabur dari konser di

Ofilis Hall.


Tanya kabur dari pekerjaan komite festival.


Dan keduanya… bersembunyi di dekatku.


Percakapan Aneh


Tanya bertanya hati-hati kepada Lucy.


“Senior Lucy… Anda juga kabur?”


Lucy menjawab santai.


“Sebagian besar waktuku di luar kelas memang karena kabur.”


“…Tapi Anda tetap ranking satu.”


“Itu karena nilai praktikku terlalu tinggi.”


Lucy memang penyihir mahasiswa yang bisa menggunakan high-level magic.


Di seluruh kekaisaran, jumlah orang yang bisa menggunakan sihir tingkat itu bahkan tidak sampai lima.


Dan selain Lucy—


semuanya adalah penyihir tua.


Tanya Mengerti Rencananya


Tanya lalu menatapku.


“Memberikan semua pujian kepada Princess Selaha… itu ide Princess Fenia?”


Aku mengangguk.


Tanya langsung memahami.


Strategi itu bukan sekadar sopan santun.


Itu adalah serangan politik.


Targetnya: Keluarga Elphelan


Selama ini keluarga

Balberon Elphelan

sangat loyal kepada

Princess Selaha.


Hubungan mereka kuat.


Tidak bisa diputus secara paksa.


Jadi caranya adalah menanam keraguan kecil.


Jika keluarga Rosstaylor—sebuah keluarga duke yang lebih kuat—berpihak kepada Selaha…


maka keluarga Elphelan akan mulai merasa:


mereka mungkin digantikan.


Benih kecemasan itu akan tumbuh perlahan.


Dan suatu hari nanti—


kesetiaan mereka bisa runtuh.


Kedatangan Sang Putri


Ketika kami masih berbicara—


pintu besar di ujung lorong terbuka.


Beberapa prajurit kekaisaran masuk.


Mereka membawa lambang kekaisaran.


Di belakang mereka—


muncul seorang wanita dengan aura dingin.


Princess Selaha.


Dia datang sendiri.


Lucy langsung menyembunyikan wajahnya di bahuku.


Tanya menelan ludah pelan.


Jarang sekali seorang putri kekaisaran mendatangi seseorang secara langsung.


Biasanya oranglah yang dipanggil ke ruang audiensi.


Namun kali ini—


dia datang menemuiku.


Tatapannya tajam.


Penuh kewaspadaan.


Seolah sedang menilai musuh yang baru saja muncul di hadapannya.

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .