Chapter 235 – Pesan Terakhir Sang Sage
Monster terus berdatangan tanpa henti.
Jeritan mereka memenuhi jalan menuju
Trix Building.
Namun jumlah mereka sebenarnya bukan inti masalah.
Pola pemanggilan monster milik
Velbroke
memang tidak dirancang untuk dikalahkan.
Dalam cerita asli, pola ini muncul ketika naga itu hampir dikalahkan oleh
Tailley McLaure.
Tujuannya hanya satu:
menghalangi Tailley memanjat tubuh naga dan menusuk jantungnya.
Artinya—
membunuh monster-monster ini tidak akan menghentikan bencana.
Satu-satunya cara adalah:
membunuh Velbroke.
Jalan Menuju Trix Building
Ed Rosstaylor menebas jalan dengan sihir angin.
Blade Storm menyapu gerombolan monster.
Namun konsumsi mana jauh lebih besar dari yang ia harapkan.
Meski begitu, ia terus maju.
Seragam akademinya sudah penuh darah monster.
Untungnya tubuhnya belum mengalami luka serius.
Selama kemampuan bertarungnya masih utuh—
semuanya masih bisa diperbaiki.
Di ujung bukit kecil akhirnya terlihat gedung Trix.
Namun pemandangannya mengejutkan.
Sebagian bangunan runtuh.
Atapnya hancur.
Area sekitar dipenuhi mayat monster.
Ed berlari masuk.
Lobby yang Hancur
Lobby besar gedung Trix biasanya penuh staf dan profesor.
Sekarang tempat itu seperti reruntuhan.
kaca pecah
kursi hancur
furnitur terbalik
Beberapa staf tergeletak pingsan.
Beberapa sudah mati karena pendarahan.
Jejak pedang terlihat di dinding.
Artinya Tailley pernah bertarung di sini.
Namun sesuatu terasa aneh.
Gedung ini adalah pusat administrasi akademi.
Seharusnya banyak orang di sini.
Namun hampir tidak ada yang tersisa.
Ed naik ke lantai dua.
Lalu lantai tiga.
Masih kosong.
Baru di lantai empat—
ia menemukan seseorang.
Wakil Kepala Akademi
Pintu ruang konferensi besar terbuka.
Seorang wanita tua keluar sambil memegang luka di perutnya.
Ia hampir roboh.
Ed langsung mengenalinya.
Rachel Theislin.
“Wakil kepala sekolah! Apa yang terjadi?”
Rachel menatapnya dengan napas terengah.
“Ed… Rosstaylor…”
“Bagaimana situasi di luar?”
Ed menjawab singkat.
“Pulau ini kacau.”
“Para siswa dan beberapa tokoh kuat masih bertahan.”
Rachel langsung berkata dengan panik.
“Kita harus ke ruang persediaan… sekarang!”
Ed membantu Rachel berjalan.
Di sepanjang jalan Rachel menjelaskan.
“Semua pimpinan akademi berkumpul di ruang konferensi untuk memutuskan langkah darurat…”
“Tapi…”
“Seseorang menerobos masuk.”
Ed mengerutkan kening.
“Maksudnya?”
Rachel berbisik.
“Aku sendiri masih sulit mempercayainya.”
Ia menyebut nama-nama yang sudah tumbang.
Para profesor terkuat akademi:
Dekan Combat Department
Dekan Alchemy
profesor senior monster ecology
profesor sihir elemen
Semua kalah.
Bahkan
Obel Forcius
adalah yang pertama jatuh.
Tiba-tiba—
gelombang mana merah gelap meledak dari ruang konferensi.
Ed langsung mengenalinya.
Aspect Magic.
Jumlahnya jauh melampaui apa pun yang pernah ia lihat.
Bahkan lebih kuat dari milik
Professor Glast.
Rachel menarik Ed.
Ia mendorongnya masuk ke ruang persediaan.
Lalu menutup pintu.
Ia menempelkan sihir kamuflase sehingga pintu terlihat seperti dinding.
Baru saat itu Ed sadar.
Rachel tidak mengurungnya.
Ia menyembunyikannya.
