Ch 220 - Han Jue’s Nature, Golden Crow Prodigy

Novel: Top Tier Providence, Secretly Cultivate For A Thousand Years

← Sebelumnya


“Jadi… aku bisa nggak tetap di sini cultivation, kecuali Heavenly Court benar-benar dalam bahaya?” tanya Han Jue dengan nada selembut mungkin.


Intinya:

Aku siap bantu.

Tapi tolong jangan ajak aku nongkrong di Heavenly Court tiap hari.


Di Taibai bingung. “Kenapa kau begitu takut? Kau tidak mau terkenal? Tidak mau jadi Immortal yang dihormati?”


Han Jue dalam hati:

Terkenal = banyak musuh.

Dihormati = banyak kerjaan.


Di Taibai lanjut, “Dengan Heavenly Court dan His Majesty membackingmu, siapa yang berani ganggu? Lihat saja Divine General.”


Begitu dengar nama Divine General—


Alarm internal Han Jue bunyi.


Divine General itu bukan contoh motivasi.


Itu contoh burnout.


Keren sih.

Tapi tiap minggu nyaris mati.


Han Jue geleng kepala.

“Aku tidak butuh nama besar. Aku cuma ingin hidup lama. Kalau Heavenly Court butuh, aku akan bantu di momen krusial. Tapi jadi Divine General? Ekspansi wilayah? Maaf, bukan passion-ku.”


Di Taibai cuma bisa senyum pahit.


Genius tapi mindset-nya NPC yang mau farming di desa selamanya.


“Baiklah. Setelah perang Heavenly Court dan Demon Court selesai, kami akan memilih sepuluh jenius untuk belajar di Dao Sect. Ada Supreme Daoist yang akan berkhotbah. His Majesty sudah menyiapkan slot untukmu. Mau ikut?”


Han Jue langsung refleks.


“Lewat.”


Di Taibai mengerutkan dahi.

“Itu kesempatan langka. Ada Immortal Emperor Dao Attainment technique.”


Han Jue tenang.


“Bagiku itu berguna. Tapi tidak wajib. Lebih baik berikan pada orang lain agar Heavenly Court makin kuat.”


Di Taibai benar-benar speechless.


Anak ini bukan cuma penakut.

Dia juga anti FOMO.


“Crown Prince akan mengunjungi True Dragon Race. Banyak divine weapon di sana. Kau bisa pilih satu.”


“Terima kasih. Tidak perlu.”


Di Taibai dalam hati:

Anak ini alergi bepergian.


Akhirnya ia pamit.


Han Jue langsung hembuskan napas panjang.


Dao heart aman.


Heavenly Court


Heavenly Emperor minum teh santai.


“Dia benar-benar bilang begitu?”


Di Taibai mengangguk. “Dia cuma mau stay di mortal world dan cultivation.”


Heavenly Emperor tersenyum tipis.


“Dia sudah Golden Immortal.”


Di Taibai: “…Apa?”


Plot twist.


Han Jue ternyata sudah Golden Immortal dan tetap pura-pura low profile.


Heavenly Emperor tertawa kecil.


“Heavenly Court tidak kekurangan Grand Unity Golden Immortal. Yang kita butuhkan adalah Immortal Emperor… bahkan Deity Realm.”


Di Taibai mengangguk pelan.


Anak itu mungkin memang kartu tersembunyi terbaik Heavenly Court.


27 Tahun Kemudian


Han Jue stabil di Golden Immortal.


Kontrol Great Dao of Life and Death makin solid.


Immortal Emperor?

Masih jauh.


Santai.


Tiba-tiba—


(Detected bearer of Connate providence. Check origin?)


Han Jue langsung waspada.


Another boss?


[Jiang Yi: Perfected Grand Unity Golden Immortal. Chaotic Skeleton. Diduga reinkarnasi Chaotic Fiendcelestial. Prodigy tak terkalahkan Golden Crow Divine Clan. Datang khusus mencarimu.]


Han Jue: …


Oh. Ini orang yang ketemu di Sword Dao River.


Simulation trial dulu.


Lima menit kemudian—


Han Jue membuka mata dengan ekspresi serius.


Seri.


Draw.


Pertama kali dalam hidupnya.


Tidak bisa insta-kill.


“Oke. Ini bukan NPC.”


Ia tetap keluar menemui Jiang Yi.


Void, Scarlet Cloud World


Jiang Yi berdiri dengan jubah emas terbakar True Sun Flame.


Rambut putih. Aura boss final.


“Sima Yi. Tidak kusangka kau memelihara anggota Golden Crow Divine Clan.”


Han Jue tetap kalem.


“Kau kenal mereka?”


“Potensi mereka biasa saja. Tapi aku tahu identitasnya. Itu tidak penting. Aku datang mengajakmu masuk ke Primordial Sword Domain.”


Han Jue:

“Apaan tuh?”


Jiang Yi menjelaskan.


Primordial Sword Domain = dunia ciptaan Human School Sect Master.

Berisi jiwa-jiwa korban Immeasurable Calamity.

Ada inheritance sang Sect Master.

Termasuk Sword Dao-nya.


Basically dungeon legendaris.


Han Jue hampir tertarik.


Hampir.


“Tawaran bagus. Tapi aku lewat. Aku harus menjaga dunia ini.”


Jiang Yi menatapnya seperti melihat mahasiswa cumlaude nolak beasiswa Harvard.


“Dengan potensimu, kau cuma jadi penjaga mortal world? Heavenly Court buta?”


“Aku yang minta.”


Jiang Yi terdiam.


Menatapnya lama.


Han Jue merasa tidak nyaman.


Tatapan itu bukan tatapan musuh.


Itu tatapan:


“Aku menemukan rival.”


Dan itu jauh lebih berbahaya.

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .