Chapter 230 – Kebanggaan yang Tidak Mau Tunduk
Malam festival hampir mencapai puncaknya.
Di tengah keramaian acara penutupan, kehidupan para tokoh utama bergerak menuju arah yang berbeda.
Ziggs dan Elka
Ziggs Eiffelstein berjalan menuruni jalan dari perpustakaan mahasiswa sambil menopang bahu
Elka Islan.
Upacara penutupan festival sudah dimulai di alun-alun pusat.
Sebagian besar mahasiswa berkumpul di sana untuk menyaksikan pertunjukan:
konser orkestra
pertunjukan sihir teater
kembang api besar
Namun Ziggs justru pergi menjemput Elka dari perpustakaan.
Penyakit asmanya semakin parah.
Batuknya kini sampai membuatnya mengeluarkan darah.
Meski begitu, Elka tidak ingin berhenti belajar.
Karena itu Ziggs pindah ke asrama agar bisa merawatnya.
Bagi Ziggs, itu bukan beban.
Jika dulu ia tidak diselamatkan oleh keluarga Islan saat tersesat di padang rumput, ia tidak akan pernah bisa masuk Sylvania Academy.
Elka adalah orang yang mengubah hidupnya.
Elka tersenyum kecil.
“Aku merasa bersalah membuatmu melewatkan festival.”
Ziggs menggeleng.
“Tidak juga.”
“Belakangan ini hidupku cukup damai.”
Elka menatapnya curiga.
“Orang yang masa kecilnya berburu serigala raksasa tidak biasanya berkata seperti itu.”
Ziggs tertawa.
Memang benar.
Hidupnya sekarang:
mengejar Tanya yang kabur dari pekerjaan
merawat Elka
membantu dewan mahasiswa
Namun di balik kehidupan yang tampak biasa itu, ia sering melihat sesuatu yang aneh.
Orang-orang di sekitar kekuasaan…
sering menyembunyikan sesuatu yang tajam di balik sikap santai mereka.
Ziggs tiba-tiba berkata serius.
“Orang yang tampak santai biasanya memang tidak berbahaya.”
“Tapi kadang…”
“ada orang yang menyembunyikan pisau tajam di balik sikap seperti itu.”
Ia teringat pada seseorang.
Tanya Rosstaylor.
Tanya terlihat seperti gadis malas yang hanya ingin pensiun dan hidup tenang.
Namun pada saat-saat tertentu—
matanya berubah tajam.
Seperti predator yang sedang menghitung langkah berikutnya.
Selaha dan Ed
Di sisi lain alun-alun mahasiswa.
Princess Selaha duduk berhadapan dengan
Ed Rosstaylor di sebuah bangku.
Selaha berkata dengan suara dingin.
“Aku belum pernah merendahkan diriku sebanyak ini kepada siapa pun.”
Ia menyibakkan rambut birunya ke samping.
Gaun yang memperlihatkan bahunya membuatnya terlihat semakin mencolok.
Banyak mahasiswa mulai berbisik.
“Bukankah itu Senior Ed?”
“Kenapa dia selalu bersama tokoh penting?”
Namun Ed hanya menahan napas.
Menghadapi seorang putri kerajaan di tempat terbuka seperti ini sudah cukup merepotkan.
Selaha berbicara dengan gigi terkatup.
“Aku akan mengabulkan semua permintaanmu.”
“Katakan saja.”
“Apa yang kau inginkan?”
Ed menjawab datar.
“Aku tidak menginginkan apa pun.”
Jawaban itu membuat wajah Selaha semakin tegang.
Godaan Kekuasaan
Selaha tahu sesuatu.
Emperor Cloel hampir memutuskan menjadikannya penerus tahta.
Dan Ed adalah variabel penting dalam keputusan itu.
Jika Ed mendukungnya—
tahta hampir pasti menjadi miliknya.
Selaha berkata pelan.
“Jika kau berdiri di sisiku…”
“aku akan menjadi kaisar.”
“Dan kau bisa mendapatkan segalanya.”
Namun Ed tetap tidak berubah.
“Aku berada di pihak
Princess Fenia.”
Mendengar nama Fenia lagi—
Selaha langsung berdiri dan menendang meja.
“FENIA LAGI?!”
“Apa kau berhutang sesuatu padanya?!”
“Aku sudah mengatakan aku akan memberimu semuanya!”
“Uang! Kekuasaan! Posisi dalam keluarga kerajaan!”
“Tapi kau bahkan tidak melihatku sekali pun!”
Batas Kesabaran
Selaha menggertakkan giginya.
“Apakah kau hanya akan mendengarkanku jika aku menundukkan kepala?”
Ed segera menggeleng.
“Bukan itu maksudku.”
Namun Selaha tetap melanjutkan.
“Kalau begitu kenapa kau tidak pernah meninggalkan Fenia?”
Ed menjawab tenang.
“Karena itu bukan kehendak Putri Fenia.”
Selaha terdiam.
Ed melanjutkan.
“Saat aku bertemu Kaisar nanti…”
“aku akan merekomendasikan Fenia.”
Selaha hampir tidak percaya dengan apa yang ia dengar.
Kebanggaan yang Hancur
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
Selaha benar-benar bimbang.
Jika ia menundukkan kepala…
ia mungkin akan mendapatkan segalanya.
Namun kebanggaannya menahan lehernya agar tidak menunduk.
Beberapa detik terasa seperti selamanya.
Akhirnya—
ia memaksa dirinya sendiri.
Perlahan…
kepalanya turun.
“…Tolong.”
“Keluar dari pihak Fenia.”
“Dan bergabunglah denganku.”
Itu adalah pemandangan yang tidak akan dipercaya oleh siapa pun di kekaisaran.
Putri pertama Kekaisaran Cloel—
memohon kepada seorang mahasiswa.
Jawaban Ed
Ed tahu betapa berat tindakan itu bagi Selaha.
Namun ia tetap mengatupkan giginya.
“Putri Fenia akan sedih jika aku mengangguk di sini.”
Selaha langsung meledak.
“AAAAAAAAAAAA!!!”
Ia menghantam meja dan jatuh kembali ke kursinya dengan napas berat.
Kebingungan Selaha
Selaha benar-benar tidak mengerti.
Ia sudah:
menulis surat selama berhari-hari
menjanjikan segalanya
bahkan menundukkan kebanggaannya
Namun pria ini tetap tidak bergerak.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya—
ia merasa tidak berharga.
Selaha mulai bertanya pada dirinya sendiri.
Mengapa aku sampai sejauh ini?
Mengapa aku begitu ingin mendapatkan pria ini?
Pertanyaan itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang lebih aneh.
Sebuah perasaan yang bahkan tidak dikenali oleh dirinya sendiri.
Ia menatap Ed.
Apakah aku… benar-benar…
menyukai pria ini…?
Pikiran itu membuatnya panik.
Selaha segera menundukkan kepala lagi.
Ini tidak mungkin.
Ia selalu menjadi orang yang mengendalikan orang lain.
Bukan orang yang jatuh ke dalam perasaan seperti ini.
Namun perasaan itu tetap muncul.
Seperti tembok besar yang tiba-tiba berdiri di depannya.
Fenia di Kediaman Kerajaan
Sementara itu, di kediaman kerajaan.
Princess Fenia sedang menutup berkas surat dari keluarga
Elphelan family.
Ia menghela napas panjang dan bersandar di sofa.
“Semuanya berjalan lancar…”
Fenia tahu sesuatu.
Selaha tidak akan pernah benar-benar berkompromi dengan Ed.
Semakin lama kebuntuan ini berlangsung—
semakin panik pihak Elphelan.
Namun Fenia juga tahu satu hal penting.
Saat semuanya terlihat berjalan lancar…
biasanya justru saat itulah masalah terbesar muncul.
Ia memandang dokumen di meja.
Malam festival semakin dalam.
Dan tanpa disadari—
permainan besar di balik perebutan tahta kekaisaran semakin mendekati titik kritis.