Chapter 1028 - Kejutan Qin Bashen
“Hahaha! Sepertinya bahkan langit pun sudah muak!”
Qin Bashen tertawa liar.
Tapi tawa itu…
Penuh kebencian.
Para kultivator Mahayana langsung berubah ekspresi.
Tapi takut?
Enggak.
Mereka sudah hidup ribuan tahun.
Badai macam apa yang belum pernah mereka lihat?
Masa iya cuma gara-gara Qin Bashen langsung mundur.
Tetua berjubah putih langsung bergerak lebih dulu.
Dia mengeluarkan flying sword dari lengan bajunya.
Targetnya jelas:
Penggal kepala Qin Bashen.
!!
BOOM!
Petir turun dari langit!
Langsung menghancurkan flying sword itu.
Belum selesai—
Semua segel di tubuh Qin Bashen ikut hancur!
Jimat-jimat berubah jadi debu.
Semua orang…
membeku.
Qin Bashen kaget.
Para kultivator kaget.
Seluruh istana…
kaget.
Sebuah suara wanita yang dingin terdengar, menggema ke seluruh dunia.
“Manusia fana saja berani menghina garis keturunan keluarga Han?”
“Percaya atau tidak, bahkan Immortal pun tidak akan berani menghentikanku jika aku ingin menghancurkan dunia fana ini!”
Itu suara Han Ling.
Dominan.
Penuh amarah.
Suhu dunia seakan turun drastis.
Semua orang merinding.
Terlalu arogan.
Tapi…
Tidak ada yang berani membantah.
Para kultivator Mahayana langsung sadar.
Lawan ini…
Bukan level mereka.
Namun satu kata membuat mereka terpaku:
Han Family.
Tetua berjubah putih menoleh ke Kaisar.
Dan melihat—
Kaisar juga pucat.
Suara Han Ling terdengar lagi.
“Anak muda, balas dendammu.”
“Siapa pun yang menghalangimu, akan dihancurkan tubuh dan jiwanya.”
“Setelah itu, ikutlah denganku ke Upper World untuk berkultivasi dan melampaui tubuh fana!”
Mata Qin Bashen langsung berubah.
Kejam.
Dingin.
Penuh tekad.
Dia berdiri perlahan.
Tubuhnya gemetar…
Bukan karena takut.
Tapi karena emosi yang meledak.
Dia berjalan menuju Permaisuri.
Di sekelilingnya—
Para kultivator yang tadinya melindungi Permaisuri…
Sekarang ketakutan setengah mati.
Mereka langsung kabur.
Permaisuri jatuh terduduk.
Wajahnya pucat.
Dia menjerit minta tolong.
Tapi tidak ada yang bergerak.
Tidak ada yang berani.
Para kultivator Mahayana menoleh ke tetua berjubah putih.
Wajahnya gelap.
Tapi dia diam.
Tidak memberi perintah.
Artinya jelas:
Dia memilih menyelamatkan garis keturunannya sendiri.
Qin Bashen berjalan melewati Kaisar.
Kaisar gemetar.
“Anakku… berhenti…”
Tidak digubris.
Qin Bashen mendekati Permaisuri.
Mengangkat tangan.
Dan—
BOOM!
Satu pukulan.
Selesai.
Permaisuri mati di tempat.
Darah muncrat ke mana-mana.
Qin Bashen menoleh ke langit.
Menatap para kultivator.
Dan berteriak:
“Leluhur keluarga Han!”
“Bisakah kau membunuh mereka untukku?!”
Tetua berjubah putih langsung murka.
“Berani kau—”
“Baik.”
Satu kata dari Han Ling.
Dan dunia seakan membeku lagi.
Para kultivator Mahayana panik.
Tetua berjubah putih langsung berteriak:
“Bunuh anak itu dulu!”
Semua kultivator langsung menyerang.
Berbagai teknik menghujani Qin Bashen.
Dia kuat.
Tapi—
Dia belum punya Dharmic powers.
Ditambah tubuhnya masih terluka.
Mustahil menghindar.
Namun…
Saat semua serangan hampir mengenainya—
Lenyap.
Seperti asap.
Detik berikutnya—
AAAAA!!
Jeritan terdengar dari langit.
Satu per satu kultivator Mahayana jatuh.
Mati.
Di depan Qin Bashen.
Qin Bashen menyeringai.
Perasaan yang selama ini tertahan…
Akhirnya terlepas.
Kaisar menatap semua ini dengan kosong.
Penyesalan memenuhi hatinya.
Dia teringat satu kalimat…
Dari selir Han, saat dia mengusirnya:
“Yang Mulia, Anda menginginkan kekuatan keluarga Permaisuri.”
“Jika suatu hari keluarga Han menemukan leluhur mereka…”
“Anda pasti akan menyesal.”
Dulu…
Dia menganggap itu omong kosong.
Sekarang?
Dia merasa dirinya…
bodoh luar biasa.
Dan kebodohan itu…
Akan menghancurkan seluruh dinasti Qin.
Dao Field Ketiga
Qin Bashen sudah berganti pakaian.
Lukanya sembuh.
Kotoran di tubuhnya hilang.
Dengan tubuh kekar dan wajah tampan…
Dia terlihat seperti orang berbeda.
Tapi sekarang—
Dia malah gelisah.
Di sekelilingnya…
Xing Hongxuan, Qingluan’er, dan para murid Dao Field mengelilinginya.
“Wah, sesuai dugaan. Keturunanmu ganteng juga.”
“Itu karena jaraknya generasi jauh banget.”
Qin Bashen kaku.
Tidak berani bicara.
Han Ling datang sambil tersenyum.
“Ibu-ibu, jangan ganggu dia terus.”
“Beberapa hari lalu dia masih kayak anak kecil. Gimana mau tahan digodain terus?”
Xing Hongxuan dan Qingluan’er penasaran.
Mereka sudah lama jauh dari Heavenly Dao.
Tidak tahu situasi luar.
Han Ling pun menceritakan semuanya.
Mereka langsung kesal.
Qin Bashen tetap diam.
Entah apa yang dia pikirkan.
Tak lama—
Han Ling membawanya ke Daoist temple.
Begitu melihat Han Jue—
Qin Bashen langsung terdiam.
Di dalam hatinya cuma satu pikiran:
“Bagaimana bisa ada orang sesempurna ini?”
Han Ling berkata,
“Ini ayahku.”
“Dan juga ayah dari leluhur keluarga Han.”
“Leluhur itu adalah Heavenly Dao Sage, Han Yunjin.”
Qin Bashen langsung kaget.
Dia tidak paham sepenuhnya…
Tapi kedengarannya sangat tinggi.
Han Jue tidak membuka mata.
Han Ling lanjut menjelaskan sejarah keluarga Han.
Setelah selesai—
Qin Bashen akhirnya bicara.
Dengan nada agak berat.
“Kalau keluarga Han sekuat itu…”
“Kenapa membiarkan keturunannya menderita?”
“Kalau aku saja begini…”
“Pasti banyak yang lain juga terlantar!”
Han Ling mengerutkan kening.
“Keturunan keluarga Han itu tak terhitung.”
“Kami memberimu kehidupan, bukan kewajiban melindungimu seumur hidup.”
“Di dunia fana, siapa yang tidak punya leluhur hebat?”
Qin Bashen menatapnya.
“Lalu kenapa kau menolongku?”
“Karena bakatku?”
Suara lain menjawab.
Tenang.
Dalam.
Berat.
“Itu juga aku yang memberimu.”
Han Jue.
Dia sudah membuka mata.
Menatap Qin Bashen.
Qin Bashen langsung menunduk.
Lebih tegang dibanding menghadapi Han Ling.
Han Ling juga kaget.
Bakat bisa… dikasih?
Han Jue berkata pelan,
“Keturunan keluarga Han tak terhitung jumlahnya.”
“Kau dipilih bukan karena aku menyukaimu.”
“Ini adalah takdirmu.”
“Aku memilih secara adil.”
“Siapa pun yang terpilih, itu kesempatan mereka.”
Dia berhenti sejenak.
Lalu lanjut:
“Aku tidak berhutang apa pun pada keluarga Han.”
“Tanpaku…”
“Keluarga Han bahkan tidak akan ada.”
Qin Bashen terdiam.
Kata-katanya tadi…
Memang berlebihan.
Dia menatap lagi.
“Leluhur… apa yang harus aku lakukan?”
Han Jue menjawab singkat:
“Mulai sekarang, layani putriku.”
Qin Bashen menoleh ke Han Ling.
Han Ling tersenyum.
“Tenang saja.”
“Kamu bisa kultivasi di sini.”
“Aku sendiri sudah hidup puluhan juta tahun.”
“Baru keluar dua kali.”
“Dan belum pernah menghadapi bahaya.”
Qin Bashen:
…😶
Puluhan juta tahun?!
Han Jue menutup mata lagi.
Balik kultivasi.
Han Ling membawa Qin Bashen pergi.
Dia membuatkan Daoist temple untuknya.
Dia mulai mengajarkan teknik kultivasi.
Setelah Qin Bashen menghafalnya, dia berkata:
“Kalau gak ada apa-apa, jangan ganggu Daoist temple kami.”
“Ayahku selalu berkultivasi.”
“Sekali masuk, bisa lima juta tahun.”
Dia lanjut:
“Kalau kamu mentok, aku yang akan bimbing.”
“Kalau bosan, kamu boleh cari murid lain.”
“Tapi sebaiknya fokus ke kultivasi.”
Han Ling menatapnya.
Lalu berkata pelan:
“Mungkin ini menyakitkan…”
“Tapi kematian ibumu… terjadi karena kamu terlalu lemah.”
Qin Bashen membeku.
“Tapi…”
“Selama kamu cukup kuat…”
“Kamu masih bisa membalasnya setelah dia bereinkarnasi.”
Dia tersenyum tipis.
“Siklus reinkarnasi itu tak berujung.”
“Aku jamin…”
“Ibumu akan bereinkarnasi.”