Chapter 240 – Pertahanan Ofilis Hall
Lingkaran sihir yang melindungi taman mawar Ofilis Hall tiba-tiba membesar hingga menutupi seluruh bangunan.
Sebagian besar monster tidak mampu menembus formasi pertahanan itu. Namun beberapa monster dengan anti-magic yang kuat masih bisa menerobos.
Jumlah monster luar biasa banyak.
Meski monster yang mampu menembus formasi Ofilis sebenarnya jarang, karena kawanan monster yang menyerang begitu besar, bahkan jumlah monster “langka” itu pun tidak bisa diabaikan.
Di gerbang Ofilis Hall—
suara pedang dan sihir saling bertabrakan.
CLANG!
FWOOSH!
Para maid Ofilis terkenal dengan satu hal:
tidak ada pekerjaan yang tidak bisa mereka lakukan.
Bahkan dalam pertempuran, banyak dari mereka mampu menggunakan sihir tingkat menengah.
Ditambah lagi, banyak penghuni asrama Ofilis adalah siswa dengan nilai tinggi dan kemampuan tempur yang baik.
Letaknya juga agak jauh dari pusat asrama, sehingga sebagian besar monster menyerbu area tengah terlebih dahulu.
Karena berbagai faktor itu—
Ofilis Hall masih mampu mempertahankan garis pertahanannya.
Komando Maid Jean
Di ruang kerja para maid yang dijadikan markas sementara,
Jean Belle Maia
memberi perintah.
“Monster kembali menyerbu celah di pertahanan selatan!”
“Tidak ada senior maid yang bebas sekarang! Kerahkan semua orang yang masih bisa bergerak!”
Para maid dan para siswa bekerja sama mempertahankan bangunan.
Namun mereka hanya bisa bertahan.
Tidak ada waktu atau tenaga untuk membantu tempat lain yang mungkin sudah kacau.
Bahkan jika mereka berhasil bertemu kelompok penyintas lain, tidak ada jaminan mereka bisa membawa mereka ke Ofilis Hall dengan selamat.
Satu-satunya pilihan adalah bertahan selama mungkin.
Jean bertanya kepada maid yang melapor.
“Apakah kita sudah menghubungi Lorail Hall dan Dex Hall?”
“Lorail Hall masih bertahan meski mengalami kerusakan besar… tapi Dex Hall… tidak ada kontak.”
Jean menutup matanya pelan.
Dex Hall adalah asrama besar.
Jika monster menyerbu—
kemungkinan besar sudah hancur total.
Namun sekarang bukan waktunya berduka.
“Kita fokus menyelamatkan siswa yang kita lindungi.”
Velbroke Semakin Kuat
Tiba-tiba—
raungan
Velbroke
kembali mengguncang langit.
Setiap kali naga itu mengaum, energi sihirnya semakin kuat.
Artinya satu hal:
segelnya semakin melemah.
Saat ini
Lucy Mayril
masih mampu menahannya.
Namun jika Velbroke benar-benar bebas—
bahkan Lucy tidak akan mampu menghentikannya.
Sebenarnya Lucy sendiri sudah hampir mencapai batasnya.
Gelombang mana dari Velbroke saja sudah cukup membuat para maid di Ofilis jatuh tersungkur.
Jean memandang keluar jendela.
Velbroke membuka mulutnya lagi.
Energi sihir berkumpul.
Targetnya jelas—
Lucy.
Namun bahkan dampak sampingnya saja sudah cukup menggoyahkan pertahanan Ofilis Hall.
Sihir Velbroke mampu menetralkan banyak formasi pertahanan.
Jika naga itu benar-benar bangkit—
Ofilis Hall tidak akan mampu bertahan.
Satu-satunya yang bisa mereka lakukan sekarang hanyalah berdoa.
Serangan Monster
BOOM!
Sebuah celah terbuka di garis pertahanan.
Seekor kelelawar raksasa menerobos dan menempel di dinding luar Ofilis.
Para siswa berteriak.
“Jangan panik!”
“Gunakan semua sihir yang kalian punya!”
Monster itu menabrak jendela.
Jean tanpa ragu menusukkan rapiernya ke mata monster.
CRASH!
Kelelawar itu jatuh ke taman mawar sambil menjerit.
Namun pertahanan mereka jelas mulai mencapai batas.
Jean segera memberi perintah.
“Evakuasi siswa ke fasilitas bawah tanah!”
“Ancaman monster akan semakin kuat!”
Ia mengambil rapier lain dari dinding.
“Misi kita adalah melindungi siswa dengan segala cara.”
“Selamatkan sebanyak mungkin orang, bahkan jika kita harus mengorbankan diri.”
Ia lalu berlari ke lorong.
Kedatangan Ziggs
Namun saat ia keluar—
dua kelelawar raksasa menabrak jendela.
Kaca pecah.
Tangan monster masuk ke lorong.
Jean bersiap menggunakan sihir.
Namun sebelum ia sempat bergerak—
SLASH!
Kepala kelelawar itu terpotong.
Seorang pemuda melompat masuk melalui jendela.
Pedangnya masih meneteskan darah.
Itu adalah
Ziggs Eiffelstein.
“Saya senang Anda selamat, Nona Jean.”
Jean terkejut.
“Tuan Ziggs… sejak kapan…?”
“Baru saja datang.”
“Tailley dan Ayla juga bersama saya.”
Jean menghela napas lega.
Namun Ziggs langsung menjelaskan tujuannya.
