Senjata spiritual memang punya peringkat, tapi bukan berarti siapa pun bisa memaksimalkan kekuatannya. Kekuatan sebuah senjata juga sangat bergantung pada siapa yang memegangnya.
Senjata spiritual grade 3 di tangan ahli Soul Harmony bisa jauh lebih menakutkan daripada senjata spiritual grade 9 di tangan kultivator Radiant Stage.
Namun kali ini semua itu seolah tidak berlaku.
Sekarang, seorang ahli Soul Harmony terpaksa memakai senjata spiritual untuk menghadapi seorang bocah Radiant Stage.
Kalau saja pedang Zhuo Fan tidak seaneh itu, para elder tidak akan sudi menjatuhkan martabat mereka dengan mengandalkan senjata spiritual untuk “mengeroyok” junior. Tapi pada kenyataannya, bahkan senjata spiritual mereka tak ubahnya tusuk gigi—hanya cukup tahan satu tebasan.
Hal itu membuat mereka bergidik.
Apa sebenarnya benda yang dipegang bocah itu, sampai senjata spiritual grade 9 pun terasa seperti barang murahan?
Mereka akhirnya mulai menganggap pertarungan ini serius.
Dari sisi murni kekuatan, Zhuo Fan jelas lebih lemah, seperti anak kambing di hadapan serigala.
Tapi pedang di tangannya… justru membuat “anak kambing” itu menjadi serigala yang siap memangsa.
Para elder agung dari Universal Righteous Sect itu mulai merasa gentar.
Elder Bai He melotot marah pada Zhao Dezhu,
“Apa-apaan kau ini?! Kenapa kau tidak bilang kalau dia punya senjata dewa seperti itu?!”
“E-Elder Bai He, aku juga tidak tahu…” Zhao Dezhu merasa terzalimi, lalu menatap Zhuo Fan dengan penuh benci.
Berapa banyak lagi yang dia sembunyikan? Kenapa waktu melawan Ye Lin dia tidak mengeluarkan pedang itu?
Tentu saja, mana mungkin Zhuo Fan mengibarkan pedang seperti itu sembarangan.
Sedikit saja salah langkah, dia sudah jadi mayat karena semua orang mengincarnya.
Para elder itu memang tidak tahu bahwa pedang tersebut adalah harta penjaga daratan barat, tapi naluri mereka cukup untuk menyalakan keserakahan.
Kalau di tangan Zhuo Fan saja pedang itu sebegitu mengerikannya—
bagaimana kalau berada di tangan seorang ahli Soul Harmony?
Mereka serentak menyerang Zhuo Fan.
Senjata spiritual menghujani udara seperti badai baja, sementara teknik-teknik tingkat tinggi dilancarkan untuk menutup semua celah.
Zhuo Fan mungkin bisa menangkis satu serangan, tapi bukan dua sekaligus.
Selama ia mati, pedang itu akan menjadi milik mereka.
Zhuo Fan menyipitkan mata.
Ia bisa membaca niat mereka dan tersenyum miring. Mata kanannya kembali memancarkan kilau emas.
[Divine Eye of the Void, Tahap 1 — Shift!]
Zhuo Fan menghilang, dan muncul tepat di depan Elder Bai He—yang saat ini sudah tidak memegang senjata spiritual.
Elder Bai He kaget setengah mati dan buru-buru menghindar sambil mengumpat dalam hati.
Serius, bocah ini datang lagi?! Senjataku sudah dihancurkan, sekarang dia mau menghabisiku sekalian? Kalau memang jantan, taruh pedang itu dan lawan aku dengan tangan kosong!
Elder Bai He kabur, sementara Zhuo Fan mengejarnya dari belakang.
Para ahli Ethereal yang melihatnya melongo.
Seorang Radiant Stage mengejar Soul Harmony Stage?
Ini benar-benar di luar nalar.
Harga diri Elder Bai He hancur lebur, tapi nyawanya jauh lebih penting.
Sekuat apa pun tubuh dan jiwa seorang ahli Soul Harmony, di hadapan pedang itu… tetap saja seperti kertas tipis.
Memalukan sekali! Dikejar-kejar bocah ingusan di depan begitu banyak orang!
Tapi daripada tewas terbelah dua, lebih baik kehilangan muka.
Maka ia terus lari, Zhuo Fan terus mengejar. Kurang satu elemen saja adegan ini jadi seperti orang dewasa dikejar rentenir sambil teriak minta tolong.
“Elder Bai He, aku datang membantumu!”
Seorang elder lain berteriak, menurunkan tombak panjangnya dan menerjang ke arah Zhuo Fan.
Di saat bersamaan, ia juga menyatukan jiwa dengan tubuhnya dan menghantam Zhuo Fan dengan tinju.
Dua serangan di dua arah!
Kali ini Zhuo Fan tidak mungkin bisa terus mengejar Bai He.
Untuk Shift lagi pun sudah sulit—para elder kini mengawasinya ketat. Setiap kedipan mata bisa jadi jebakan.
Mau tak mau, ia harus menerima pertarungan langsung.
Mata Zhuo Fan memancarkan kilau menyeramkan. Ia mengibaskan pedangnya, melemparkannya ke arah tombak, sementara lengan kanannya berpendar merah ketika ia meninju serangan lawan.
Elder itu justru tertawa puas.
“Ha-ha-ha! Sekuat apa pun kau, tinjuku didukung jiwa Soul Harmony! Kau tidak mungkin lolos!”
Zhuo Fan menyeringai.
“Ha-ha-ha, aku tahu…”
Mata kanannya kembali berkilau emas.
“Karena itu, tinjuku bukan untukmu…”
“…tapi untuk menghancurkan senjata spiritualmu.”
Elder itu terbelalak ketika menyadari posisi mereka tertukar—
yang berdiri di depan tinjunya sekarang bukan lagi Zhuo Fan, melainkan pedang iblis itu.
Bam!
Pukulan Zhuo Fan menghantam tombak spiritual, mengirim tubuh elder itu terlempar dengan darah muncrat dari mulutnya.
Sementara tinju sang elder sendiri sudah telanjur meluncur ke arah pedang itu.
Whoosh~
Jeritan pilu menggema, dan satu lagi ahli Soul Harmony jatuh berlumuran darah.
Pedang itu menembus tubuhnya dan kembali berputar liar di udara, lalu mendarat lagi di tangan Zhuo Fan.
Zhuo Fan terengah-engah, menyeka darah dari sudut bibirnya, lalu menyeringai gila.
“Itu dua…”
Suara desah kaget terdengar di mana-mana.
Para ahli Ethereal menatapnya seperti melihat hantu.
Enam elder tersisa memandang Zhuo Fan seperti melihat monster, tangan mereka bergetar.
Dalam waktu singkat, dua elder Soul Harmony sudah tumbang.
Anak ini… trik-triknya benar-benar busuk!
“Serang bersama-sama!”
Elder Bai He menggertakkan gigi.
“Bocah ini terus memanfaatkan celah serangan kita untuk menghabisi kita satu per satu. Dengan pedang dan teknik anehnya, bahkan kita pun bisa mati di bawah bilahnya.”
Para elder lain bergidik, lalu mengangguk.
“Sepertinya… kita harus sedikit menurunkan martabat kita. Bocah ini memang pantas diperlakukan seperti ini.”
Elder Bai He menyapu pandangan ke sekeliling, lalu menatap Zhao Dezhu.
“Bawa seratus orang dan kejar para gadis. Yang lain, kita habisi bocah iblis ini bersama-sama!”
“Siap, Elder!”
Semua menjawab mantap. Zhao Dezhu tertawa,
“Zhao Dezhu harap kau masih hidup saat aku kembali membawa para gadis itu, ha-ha-ha…”
Ia lalu memimpin seratus orang memutari posisi Zhuo Fan.
Boom!
Namun sebuah ledakan terjadi—Almighty Scarlet Dragon King muncul lagi di depan mereka, menghadang jalur.
Zhuo Fan berbicara lirih, penuh tekanan,
“Aku sudah bilang… selama aku masih di sini, tidak ada yang—”
Bam!
Belum sempat selesai, tubuhnya bergetar hebat dan ia memuntahkan darah.
Seorang elder Soul Harmony muncul di depan naga itu dan menghantam punggungnya.
Sisik keras naga itu hancur, dan raungan kesakitan terdengar.
“Ha-ha-ha, akhirnya jiwa naga itu keluar juga.”
Elder Bai He menyeringai licik.
“Tadi kau menarik jiwamu agar mudah menghabisi Elder Yin Chui tanpa mengekspos kelemahanmu. Tapi untuk menghentikan mereka, kau terpaksa memanggilnya lagi—dan menunjukkannya di depan ahli Soul Harmony.”
“Sepertinya, gadis-gadis itu lebih penting bagimu… daripada nyawamu sendiri.”
Mata Zhuo Fan bergetar.
Meski darah terus menetes dari mulutnya dan tubuhnya limbung, ia masih berdiri tegak.
Elder Bai He menghela napas.
“Tak ada gunanya. Satu pukulan lagi, jiwa nagamu akan hancur. Pedangmu memang luar biasa, tapi tidak bisa menahan semua serangan.”
“Ha-ha-ha, begini saja. Kau punya dua pilihan: mati di sini, atau membiarkan kami lewat… dan mengambil para gadis itu.”
Zhao Dezhu tertawa puas.
“Jujur saja, aku berharap kau memilih pilihan kedua. Kalau kau tidak menarik kembali jiwa nagamu, pukulan berikutnya akan membunuhmu, dan kau tetap tidak bisa menyelamatkan mereka. Tapi kalau kau menarik jiwamu… bukankah kau akan ‘bertemu’ lagi dengan mereka sebentar lagi? Ha-ha-ha… jadi, apa pilihanmu…?”
Zhao Dezhu benar-benar menikmati penderitaan batin Zhuo Fan.
Zhuo Fan menyeringai bengis, tapi sorot matanya tetap teguh.
“Aku sudah bilang… tidak ada yang boleh lewat.”
“Kalau begitu, mati saja!”
Zhao Dezhu berteriak.
Ia lalu menoleh pada elder di depan naga.
“Elder, silakan.”
Sorot mata elder itu berkilat buas. Tinju besarnya menghantam punggung naga itu lagi.
Namun, hal yang terjadi berikutnya membuat semua orang terpaku.
Begitu pukulan itu mendarat, dunia seakan hening sesaat.
Lalu, diiringi raungan mengerikan, tubuh naga itu berubah menjadi hitam legam, memuntahkan kabut gelap pekat yang kemudian membungkus tubuh sang elder…