Chapter 236 – Menghadapi Sang Sage Gila

Novel: The Extra's Academy Survival Guide

← Sebelumnya Berikutnya →

Chapter 236 – Menghadapi Sang Sage Gila


Sejak awal, Ed Rosstaylor sudah terbiasa dengan kenyataan bahwa segala sesuatu tidak akan berjalan sesuai rencana.


Itulah sebabnya, bahkan ketika

Velbroke

bangkit lebih cepat dari yang seharusnya dan mengacaukan seluruh pulau, ia masih bisa mengambil keputusan dengan cepat.


Selama ini, alur dunia memang terus menyimpang dari skenario yang ia ketahui.


Namun setiap krisis masih bisa dihadapi karena satu alasan sederhana:


musuhnya selalu jelas.


Ia tahu:

  • siapa yang harus dikalahkan

  • bagaimana cara mengalahkannya

  • dan apa yang harus dipersiapkan sebelumnya


Namun kali ini berbeda.


Di luar jendela ruang persediaan berdiri seseorang yang melampaui semua aturan itu.


Sylvania.


Pendiri

Sylvania Academy.


Jenius terbesar dalam sejarah manusia.


Master dari Aspect Magic.


Dan seseorang yang seharusnya sudah lama mati.


Keanehan Sylvania


Menurut lore dunia ini, Sylvania adalah penyihir dari masa lalu, dari era ketika sihir bahkan belum berkembang seperti sekarang.


Ia juga orang yang menciptakan segel yang menahan Velbroke di dasar laut Aken Island.


Namun sekarang—


Sylvania berdiri di lorong Trix Building.


Dan jelas sekali bahwa sesuatu telah berubah.


Penampilannya berbeda dari deskripsi sejarah.


Rambutnya terurai berantakan.


Ia tertawa seperti orang gila.


Matanya kosong.


Ed kembali melihat pesan di halaman terakhir Sage’s Seal.


Pesan yang jelas ditujukan kepadanya.


Sylvania tahu tentang keberadaannya.


Bahkan kemungkinan besar dialah yang memanggil Ed ke dunia ini.


Namun jika begitu—


mengapa ia meninggalkan pesan rahasia di dalam buku?


Mengapa tidak langsung menemuinya?


Satu kemungkinan muncul di kepala Ed.


“Apakah… dia tidak bisa menemukanku?”


Atau—


sesuatu telah terjadi pada dirinya.


Kematian Rachel


Di lorong luar,

Rachel Theislin

yang sudah terluka parah mencoba berbicara.


Namun Sylvania tiba-tiba berhenti tertawa.


Ekspresinya berubah dingin.


Ia berkata dengan suara datar.


“Kamu sudah bekerja keras.”


“Sekarang… beristirahatlah.”


Dua Ice Spear langsung menembus jantung Rachel.


Wakil kepala akademi itu tewas seketika.


Lorong kembali sunyi.


Hanya terdengar:

  • raungan Velbroke di langit

  • suara pertempuran di seluruh akademi

  • dan monster yang terus bermunculan


Sylvania berjalan perlahan menyusuri lorong.


Para siswa di ruang persediaan menahan napas.


Ada sekitar lima belas orang di dalam ruangan.

  • beberapa gemetar ketakutan

  • beberapa menahan tangis

  • beberapa hanya bisa membeku


Ayla Triss memegang

Tailley McLaure yang terluka.


Semua orang menunggu dengan ngeri.


Sylvania Menemukan Mereka


Sylvania berhenti di depan dinding.


Dinding itu sebenarnya adalah pintu ruang persediaan yang disamarkan oleh sihir Rachel.


Namun Sylvania adalah penyihir yang mencapai puncak sihir.


Ia mendekat.


Lalu menempelkan dahinya ke kaca kecil pintu itu.


Senyum aneh muncul di wajahnya.


Pembuluh darah di matanya menonjol.


Ia berbicara pelan kepada “dinding”.


“──Apa yang ada di sini?”


Ed langsung berteriak.


“Semua orang tiarap!!”


Ia melepaskan sihir One Point Explosion ke pintu.


Ledakan besar terjadi.


Namun ledakan itu langsung ditelan oleh sihir Aspect milik Sylvania.


Sihir tingkat tinggi:


Annihilation.


