Chapter 245 – Setetes Variabel
Bayangkan setetes cat biru jatuh ke dalam secangkir air hangat.
Awalnya hanya meninggalkan noda kecil.
Namun perlahan—
cat itu menyebar.
Sedikit demi sedikit ia mengubah air di dalam cangkir.
Sampai akhirnya seluruh air berubah menjadi biru.
Hanya satu tetes kecil.
Tetapi perubahan kecil itu pada akhirnya mengubah seluruh dunia di dalam cangkir.
Tidak ada yang tahu bagaimana air itu akan bergetar,
atau bagaimana cat itu akan menyebar.
Namun satu hal pasti.
Perubahan kecil itu akhirnya menciptakan dunia yang berbeda sama sekali.
Itulah yang disebut butterfly effect.
Satu variabel kecil.
Yang pada akhirnya mampu mengubah masa depan yang jauh.
Penelitian Sylvania
Sylvania Robester pernah mengatakan hal itu kepada
Crown Prince Lienfell.
“Aku meneliti cara menciptakan ‘setetes cat’ seperti itu.”
Penelitian itu dilakukan di laboratorium kekaisaran.
Pangeran Lienfell yang terluka akibat eksperimen Sylvania akhirnya bertanya:
“Apa sebenarnya yang kau teliti?”
Jawaban Sylvania sederhana.
“Dunia ini adalah dunia tertutup.”
Suatu hari nanti—
tanpa peringatan—
dunia ini akan berakhir dalam kegelapan abadi.
Sebuah titik yang ia sebut:
Cliff Point.
Masa depan di mana semua kemungkinan pada akhirnya berakhir pada kehampaan total.
Lienfell gemetar ketika mendengarnya.
“Apakah tidak ada cara mengubah masa depan itu?”
Sylvania menjawab:
“Tidak.”
Namun ia memiliki hipotesis.
“Jika dunia ini benar-benar tertutup… maka satu-satunya cara adalah memasukkan variabel dari luar dunia.”
Makhluk yang tidak berada dalam alur dunia ini.
Makhluk dari dunia lain.
Sylvania percaya dunia lain itu ada.
Ia melihatnya melalui Constellation Magic.
Namun masalahnya besar.
Ia tidak tahu:
bagaimana memanggilnya
kapan ia akan muncul
apakah ia akan muncul di masa kini atau masa depan
atau apakah ia akan merasuki seseorang di dunia ini
Semua itu tidak pasti.
Namun Sylvania tetap mencoba.
Karena—
“Tidak mungkin kita hanya diam menunggu dunia berakhir.”
Kejatuhan Sang Pangeran
Namun percobaan itu gagal.
Berulang kali.
Dan akhirnya—
Crown Prince Lienfell menyerah.
Ia menghantam meja sambil berteriak.
“Semua ini tidak ada gunanya!”
“Kita tidak bisa melawan takdir dunia!”
“Aku pikir kau adalah penyelamat dunia!”
“Tapi ternyata kita sudah selesai sejak awal!”
Sylvania tidak bisa menjawab.
Ia mengerti ketakutan itu.
Lienfell hanya bisa bertahan karena kiamat itu masih jauh di masa depan.
Jika kiamat itu sudah dekat—
ia pasti hanya akan bersembunyi dan gemetar.
Akhirnya pangeran itu kehilangan harapan.
Ia meninggalkan tahta.
Dan Sylvania diasingkan ke Aken Island.
Orang-orang hanya tahu satu rumor:
Sylvania melukai pangeran.
Namun Sylvania tidak pernah menjelaskan kebenaran.
Saat ia meninggalkan istana—
ia hanya tersenyum.
Karena ia tetap percaya.
Suatu hari nanti akan muncul variabel kecil yang mengubah dunia.
Variabel yang Tidak Pernah Terlihat
Di plaza—
Yenica Palover berdiri di tengah lingkaran sihir.
Di atasnya—
Glaskan, roh kegelapan tertinggi, mengamuk.
Sylvania terlempar dari menara akibat serangan itu.
Ia jatuh ke dalam bangunan di dekat plaza.
Namun yang membuatnya benar-benar terkejut bukanlah Glaskan.
Melainkan sesuatu yang lain.