Para Siswa yang Bersembunyi
Di dalam ruangan gelap itu ada sekitar lima belas siswa.
Mereka gemetar ketakutan.
Beberapa menangis.
Salah satu siswa mendekati Ed.
“Senior Ed!”
Itu adalah
Ayla Triss.
Ia menarik Ed ke sudut ruangan.
Di tangannya terdapat Sage’s Seal.
Ayla ternyata berhasil menyelinap ke Trix Building.
Di sudut ruangan lainnya—
orang yang Ed cari akhirnya ada di sana.
Tailley McLaure.
Namun kondisinya buruk.
Ia terluka parah.
Ayla sedang merawat lukanya.
Ed langsung menyadari situasi ini buruk.
Tailley adalah satu-satunya orang yang bisa menusuk jantung Velbroke.
Jika ia tidak bisa bertarung—
semua rencana runtuh.
Monster di Trix Building
Tailley menjelaskan dengan napas berat.
“Di gedung ini…”
“ada monster.”
“Bukan monster biasa…”
“monster yang bahkan profesor tidak bisa lawan.”
Saat itu—
ledakan besar terdengar dari lorong.
Rachel yang berjaga di luar terpental oleh sihir.
Ia jatuh bersimbah darah.
Kemudian seseorang muncul di lorong.
Seorang gadis kecil mengenakan jubah tua.
Rambut putihnya terurai.
Matanya kosong.
Ia tertawa aneh.
Apa yang Terjadi di Ruang Konferensi
Rachel teringat apa yang terjadi sebelumnya.
Ketika para profesor sedang rapat—
cahaya terang tiba-tiba muncul di tengah ruangan.
Seorang gadis muncul dari cahaya itu.
Tubuh kecil.
Membawa tongkat besar.
Ia berbicara dengan suara elegan.
“Oh… banyak sekali variabel di sini.”
Lalu ia melambaikan tangan.
Tanpa peringatan—
setengah profesor langsung roboh bersimbah darah.
Kutukan.
Para profesor mencoba melawan.
Namun—
dalam waktu kurang dari 10 detik
seluruh profesor terkuat kekaisaran dikalahkan.
Pesan dari Sylvania
Sementara itu di ruang persediaan—
Ayla membuka halaman terakhir Sage’s Seal.
Di sana ada pesan tulisan tangan.
Tulisan milik
Sylvania.
Pesan itu tampaknya ditulis terburu-buru.
Ayla tidak bisa memahaminya.
Ia menyerahkan buku itu kepada Ed.
“Senior… kamu bisa membaca ini?”
Ed melihat tulisan itu.
Lalu ia membeku.
“Ini…”
“bahasa Korea.”
Semua orang bingung.
Ed membaca pesan itu.
Pesan dari masa lalu.
Ditujukan kepada seseorang yang selamat.
Isi pesan itu:
Sylvania tahu seseorang akan hidup melalui kematian, kesepian, dan penderitaan.
Ia tahu Aspect Magic perlahan membuatnya gila.
Namun ia tidak bisa berhenti.
Karena ia menolak menerima masa depan yang berakhir dalam kegelapan.
Namun jika suatu hari ia kehilangan akal—
jika ia menjadi monster yang tidak lagi melihat masa depan—
maka ia memohon satu hal.
Permintaan Terakhir
Ed membaca kalimat terakhir.
“Jika saat itu tiba…
tolong bunuh aku.
Agar kamu bisa bertahan hidup.”
Ed perlahan mengangkat kepalanya.
Melalui jendela ruang persediaan—
gadis berjubah putih itu berdiri di lorong.
Rambut putihnya terurai.
Matanya kosong.
Wajahnya sama seperti potret dalam sejarah.
Itu adalah
Sylvania.
Namun bukan Sylvania yang dulu.
Melainkan seorang jenius yang telah ditelan kegilaan Aspect Magic.
Di luar—
raungan Velbroke kembali mengguncang langit.
Bencana masih berlangsung.
Namun sekarang—
mereka menghadapi dua ancaman sekaligus.
Velbroke di langit.
Dan Sylvania yang telah menjadi monster di dalam akademi.