Sihir yang menghapus keberadaan mana seolah-olah tidak pernah ada.


Ledakan Ed hampir sepenuhnya dihapus.


Namun pintunya tetap rusak.


Sylvania tersenyum.


“Di sini rupanya.”


Pelarian dari Trix Building


Ed langsung membuat keputusan.


Ia mengumpulkan mana lagi—


namun kali ini menyerang dinding luar gedung.


BOOM!


Dinding lantai empat jebol.


Lubang besar menuju luar terbuka.


“Semua orang lompat!”


Ia langsung menarik Tailley.


Dan melemparkannya keluar jendela.


Empat lantai.


Namun Ed menggunakan sihir angin untuk memperlambat jatuhnya.


Para siswa lain mulai melompat.


Sebagian terluka.


Namun tetap hidup.


Sementara itu Sylvania tidak tinggal diam.


Ia mengangkat tangannya.


Gelombang mana memenuhi ruangan.


Ed melompat keluar sambil melindungi Ayla.


Beberapa detik kemudian—


BOOOOOM!


Seluruh lantai empat Trix Building meledak.


Puing-puing berjatuhan ke halaman.


Gedung itu hampir runtuh.


Kekacauan di Halaman


Para siswa yang selamat berlari menuruni bukit.


Sebagian terpincang-pincang.


Sebagian panik.


Jika mereka bertemu monster dalam keadaan seperti itu—


kemungkinan besar mereka akan mati.


Namun tidak ada waktu untuk mengatur semuanya.


Di atas reruntuhan gedung—


Sylvania berdiri.


Seperti penguasa bencana.


Langit dipenuhi lingkaran sihir.


Monster terus muncul dari langit.


Tailley Ingin Melawan


Tailley McLaure berdiri sambil menahan luka.


Ia melihat Sylvania.


Ia tahu jelas—


ini musuh yang mustahil dikalahkan.


Namun ia tetap menghunus pedang.


Ed menghela napas.


Tailley adalah tipe orang yang tidak pernah lari.


Tidak peduli seberapa mustahil musuhnya.


Namun Ed tidak bisa membiarkannya mati.


Ia mencoba memanggil roh angin.


Merilda.


Namun kali ini Merilda muncul dalam bentuk manusia.


Ia menatap Sylvania dengan wajah bingung.


Karena Merilda dan Sylvania dahulu adalah teman dekat.


Ed memegang bahu Merilda.


“Tenang.”


“Menurutmu dia masih waras?”


Merilda terdiam.


Akhirnya ia berkata pelan.


“Aku ingin bicara dengannya…”


Namun Ed menggeleng.


“Kalau kamu bergerak sembarangan, kamu akan mati.”


Sylvania bahkan belum menunjukkan tanda mengenali Merilda.


Itu tanda buruk.


Keputusan Ed


Sylvania mengangkat tongkatnya.


Mana raksasa memenuhi langit.


Ed tahu satu hal pasti.


Ia tidak bisa mengalahkan Sylvania sendirian.


Bahkan jika semua kekuatan di pulau dikumpulkan—


belum tentu cukup.


Namun ada satu harapan.


Selama

Velbroke

belum sepenuhnya lepas dari segel—


masih ada kesempatan.


Dan satu-satunya orang yang bisa membunuh Velbroke adalah Tailley.


Ed berkata singkat.


“Lari.”


Tailley menatapnya kaget.


“Apa?”


“Aku akan menahan waktu.”


“Pergi kumpulkan teman-temanmu dan bunuh naga itu.”


Tailley menggeleng.


“Aku tidak bisa meninggalkanmu melawan monster itu sendirian.”


Ed tidak menjawabnya.


Ia hanya menatap Ayla.


Ayla langsung mengerti.


Ia menarik Tailley.


“Kita harus pergi sekarang!”


“Yang bisa mengalahkan Velbroke hanya kamu!”


Tailley ragu.


Namun akhirnya ia menggertakkan gigi.


Ia berlari.


Ayla ikut pergi bersamanya.


Ed menghela napas.


Ia mengeluarkan semua alat sihir yang ia miliki.


Ia merapikan rambutnya.


Lalu menatap ke arah Sylvania.


Peluang menangnya hampir nol.


Namun ia tetap berdiri tegak.


Karena satu alasan sederhana.


Ia harus menghadapinya.

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .