Ch 246 — “Kau yang Bertahan Hidup”

Novel: The Extra's Academy Survival Guide

← Sebelumnya Berikutnya →

Chapter 246 — “Kau yang Bertahan Hidup”


Larut malam di sebuah laboratorium yang rapi di Pulau Aken.


Sylvania Robester membuka sebuah buku.


Itu adalah buku yang berisi seluruh catatan penelitian Aspect Magic yang ia pelajari sepanjang hidupnya.

Grimoire yang baru saja ia selesaikan—yang kelak dikenal sebagai “Sage’s Seal.”


Tak lama lagi ia akan mengurung dirinya sendiri dalam Time Prison, untuk melihat masa depan kegelapan dengan matanya sendiri.


Perjuangan panjang melawan kegelapan akan dimulai.


Namun ia hanya bisa menguatkan dirinya sendiri.


Ia pernah mencoba memanggil seseorang.


Seseorang yang mungkin dapat membuka masa depan baru, ketika semua kemungkinan di dunia ini telah tertutup.


Ia menjalani hidupnya dengan harapan sekecil jerami itu.


Sepanjang hidupnya ia meneliti Aspect Magic, mencoba memanggil seorang pria yang hidup sendirian di dunia jauh di balik cahaya bintang.


Namun ia bahkan tidak bisa memastikan hasilnya.

  • Kapan pria itu akan datang

  • Bagaimana ia datang

  • Apakah kedatangannya akan membawa perubahan


Tidak ada yang pasti.


Yang bisa ia lakukan hanyalah melakukan yang terbaik dari tempatnya sekarang.


Pria dari Dunia Lain


Melalui pengamatannya terhadap dunia lain, Sylvania hanya mengetahui sedikit tentang pria itu.


Seorang pria yang hidup di dunia penuh gedung-gedung tinggi dan mesin.


Dunia yang sama sekali berbeda.


Pria itu selalu berada dalam bahaya.


Banyak rekan-rekannya mati.


Namun ia tetap bertahan hidup.


Bahkan setelah mengalami kegagalan, kesedihan, dan keputusasaan, ia tetap mencoba menjalani hidupnya sampai akhir.


Ia adalah seseorang yang selalu mencoba bertahan hidup, apa pun yang terjadi.


Karena itulah Sylvania yakin—


Jika pria itu suatu hari datang ke dunia ini…


Ia pasti akan bertahan sampai akhir.


Dan membuka kemungkinan baru.


Kata Pengantar


Sylvania mengambil pena bulu dan menulis pada halaman pertama buku itu.


Sebuah pesan untuk pria yang mungkin suatu hari akan muncul.


Preface dari Sage’s Seal.


Ia menulis perlahan.


“Untukmu… yang berhasil bertahan hidup.”


Sang Extra Berdiri


Di medan perang—


Ed Rosstaylor bangkit dari reruntuhan.


Tubuhnya penuh luka.


Darah mengalir dari mulut dan telinganya.


Namun ia tetap berdiri.


Di langit, pasukan roh memenuhi udara.


Namun di tengah semua itu—


seorang extra kelas tiga berdiri.


Bukan protagonis.


Bukan tokoh utama.


Namun ia tetap berdiri.


Ed memanggil roh angin tingkat tinggi.


Merilda muncul kembali.


Seekor serigala angin raksasa berdiri di belakangnya.


Sylvania menahan napas.


Bentuk serigala itu terasa… familiar.


Kata-kata di Buku


Sylvania teringat kembali kalimat yang ia tulis dulu.


“Akhir dari perjalanan panjangmu mungkin sangat berbeda dari yang kau bayangkan.”


Namun satu hal tidak berubah.


“Kau telah melalui perjalanan panjang yang sulit…
dan akhirnya bertahan sampai akhir.”


Serangan Ed


Ed menggunakan sihir dasar.


Wind Blade.


Sihir tingkat rendah.


Namun serangan itu mengenai lengan kanan Sylvania.


Setetes darah beterbangan.


Sylvania menatap luka itu dengan tidak percaya.


Serangan sihir tingkat tinggi yang memenuhi langit bahkan tidak mampu melukainya.


Namun sihir dasar Ed berhasil.


Pupil Sylvania bergetar.


Pertanyaan yang Pernah Ia Tulis


Sylvania mengingat kata-kata lain yang ia tulis di buku itu.


“Apakah kau bahagia karena berhasil bertahan hidup?”


“Atau kau justru takut karena harus terus hidup dalam penderitaan?”


“Apakah kau menemukan alasan untuk hidup?”


“Apakah hidupmu layak dijalani?”


“Apa yang kau dapatkan?”


“Apa yang kau kehilangan?”


“Apa yang berhasil?”


“Apa yang gagal?”


“Apa yang membuatmu menjadi dirimu sekarang?”


Buku itu adalah catatan pencariannya terhadap jawaban itu.


Semua Orang Bergerak


Sementara itu—


banyak orang menuju plaza.


Tailley McLaure dan teman-temannya meninggalkan Ofilis Hall.


Clevius menebas ratusan monster sendirian.


Dyke Elphelan dan para anggota klub tempur berlari menuju medan perang.


Lortel Kecheln memimpin para pedagang dan tentara bayaran.


Para ksatria dari gereja yang dipimpin oleh Saint Clarice juga datang.


Princess Fenia dan Princess Selaha berpisah.


Semua orang bergerak dengan alasan yang berbeda.


Namun satu hal sama.


Mereka ingin bertahan hidup.


Serangan Terkoordinasi


Pertempuran kembali meledak.


Lucy turun dari menara.


Lucy Mayril menggunakan sihir petir tingkat tinggi:


Never’s Punishment.


Ledakan petir menghantam Sylvania.


Segera setelah itu—


Yenica Palover menyerang dengan Dark Blade dari bawah tanah.


Namun Sylvania masih mampu bertahan.


Ia mencoba melarikan diri menggunakan Aspect Magic.


Namun Lucy menahannya.


Lucy berkata dengan suara dingin:


“Ke mana kau pergi?”


Kesempatan Ed


Saat Lucy menahan Aspect Magic Sylvania—


satu celah muncul.


Dan hanya ada satu orang yang bisa memanfaatkannya.


Ed menggunakan Aspect Magic:


Force Gathering.


Tubuh Sylvania tersedot ke arahnya.


Ed menusukkan belatinya ke bahu Sylvania sekali lagi.


Sylvania menjerit kesakitan.


Ed mendorong tubuhnya dengan seluruh berat badannya.


Ia menjatuhkan Sylvania ke tanah.


Keduanya berguling.


Ed mencabut belatinya dan mencoba menusuk lagi.


Namun—


KANG!


Tongkat Sylvania menahan belati itu.


Duel Terakhir


Belati Ed berhenti tepat di depan dahi Sylvania.


Keduanya saling menekan.


Belati itu bergetar di antara mereka.


Jika Ed sedikit melemah—


Sylvania bisa melepaskan sihirnya.


Namun Ed sudah di ambang kematian.


Ia hanya bertahan dengan kemauan.


Darahnya menetes ke wajah Sylvania.


Tatapan matanya penuh tekad untuk hidup.


Ingatan Sylvania


Sylvania tiba-tiba mengingat sesuatu.


Kenangan tentang pria yang ia lihat dari dunia lain.


Seorang tentara.


Ia melihat teman-temannya mati di medan perang.


Ia melihat:

  • kepala rekannya ditembus peluru

  • seorang perwira wanita mati karena granat

  • seorang sahabat mati kehabisan darah di punggungnya


Pria itu hampir bunuh diri.


Namun ia menurunkan pistol dari kepalanya.


Ia terus hidup.


Perang berakhir.


Ia kembali ke kota.


Namun trauma tetap ada.


Ia terbangun di malam hari.


Ia minum air dingin.


Ia menahan mual.


Ia hidup hari demi hari.

  • membaca buku

  • minum kopi

  • berbicara dengan teman

  • bermain game

  • memberi makan anjingnya

  • memperbaiki barang rusak


Hidupnya tidak berubah drastis.


Masalahnya tidak hilang.


Namun ia tetap hidup.


Dan suatu hari—


ia menyadari sesuatu.


Perlahan, tanpa sadar—


ia mulai terbiasa hidup.


Itulah hidup.


Belati Terakhir


KANG!


Ed akhirnya berhasil mendorong belatinya.


Belati itu menancap di bahu lain Sylvania.


Sylvania menahan pedih.


Lalu ia bertanya dengan suara tenang.


“Hei…”


Ed terkejut.


Tatapan Sylvania tidak lagi gila.


Kesadarannya kembali.


Ia bertanya:


“Apakah hidupku… layak dijalani?”


Sylvania ingin tahu.


Apakah perjuangannya melawan takdir dunia itu berarti?


Ed ingin menjawab.


Namun kata-kata terasa kosong.


Akhirnya—


ia hanya mengangguk pelan.


Itu saja.


Namun cukup.


Air mata mengalir dari mata Sylvania.


Ledakan Velbroke


Kesadaran Ed mulai memudar.


Pada saat itu—


raungan Velbroke mengguncang langit.


Semburan sihir raksasa menyapu Pulau Aken.


Kekuatan itu hampir menghancurkan seluruh pulau.


Gelombang sihir mencapai plaza.


Namun—


Sylvania mengaktifkan sihir tingkat tinggi:


Space Curtain.


Ed dan Sylvania terlindungi di dalamnya.


Ledakan raksasa berlalu di luar.


Dan untuk sesaat—


dunia menjadi sunyi.

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .