Di ruang perawatan gedung utama Demonic Academy, menjelang tengah malam...
“Nngh...”
Kadet ke-23 terbangun setelah pingsan akibat sengatan listrik. Tubuhnya masih gemetar karena efeknya. Hal terakhir yang ia ingat adalah dirinya tersengat kekuatan misterius saat berusaha menyayat kaki Cheon Yeo-woon.
‘K-kenapa aku sampai pingsan?’
Ia mengamati sekeliling. Ternyata dirinya masih berada di ruang perawatan.
‘Apa yang sebenarnya terjadi?’
Ada yang terasa aneh. Biasanya ia bisa merasakan rambutnya menyentuh bahu, tetapi kali ini, saat bergerak, ia sama sekali tidak merasakan apa pun.
“...Tidak. Jangan-jangan...”
Ia tak bisa merasakan sehelai rambut pun. Kadet itu segera bangkit hendak mencari cermin. Namun, sebelum sempat berdiri, sebuah kekuatan besar menekannya kembali ke ranjang.
“Ugh!”
Ototnya memang tidak mengalami kerusakan, tetapi luka-lukanya dijahit dengan jarum sehingga rasa sakitnya masih terasa. Ia menunduk dan melihat tubuhnya. Ada tali yang mengikatnya ke ranjang. Seberapa keras pun ia berusaha, ia tak bisa melepaskan diri.
“S-siapa yang mengikatku di sini?!”
“Aku.”
Tirai tersibak dan seseorang muncul. Orang itu adalah Cheon Yeo-woon. Kadet ke-23 langsung terkejut.
“B-bagaimana kau bisa...?!”
“Bagaimana? Kau pingsan, jadi aku mengembalikanmu ke ranjang.”
“Pingsan?!”
Berarti dugaannya benar. Ia mulai mencemaskan situasi yang sedang dihadapinya. Cheon Yeo-woon, yang seharusnya masih terbaring akibat luka dalam, kini bisa berjalan dengan santai. Bukan cuma itu, pemuda itu juga mengikatnya di ranjang. Dan tentu saja, rambutnya...
“R-rambutku mana?!”
“Oh, yang itu. Sekarang kau botak.”
Yeo-woon menyeringai. Kadet ke-23 menggeliat, berusaha menjerit sekeras mungkin.
“Tidak— TIDAK!! Aku tidak mungkin... TIDAK! Aku? Botak?! TIDAK!”
“Diam.”
Kadet ke-23 masih berusaha berteriak, tetapi Cheon Yeo-woon menghantamnya hingga pingsan lagi.
“Berisik sekali. Sepertinya mulutnya perlu disumpal kain,” gumam Yeo-woon.
Tak lama kemudian, kadet ke-23 kembali sadar. Kali ini ia hendak berteriak lagi, tetapi baru menyadari ada kain di mulutnya sehingga suaranya tertahan.
Yeo-woon duduk di kursi di samping ranjang. Kadet ke-23 mulai memahami situasinya.
“!!!!!”
“Mulutmu disumpal kain. Sebaiknya jangan coba-coba bicara.”
Suara dingin Yeo-woon membuat mata kadet ke-23 bergetar. Selama ini ia mengira Yeo-woon hanyalah pangeran bodoh yang tidak tahu apa-apa. Ternyata dugaannya salah.
‘Apa dia memang seperti ini sejak hari itu?’
Yeo-woon menatapnya tajam. Saat itulah kadet ke-23 sadar bahwa nyawanya sedang berada dalam bahaya.
“Hei, kau tahu bagaimana aku bisa bertahan hidup sampai sekarang?” tanya Yeo-woon. “Kau bisa menebak berapa banyak pembunuh sepertimu yang pernah datang untuk membunuh atau meracuniku?”
Nada suara Yeo-woon dipenuhi kebencian mendalam. Hidupnya selama ini memang seperti badai yang tak pernah reda.
“Lihat ini.”
Yeo-woon memperlihatkan sesuatu di tangannya. Itu pisau yang dicuri kadet ke-23 untuk menyayat otot kaki Yeo-woon. Ia lalu menempelkan pisau itu ke leher si kadet.
“Kau tadi mencoba mempermainkanku. Jadi, seharusnya kau tahu betapa sakitnya ditusuk benda ini, kan? Bahkan bisa membunuhmu.”
Kadet ke-23 dilanda ketakutan. Yeo-woon tampak begitu mengerikan.
“Jadi, sebaiknya kau bicara.”
Kadet ke-23 menelan ludah.
“Siapa yang menyuruhmu?”
Ia memikirkan ratusan cara untuk keluar dari situasi ini, sampai akhirnya menemukan sebuah akal. Ketika ia hendak bicara, Yeo-woon mengeluarkan kain dari mulutnya.
“Bicara.”
“Hah... hah...”
Kadet itu terengah-engah sebelum akhirnya menjawab.
“Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan.”
“Hah?”
“Aku benar-benar tidak tahu maksudmu. Lagipula, apa kau pikir bisa keluar begitu saja setelah membunuhku di ruang perawatan dalam akademi?”
Kadet ke-23 teringat aturan akademi. Para siswa dilarang saling menyakiti di luar sesi latihan atau duel resmi.
‘Memangnya kau berani menyakitiku?’
Ia langsung merasa lega dan kembali bersikap angkuh. Yeo-woon mengernyit.
“Hmm. Jadi, cara itu tidak berhasil.”
“Jangan harap bisa mengancamku. Sekalipun kau menyiksaku, aku tidak akan buka mulut.”
Yeo-woon menatapnya dengan ekspresi aneh.
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita lihat apakah kau tetap tutup mulut setelah kucoba?”
“Hah?”