“Kami datang bukan untuk berlindung.”
“Kami datang untuk menjemput seseorang.”
“Apakah Elvira ada di sini?”
Jean langsung mengerti.
Elvira Anniston
kemungkinan kembali ke Ofilis Hall untuk mengambil bahan alkimia dari kamarnya.
Ziggs berkata tegas.
“Untuk mengalahkan Velbroke… kita butuh Elvira.”
“Profesor alkimia sulit dihubungi sekarang.”
“Dia satu-satunya alkemis tingkat tinggi yang bisa kita andalkan.”
Jean tertegun.
“Kalian… ingin mengalahkan Velbroke?”
Ziggs mengangguk.
“Taylor bilang itu mungkin.”
“Kami tidak akan duduk diam menunggu mati.”
Ia menyeka darah dari pedangnya.
“Saya sebenarnya ingin membantu mempertahankan Ofilis Hall…”
“tapi kami harus melakukan sesuatu yang lebih penting.”
Ia menatap Jean.
“Banyak orang sudah berkorban.”
“Senior Ed tetap tinggal di tempat paling berbahaya untuk menyelamatkan Tailley.”
“Saya meninggalkan para penyintas di Student Plaza untuk membantu Tailley.”
“Sekarang…”
“Kami harus bertanggung jawab.”
“Kami harus menangkap Velbroke.”
Keadaan Seluruh Akademi
Situasi di seluruh Aken Island sangat buruk.
Para penyintas di Student Plaza dipimpin
Tanya Rosstaylor
dan terus bergerak sambil menanggung banyak korban.
Kamp di katedral yang dipimpin
Clarice
hampir ditembus oleh monster.
Para siswa Combat Department bertahan di pusat pelatihan.
Perusahaan milik
Lortel Kecheln
melindungi gedung bisnis mereka.
Kediaman kerajaan bahkan hampir jatuh.
Namun Ziggs tetap berkata:
“Kita harus melawan.”
“Aku tidak akan menunggu kematian.”
Clevious Bangkit
Sementara itu—
di pusat pelatihan Combat Department.
Seorang siswa berlutut di sudut, gemetar ketakutan.
Itu adalah
Clevious Nortondale.
Ia dikenal sebagai siswa berbakat.
Namun sekarang ia hanya gemetar.
Monster ada di mana-mana.
Orang-orang mati.
Ia ketakutan.
Para siswa lain mengejeknya.
“Dia pengecut.”
“Kenapa Dyke tidak mengusirnya?”
Namun pemimpin garnisun,
Dyke Elphelan
tetap membiarkannya tinggal.
Ia ingin menyelamatkan sebanyak mungkin orang.
Clevious sendiri tahu—
ia pengecut.
Ia bukan seperti Dyke.
Ia bukan seperti Ed.
Ia hanya orang biasa yang ketakutan.
Namun tiba-tiba—
ia berdiri.
Mengambil pedangnya.
Dan berjalan menuju keluar.
Dyke terkejut.
“Clevious! Mau ke mana kau?!”
“Di luar itu neraka!”
Clevious menatap Dyke dengan mata yang sangat tenang.
“Aku cuma…”
“jalan-jalan.”
Ia pergi.
Begitu keluar—
ia menusukkan pedangnya ke bahunya sendiri.
Sihir merah darah muncul.
Pedang itu berubah menjadi Blood Sword Spirit.
Clevious menatap monster di luar.
Dengan napas berat.
Lalu melangkah maju.
Ketika ia sadar—
jalan di depannya sudah dipenuhi darah monster.
Persiapan Pertempuran
Sementara itu:
Tailley McLaure sedang merawat lukanya di taman mawar Ofilis.
Ayla Triss berlari mencari Elvira.
Ziggs Eiffelstein menjelaskan situasi pada Jean.
Lortel Kecheln mempertahankan gedung bisnisnya dengan sihir es.
Fenia Elias Cloel menuntun Kaisar melarikan diri dari kediaman kerajaan.
Elvira Anniston mengumpulkan bahan alkimia.
Clevious Nortondale berjalan menuju Ofilis Hall sambil membantai monster sendirian.
Semua orang bergerak.
Namun masih butuh waktu untuk mengumpulkan tim yang bisa mengalahkan Velbroke.
Yang lebih buruk—
tim untuk menghadapi Sylvania hampir tidak ada kemajuan.
Saat ini hanya ada:
Ed
Yenica
Selaha
Sementara itu:
Lucy hampir kehabisan mana melawan Velbroke.
Clarice tidak bisa meninggalkan kamp katedral.
Tanya hampir mencapai batasnya memimpin penyintas.
Sylvania Bergerak
Di langit—
Sylvania Robester
tersenyum melihat dunia yang runtuh.
Dari semua variabel yang mencoba menghentikan Velbroke—
satu yang paling berbahaya adalah:
Lucy Mayril.
BOOM!
Lucy terpental dan menabrak sisa menara katedral.
Debu beterbangan.
Ia mengangkat kepalanya.
Di depan Velbroke—
Sylvania melayang dengan tongkatnya.
Lucy menghela napas.
Lalu berkata pelan.
“Melawan dua sekaligus…”
“agak berat juga…”
Ia melepas jaket seragamnya.
Tubuh kecilnya berdiri lagi.
Seragamnya sudah penuh darah.
Namun ekspresinya tetap datar seperti biasa.
Lucy menatap langit.
Ia tidak tahu—
berapa lama lagi ia bisa bertahan.