Dalam ribuan masa depan yang pernah ia lihat—
hal-hal berikut selalu terjadi:
eksperimen Delheim milik Traceyana Bloomriver gagal
Lucy Mayril kalah karena tidak memahami cara bertarung orang lemah
Yenica Palover selalu hancur oleh trauma kegagalan
Namun sekarang—
semuanya berubah.
Variabel yang tidak pernah ada sebelumnya mulai muncul.
Sylvania melihat ke arah plaza.
Di sana berdiri seorang pria berambut pirang.
Ed Rosstaylor.
Tatapan matanya penuh racun.
Dan itulah yang paling aneh.
Yenica Melampaui Takdirnya
Yenica berlutut di tengah lingkaran sihir.
Separuh rambutnya telah berubah putih.
Tanda roh kegelapan merayap di tubuhnya.
Namun ia tidak kehilangan kendali.
Ia menahan kekuatan roh kegelapan itu dengan kemauannya sendiri.
Di langit—
bayangan raksasa muncul.
Bersama Glaskan—
muncul roh tertinggi lainnya.
Friede.
Roh air raksasa berbentuk paus.
Legenda mengatakan:
“Di mana pun Friede berada, di situlah lautan.”
Air membanjiri plaza.
Pasukan roh memenuhi langit.
Monster yang memenuhi udara disapu bersih.
Seolah seluruh dunia berubah menjadi kerajaan roh.
Namun tubuh Yenica hampir hancur.
Ia:
batuk darah
demam tinggi
hampir kehilangan kesadaran
Tetapi ia tetap berdiri.
Karena ada sesuatu yang ingin ia lindungi.
Sylvania Menggunakan Void
Melihat pasukan roh yang tak terhitung—
Sylvania akhirnya memutuskan menggunakan sihir terkuatnya.
Aspect Magic – Void.
Sihir yang mampu menghapus keberadaan itu sendiri.
Jika digunakan—
bahkan pasukan roh raksasa itu akan lenyap.
Namun saat ia hendak mengaktifkannya—
sebuah kekuatan lain menabrak sihirnya.
Aspect Magic.
Dalam jumlah yang bahkan lebih besar.
Sylvania membuka mata lebar.
Di atas bangunan—
berdiri
Lucy Mayril.
Di jarinya bersinar Phoenix Ring.
Cincin itu menarik mana dari masa depan.
Lucy tidak hanya meminjam mana beberapa hari.
Ia meminjam bertahun-tahun mana miliknya sendiri.
Mana yang terkumpul menjadi jumlah yang absurd.
Cincin itu bahkan mulai retak.
Namun Lucy tidak peduli.
Ia hanya memiliki satu tujuan.
Bertahan sekarang.
Serangan Lucy
Lucy muncul di depan Sylvania.
Ia berkata pelan.
“Ada sesuatu yang pernah dikatakan orang tua itu.”
Ia mengingat gurunya.
Glokt Elderbane.
“Dia bilang gurunya adalah guru terburuk.”
Sylvania teringat masa lalu.
Glokt yang selalu tersenyum ketika berbicara tentang dirinya.
Lucy mengangkat tangannya.
Aspect Magic raksasa menghantam Sylvania.
BOOM
Sylvania terlempar lagi dari menara.
Namun ia masih hidup.
Pertempuran terus berlanjut.
Lucy menyerang.
Yenica memanggil roh.
Friede menekan dengan Undersea Pressure.
Tekanan laut dalam menekan seluruh area.
Sylvania akhirnya jatuh ke tanah.
Pertanyaan Baru
Di bawah reruntuhan—
Sylvania berpikir.
Apakah semua perjuangannya selama ini sia-sia?
Apakah masa depan yang ia lihat benar-benar tak bisa diubah?
Namun sekarang—
hal yang tidak pernah ia lihat sebelumnya sedang terjadi.
Mungkin…
mungkin ada cabang masa depan yang tidak pernah ia perhatikan.
Satu variabel kecil.
Satu tetes cat biru.
Yang mengubah dunia.
Dan jawaban itu sudah jelas sejak awal.
Di tengah debu—
seorang pria bangkit.
Tubuhnya penuh darah.
Namun matanya masih tajam.
Ed Rosstaylor berjalan perlahan sambil memegang belati.
Tatapannya menancap pada Sylvania.
Tujuannya tidak pernah berubah.
Tidak muluk.
Tidak agung.
Tidak rumit.
Ia hanya ingin—
menang.