Ch 241 – Cahaya yang Tidak Mundur

Novel: The Extra's Academy Survival Guide

← Sebelumnya Berikutnya →

Chapter 241 – Cahaya yang Tidak Mundur


Crackle… crackle…


Suara kayu yang terbakar di perapian terdengar pelan.


Selimut katun yang lembut menyentuh ujung hidung, membuatnya terasa hangat dan nyaman. Seorang gadis kecil menggosokkan wajahnya ke selimut itu beberapa kali.


Jika mendengarkan suara api yang berderak sambil menikmati kehangatan seperti ini, biasanya seseorang akan segera tertidur.


Namun gadis kecil itu—

Lucy Mayril

masih mengintip keluar dari balik selimut.


Di depan perapian duduk seorang lelaki tua.


Ia menusuk kayu bakar dengan tusuk besi beberapa kali, seolah ingin memastikan Lucy benar-benar tertidur.


Lelaki tua itu adalah

Glokt Elderbane.


Tubuhnya sudah sangat renta.


Ia bahkan terlihat seperti bisa roboh jika disentuh sedikit saja.


Namun ia masih hidup.


Ketika Lucy bertanya mengapa ia masih hidup meskipun selalu berkata hidup tidak ada artinya, Glokt hanya menjawab sederhana.


“Aku hidup cukup lama.”


“Karena masih hidup, ya hidup saja.”


Lucy tidak pernah benar-benar mengerti maksudnya.


Namun Glokt selalu memasakkan makanan untuknya.


Api perapian berkedip.


Bayangan panjang menari di dinding kabin.


Di luar jendela, malam tanpa bintang.


Beberapa kunang-kunang menempel di kaca, menggantikan peran bintang.


Glokt menggenggam tusuk besinya.


Lalu berkata pelan.


“Aku dulu sangat membenci guruku.”


Gurunya adalah

Sylvania Robester.


Ketika masih kecil, Glokt pernah datang kepadanya dan berkata bahwa ia tidak ingin hidup.


Ia berkata hidupnya hanya akan penuh penderitaan.


Namun Sylvania tidak memberi nasihat bijak.


Sebaliknya—


dia memukul Glokt.


Glokt benar-benar terkejut.


Namun setelah itu Sylvania tertawa cerah dan berkata:


“Coba saja hidup dulu!
Tanpa mencoba, bagaimana kau tahu?”


Sejak saat itu, Glokt menjadi murid pertama Sylvania di Aken Island.


Hari-harinya penuh kekacauan.


Sylvania menyeretnya ke mana-mana:

  • mendaki gunung

  • menghadapi roh angin raksasa

  • bereksperimen dengan sihir berbahaya


Kadang ia marah.


Kadang ia tertawa.


Kadang ia depresi karena penelitian gagal.


Namun keesokan harinya ia kembali membahas teori sihir seolah tidak terjadi apa-apa.


Tanpa disadari—


Glokt tumbuh menjadi penyihir yang mampu hidup sendiri.


Lalu murid-murid mulai berdatangan.


Buku catatan teorinya dibaca banyak orang.


Ia ikut bertempur di medan perang.


Ia mengalahkan monster dan roh yang mengancam manusia.


Ia bertemu seorang wanita yang dicintainya.


Mereka menikah.


Memiliki keluarga.


Namun ia juga kehilangan orang-orang yang dicintainya.


Ia berduka.


Bangkit kembali.


Terus hidup.


Ia berdebat dengan orang yang membencinya.


Berjabat tangan dengan orang yang mendukungnya.


Belajar.


Mengajar.


Bertarung.


Melarikan diri.


Menangis.


Tertawa.


Marah.


Berdamai.


Pada akhirnya—


ia hidup sendirian di kabin di pegunungan terpencil.


Ramalan masa kecilnya ternyata sebagian benar.


Ia memang berakhir sendirian.


Namun ada satu hal yang berbeda.


Prosesnya.


Glokt berkata pelan kepada Lucy kecil:


“Aku hanya hidup saja.”


“Lalu orang-orang datang bersandar di pundakku.”


“Mereka tertawa, menangis, mengeluh, marah.”


“Aku kadang merasa mereka menyebalkan.”


“Tapi…”


Ia tersenyum.


“Tanpa mereka… rasanya kosong.”


Glokt bersandar di kursinya.


Menatap langit-langit kabin.


“Lucy.”


“Hidup memang tidak mudah.”


“Tapi saat kau mencapai akhir hidupmu nanti…”


“Aku harap kau bisa berkata seperti ini.”


Ia menutup matanya.


“Syukurlah aku mencoba hidup dulu.”


Kembali ke Pertempuran


BOOOOM!


Kilatan cahaya menyambar.


Lucy tersadar dari kenangan itu.


Lokasinya sekarang—


plaza depan kawasan asrama.


Setelah beberapa kali bertukar sihir dengan Sylvania, Lucy gagal menahan serangan Velbroke dan terpental ke bangunan.