Yeo-woon kembali menyumpal mulutnya dengan kain, lalu berjalan ke lemari untuk mengambil beberapa jarum panjang. Mata kadet ke-23 membelalak.
‘A-apa yang mau dia lakukan dengan benda itu?!’
“Di tempat asalku, benda-benda seperti ini tidak ada. Tapi di sini, ternyata lengkap.”
Keringat mulai mengalir di dahi kadet ke-23. Yeo-woon meraih pergelangan tangan kirinya. Si kadet buru-buru mengepalkan tangan, tetapi Yeo-woon mencengkeramnya dan memaksa jari-jarinya terbuka.
‘S-sekuat apa dia sebenarnya?!’
Semua orang tahu Yeo-woon tidak pernah mempelajari martial arts, tetapi kekuatannya sekarang sungguh di luar dugaan.
‘Tolong!!’
Saat jari-jarinya direntangkan, Yeo-woon menyunggingkan senyum licik.
“Ini bakal sakit.”
Ia menusukkan jarum besar ke celah antara jari dan kuku si kadet.
“NNNNNNNNNNNGHHHH!”
Rasa sakit itu membuat kadet ke-23 menjerit. Saking sakitnya, urat-urat di lehernya sampai menonjol. Yeo-woon tak peduli. Ia mengambil jarum lain dan menusukkannya di bawah kuku jari berikutnya.
“NGNGNGGHGHHHRHHHH!”
Baru dua jarum, tetapi rasa sakitnya sudah terlalu berat untuk ditahan. Si kadet menggeliat kesakitan. Yeo-woon pun berkata untuk terakhir kalinya.
“Katamu kau tidak akan membocorkan apa pun meski disiksa. Anggap saja ini caraku membalas perlakuanmu.”
Kadet ke-23 gemetar dan berusaha bicara, tetapi percuma. Penyiksaan mengerikan itu baru saja dimulai. Tak lama kemudian, semua jari di tangan kirinya sudah tertancap jarum di bawah kuku. Ia bahkan sudah dua kali pingsan karena rasa sakit.
Yeo-woon bangkit dan menggeser kursinya ke sisi kanan ranjang. Kadet ke-23 tahu apa artinya. Air mata ketakutan mulai mengalir. Ia berusaha keras untuk bicara, sampai-sampai mencoba meludahkan kain yang menyumpal mulutnya.
“NGH! NGH!”
Yeo-woon tersenyum.
“Sekarang mau bicara? Seharusnya dari tadi.”
Ia menyeringai lalu mengeluarkan kain dari mulut si kadet. Kain putih itu sudah ternoda darah karena digigit begitu keras. Kadet tersebut terengah-engah dan hendak mengatakan sesuatu, tetapi Yeo-woon lebih dulu bicara.
“Cheon Mukeum, benar?”
“B-bagaimana kau tahu...?”
Tebakan Yeo-woon ternyata tepat. Ia memang belum tahu siapa dalang di balik rencana itu, tetapi cukup dengan menyebut nama tersebut, ia sudah berhasil membuat kadet ke-23 terkejut.
“Kau anggota kelompokku, kan? Kelompok 8.”
“...Y-ya, benar.”
Kadet ke-23 menjawab dengan sopan, masih ketakutan akibat penyiksaan tadi. Namun, ia penasaran bagaimana Yeo-woon tahu bahwa dirinya berada di kelompok 8, bahkan tahu bahwa mereka berada dalam kelompok yang sama.
“Lihat saja tanda pengenalmu.”
Yeo-woon menunjuk nomor yang tertera pada tanda pengenal kadet itu.
“Tapi bagaimana kau bisa tahu...”
“Berkat ketua kelompok kita, instruktur datang setiap pagi untuk mengajariku hal-hal yang belum kupahami.”
Hal ini sama sekali tidak terpikirkan oleh Cheon Mukeum. Karena sesi pagi berlangsung di aula, para instruktur biasanya tidak memiliki kegiatan lain. Impeng memanfaatkan waktu itu untuk datang menemui Cheon Yeo-woon dan mengajarinya teknik dasar martial arts. Ia melakukan itu agar kelompoknya tidak gagal. Dari situlah Yeo-woon mengetahui siapa saja anggota kelompoknya dan nomor kelompok mereka.
“Sebenarnya aku sudah menduganya. Aku cuma ingin mendengarnya langsung darimu.”
Kadet ke-23 tak percaya bahwa pemuda ini adalah pangeran bodoh yang selama ini diceritakan Mukeum dan Jahyun.
‘Dia jelas bukan anak bodoh!’
Ternyata, Yeo-woon adalah monster yang selama ini menyembunyikan taringnya. Membayangkan betapa mengerikannya dia jika benar-benar memperoleh kekuatan saja sudah membuat si kadet bergidik.
“Aku sudah mendapat informasi yang cukup darimu. Jadi, kita akhiri sampai di sini.”
“B-benarkah?!”
Kadet ke-23 kembali berharap mendengar perkataan itu.
“Ya. Dan jangan beri tahu siapa pun tentang apa yang terjadi di sini, mengerti?”
Ia hampir saja bangkit untuk membungkuk patuh, tetapi tubuhnya masih terikat sehingga tak bisa melakukannya. Yeo-woon menyeringai dan menempelkan jarinya pada titik darah di tubuh kadet itu.
“Hah?!”
Kadet ke-23 mulai mengantuk. Untuk mengalirkan tenaga ke titik darah seseorang, dibutuhkan sejumlah internal energy. Padahal, ia tahu Cheon Yeo-woon tidak memiliki internal energy.
‘Selama ini dia membohongi semua orang!’
Begitulah akhir hari pertama kadet ke-23 di ruang perawatan.