“Aku nggak bisa lihat cultivation level-mu. Gimana kalau kita spar?” tanya Jiang Yi dengan mata menyala-nyala.
Aura-nya tuh kayak gamer yang baru nemu ranked opponent setara.
Han Jue senyum tipis.
“Maaf. Aku bukan tandinganmu. Nanti malu.”
Dalam hati:
Kalau bisa insta-kill, aku sudah mulai duluan, bang.
Jiang Yi mengangguk.
Masuk akal.
“Kalau begitu, kita diskusi Dao saja. Walau aku bukan spesialis Sword Dao, potensimu lumayan. Kita bisa bahas.”
Han Jue hampir refleks bilang “nggak usah.”
Tapi ini kesempatan gratis.
“Baik.”
Keduanya duduk bersila di void. Tatap-tatapan.
Jiang Yi’s Sword Dao
Gaya Jiang Yi: overpowered mode aktif.
Sword Dao-nya fokus pada momentum absolut.
Tekan lawan pakai Dharmic power.
Ledakkan kekuatan.
Pinjam Heavenly Dao.
Hajar.
Intinya:
Kalau bisa brutal, kenapa harus halus?
Han Jue dengar serius.
Enam tahun.
Diskusi ini bukan cuma debat.
Jiang Yi juga merapikan Dao-nya sendiri.
Jujur?
Bocah ini memang monster.
Talent-nya absurd.
Long Hao punya darah Heavenly Emperor.
Tapi comprehension?
Masih jauh dari Jiang Yi.
Giliran Han Jue
Han Jue mulai menjelaskan Sword Dao versinya.
Masih fokus pada ledakan.
Tapi lebih stabil.
Lebih sustainable.
Lebih fleksibel.
Tidak cuma one-hit kill.
Ada endurance.
Ada adaptasi.
Beberapa saat kemudian, wajah Jiang Yi berubah.
Dia sadar.
Dia meremehkan orang ini.
Enam tahun.
Diskusi selesai.
Jiang Yi berkata serius,
“Potensimu di Sword Dao… top tiga dunia.”
Han Jue tersenyum.
“Kalau begitu, kau nomor satu.”
Jiang Yi tidak menyangkal.
Dia cuma tersenyum percaya diri.
(Notifikasi: Jiang Yi favorability naik jadi 3 star.)
Han Jue hampir muntah darah.
Orang ini bukan cuma kuat.
Dia juga percaya diri level dewa.
Setelah basa-basi sedikit, Jiang Yi pergi.
Kembali ke Cave Abode
Dao Comprehension Sword langsung lari.
“Master! Kamu lama banget! Aku takut!”
Ini pertama kalinya Han Jue pergi selama itu.
Kalau bukan Golden Crow yang bilang dia di langit, Hidden Sect sudah panik massal.
Han Jue mengusap kepalanya.
“Apa yang kau takutkan? Kalau aku kabur, pasti aku bawa kamu.”
Matanya merah.
Dia benar-benar khawatir.
Han Jue sedikit terdiam.
Lalu kembali duduk dan mencerna diskusi tadi.
Dua tahun refleksi.
Lalu cultivation lagi.
Waktu = nyawa.
Kalau dia malas dua jam sehari, setahun minus 730 jam.
Seratus tahun?
Minus 73.000 jam.
Nope.
Sepuluh Tahun Kemudian
Kutukan rutin.
Cek notifikasi.
Ji Xianshen dipukuli 159.221 kali.
Sword God Emperor diserang Golden Crow lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Han Jue cuma bisa simpati.
Orang itu benar-benar punching bag kosmik.
Tapi satu hal menarik—
Sword God Emperor diserang Jiang Yi juga.
Han Jue menyipitkan mata.
Golden Crow Divine Clan memang brutal.
Latih Golden Crow
Han Jue berdiri.
Datang ke Fusang Tree.
Lihat Ah Da dan Xiao Er.
“Mau belajar Mystical Power?”
Dua Golden Crow langsung turun.
Transform jadi remaja 14–15 tahun.
“Master! Apa yang diajarkan?”
Han Jue berpikir.
Somersault Cloud dulu.
“Ke void.”
Long Hao langsung,
“Master! Aku ikut!”
Three-Headed Wyrm King juga.
Han Jue tertawa.
“Baik. Yang belum Mahayana, jangan iri.”
Langsung teleport.
Black Hell Chicken teriak,
“Sial! Aku harus breakthrough!”
Motivasi instan.
Tiga Tahun Kemudian
Balik.
Han Jue juga mengajarkan Dao ke Fairy Xi Xuan, Chang Yue’er, dan Xing Hongxuan.
Setengah tahun lagi lewat.
Baru mau cultivation lagi—
Suara Meng Po masuk.
“Young friend, bisa turun sebentar?”
Han Jue turun ke Netherworld.
Bridge of Forgetfulness
Meng Po masih bagi-bagi sup.
Dia kirim voice transmission.
“Tu Ling’er dalam bahaya. Demon Court tahu keberadaannya.”
Han Jue mengernyit.
“Kenapa Demon Court peduli?”
“Demon dan Magus adalah musuh bebuyutan. Demon Court tak akan biarkan Magus bangkit lagi.”
Oke.
Jadi ini soal rasial kosmik.
Meng Po lanjut:
“Aku punya dua hal. Pilih satu.
Body tempering technique Magus Race. Bisa attain Dao lewat kekuatan.
Blood essence Ancestral Magus. Bisa tempa tubuh, beri fisik Grand Magus.”
Han Jue berpikir.
Dual cultivation?
Capek.
Blood essence?
Lebih praktis.
“Kalau attain Dao lewat kekuatan, Dao apa?”
“Dua jalan, tujuan sama. Teknik cuma sampai Ancestral Magus. Blood essence bisa langsung tingkatkan fondasi. Grand Magi lahir dari darah Ancestral Magus.”
Han Jue memutuskan.
“Aku ambil blood essence.”
Dia sudah punya Stellar Primordial Body.
Dia tidak butuh upgrade diri.
Tapi bisa berguna nanti.
Meng Po kirim dua cahaya ke lengan bajunya.
Satu divine weapon.
Satu blood essence.
“Kenapa tidak langsung beri ke Ling’er?”
“Levelnya belum cukup.”
Han Jue kembali ke mortal world.
Keluarkan divine weapon.
Sebuah tombak.
Hitam.
Dililit naga.
Spearhead besar sepertiga panjangnya.
Aura-nya berat banget.
Tidak cocok untuk gadis kecil imut.
Han Jue menyerahkannya pada Dao Comprehension Sword.
“Berikan ke Ling’er.”
Game berikutnya dimulai.