Tubuhnya dipenuhi luka.


Bahkan dengan beberapa lapisan sihir pertahanan, semua tulangnya terasa seperti retak.


Saat ia mencoba berdiri—


lantainya basah.


Itu darahnya sendiri.


Lucy langsung menghentikan pendarahan dengan sihir.


Ia ternyata terlempar tepat di dekat air mancur plaza.


Di kejauhan, kelompok penyintas sedang bertarung melawan monster.


Namun Lucy tidak memperhatikan mereka.


Ia hanya menatap langit.


Di sana—


Sylvania kembali mengangkat tongkatnya.


Lucy meludahkan darah dari mulutnya.


Lalu mengumpulkan mana lagi.


Percakapan Lucy dan Sylvania


Sylvania menatap Lucy.


“Kau yang mempertahankan segel Velbroke, bukan?”


“Kau memaksakan sistem segel yang kubuat di masa lalu untuk tetap aktif.”


Lucy tidak menjawab.


Sylvania tertawa aneh.


“Kau benar-benar luar biasa.”


“Jarang ada manusia dengan mana cukup untuk mempertahankan formasi sebesar itu.”


“Kau adalah variabel yang menyebabkan semua ini…”


“Lucy Mayril…”


Lucy hanya memandangnya dengan mata datar.


Lalu berkata pelan.


“Kau sudah gila.”


Ia menghela napas.


“Tidak peduli seberapa hebat sihirnya, manusia punya batas mana.”


“Melompati waktu sejauh itu langsung ke masa depan… tidak masuk akal.”


Lucy memahami Aspect Magic lebih dalam daripada siapa pun.


Ia tahu satu hal pasti.


Tidak ada sihir yang bisa benar-benar melakukan perjalanan waktu seperti itu.


Jadi bagaimana Sylvania bisa ada di masa kini?


Jawabannya sederhana.


Bukan dunia yang dipercepat.


Tetapi dirinya yang dihentikan.


Aspect Magic tingkat menengah:


Time Prison.


Sihir yang menghentikan waktu target hingga mana pengguna habis.


Jika digunakan pada diri sendiri—


secara teori seseorang bisa “melompati waktu”.


Lucy akhirnya memahami semuanya.


Di masa lalu, Sylvania meneliti cara menghitung mana untuk mempertahankan Time Prison hingga masa kebangkitan Velbroke.


Namun itu saja tidak cukup.


Jika ia menghentikan waktunya sendiri—


mananya juga ikut berhenti.


Maka ia memerlukan penyimpanan mana eksternal.


Itulah alasan Sylvania meneliti Transformation Magic.


Dan altar misterius di puncak gunung Aken Island—


tempat Ed pernah menjaga saat ujian penempatan—


sebenarnya adalah:


Altar pengalihan mana untuk mempertahankan Time Prison.


Lucy mengangkat kepala.


Ia menatap puncak gunung itu.


Sylvania mencoba melompati masa depan yang disebutnya:


Cliff Point.


Titik di mana semua masa depan berakhir dalam kegelapan.


Ia ingin melihat sendiri apakah masa depan benar-benar berakhir di sana.


Namun—


untuk mencapai masa kini—


Sylvania harus bertahan dalam Time Prison selama ratusan tahun.


Tubuhnya berhenti.


Namun kesadarannya tetap ada.


Bayangkan:


kesadaran yang terjebak dalam kegelapan absolut selama ratusan tahun.


Manusia biasa tidak akan tahan.


Sylvania mencoba bertahan.


Ia tersenyum.


Ia percaya kehidupan.


Namun pada akhirnya—


hatinya hancur.


Pilihan Lucy


Lucy memandang Sylvania.


Ia mengerti.


Ia bahkan merasa kasihan.


Namun ia tidak berniat mundur.


Lucy berkata pelan.


“Maaf.”


Ia jarang berbicara sopan.


Namun di depan guru dari gurunya—


ia menundukkan kepala.


“Aku tidak punya kapasitas memikirkan hal besar seperti masa depan dunia.”


“Seorang murid tidak selalu mengikuti harapan gurunya.”


Lucy tersenyum tipis.


Yang ingin ia lindungi bukan dunia.


Bukan masa depan.


Bukan takdir.


Yang ingin ia lindungi—


hanya satu orang.


Seorang bangsawan jatuh yang tinggal di hutan utara.


Ed Rosstaylor.


Karena orang itu memberinya alasan untuk hidup—


Lucy hanya mengembalikan apa yang ia terima.


Ia menerima hidup.


Maka ia akan mempertahankannya dengan hidupnya sendiri.


Lucy mengepalkan tangannya.


Darah menetes.


Namun ia tidak ragu.


Langit Aken Island yang tadi gelap—


tiba-tiba dipenuhi cahaya.


Bukan bintang.


Melainkan ribuan lingkaran sihir elemen yang diciptakan Lucy.


Langit seluruh pulau—


dipenuhi oleh sihirnya.

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .