Julukan Land of Pastoralism bukan sekadar hiasan.
Di Pulan, jumlah sapi dan babi bisa lebih banyak daripada jumlah manusia. Dan Toren Village, yang terletak di lembah terdalam pegunungan, hampir tak pernah berubah.
Tak ada arus masuk anak muda.
Pekerjaan memang banyak—tapi tak ada yang datang mencarinya.
Karena itu, ketika satu rumah mendapat kabar baik, seluruh desa ikut bergemuruh.
Kebahagiaan satu keluarga adalah kebahagiaan bersama.
Dan kali ini, sumber keributan adalah—
Yenika Palover.
Anak Gadis yang Tak Bisa Berbohong
Yenika selalu pulang setiap liburan.
Ganti pakaian menjadi baju desa.
Mencuci piring.
Membantu pekerjaan peternakan.
Makan roti gandum dan keju susu domba bersama orang tuanya.
Semuanya biasa.
Tapi kali ini… tidak sepenuhnya.
Orte Palover dan Sayla Palover—orang tua yang membesarkannya seperti permata—tahu betul satu hal tentang putri mereka.
Yenika sangat buruk dalam berbohong.
Ia melamun.
Menghela napas.
Menatap kosong.
“Yenika… kau tampak banyak pikiran akhir-akhir ini,” tanya Orte saat makan malam. “Apa karena turun peringkat?”
“Eh?! Tentu tidak! Itu memang disayangkan… tapi bukan itu!”
Reaksi berlebihan.
Itu reaksi orang yang jujur.
Orte dan Sayla saling pandang.
“…Atau mungkin,” lanjut Orte perlahan, “ada seorang anak laki-laki yang mengganggumu?”
“APA?! Dad, kenapa bicara aneh begitu?!”
Ledakan panjang dan defensif.
Senyum di wajah kedua orang tua itu melebar.
Oh.
Sudah sampai usia itu rupanya.
Son-in-Law!!!
Dalam sekejap, skenario megah terbentuk di kepala pasangan Palover.
Yenika, gadis desa sederhana nan baik hati…
Tertarik pada seorang siswa Sylvania.
Menantu.
Tiga huruf manis yang tak pernah terdengar di desa ini.
Sayla langsung memeluk punggung Yenika.
“Yenika! Akhirnya!”
“Bagaimana orangnya? Tampan? Gagah? Harusnya pria yang bisa memanah! Biar kita bisa minum bersama!”
“Harus potong sapi waktu dia datang!”
“Babi saja tidak cukup!”
Yenika memukul meja.
“STOP! Turunkan suara! Tetangga bisa dengar!”
Kesalahan fatal.
Bukan, tidak ada orang itu.
Melainkan, aku tak akan bilang siapa.
Itu pengakuan implisit.
Dan di desa sekecil Toren—
Satu kalimat saja cukup.
Rumor Lebih Cepat dari Angin
Keesokan harinya, seluruh desa sudah tahu.
“Bawa dia ke toko Helken nanti!”
“Kudengar anak Sylvania banyak bangsawan!”
“Kebanggaan desa kita!”
Yenika berjalan membawa keranjang buah dengan wajah merah padam.
Hari berikutnya, saat sarapan, ia mengumumkan:
“Aku… mau kembali ke Sylvania besok.”
Orte hampir tersedak.
“Kau biasanya tinggal lima belas hari!”
Dengan mata berkaca-kaca, Yenika berkata lirih—
“Aku tak bisa tinggal di sini lagi…”
Hati gadis desa itu terlalu rapuh untuk menghadapi satu desa yang membayangkan pesta pernikahan sebelum namanya saja belum disebut.
Danau Tengah Hutan Utara
Malam di hutan utara berbeda dengan musim dingin.
Musim panas penuh suara.
Serangga.
Hewan kecil.
Desiran angin.
Di tengah danau besar, berdiri Merilda’s Guardian Tree.
Langit malam terpantul di permukaan air seperti dua dunia yang saling menatap.
Aku duduk bersandar pada batang pohon itu.
Di permukaan air—
Merilda berjalan tanpa alas kaki, seolah menginjak langit.
“Memikirkan masa lalu?” tanyaku.
[Sesekali saja.]
Ia menoleh.
[Kau baru saja menghancurkan keluarga Rosstaylor.]
“Menghancurkan terdengar berlebihan.”
[Bagiku tidak.]
Ia berputar, angin kecil berhembus dari ujung gaunnya.
[Setiap kali keluarga besar menghilang, aku merasa zaman berubah lagi.]
Aku terdiam.
Ia melanjutkan dengan nada ringan—namun kosong.
[Kadang rasanya waktu meninggalkanku.]
Senja Roh
Roh memang tak mati seperti manusia.
Namun mereka tetap memiliki siklus.
Dari roh cair yang bertahan seminggu,
ke roh rendah bertahun-tahun,
roh menengah puluhan tahun,
hingga roh tingkat tinggi yang hidup ratusan tahun.
Tapi pada akhirnya, mereka juga kembali ke alam.
“Merilda… kau sudah masuk senja?”
Ia tertawa kecil.
[Aku masih punya lebih dari seratus tahun.]
“Bohong kalau aku bilang tidak khawatir.”
[Kau jujur di bagian aneh.]
Aku menatap danau.
“Orang yang masa depannya lebih panjang, melihat ke depan.
Orang yang masa lalunya lebih panjang, melihat ke belakang.”
Seorang pemuda bicara masa depan.
Seorang tua bicara masa lalu.
Perbedaan itulah yang membuat kesepian.
Merilda memandang menara-menara Sylvania Academy yang menjulang di kejauhan.
[Dulu, aku tak pernah punya teman seperti Sylvania.]
Ia tersenyum tipis.
[Itu masa yang indah.]
Ekspresinya tak muram lagi.
Hanya lembut.
Warisan Roh Tertinggi
Setelah lama terdiam, Merilda duduk di sampingku.
[Ada sesuatu yang harus kau tahu.]
“Hmm?”
[Posisi roh angin tertinggi kosong.]
Aku menoleh.
[Puluhan tahun tak ada yang mendekati level itu. Yang tersisa hanya ‘jejak’ roh tertinggi masa lalu—Tirkalax.]
Nama itu kukenal.
Roh berbentuk beruang raksasa, sebesar punggung gunung.
[Yang tersisa hanyalah gumpalan mana halus. Sylvania menguburnya. Jika kau mendapatkannya, latihan elementalmu akan melonjak drastis.]
Aku menatapnya curiga.
“Kenapa tiba-tiba murah hati?”
Ia tersenyum seperti rubah.
[Karena sulit menemukan teman sepertimu.]
Lalu—
Ia menarik dasiku dan berbisik di telingaku.
[Kau tahu Yenika menyukaimu, kan?]
Jantungku terhenti sepersekian detik.
[Aku paham kau sibuk. Tapi sekarang liburan. Sedikit waktu senggang, kan?]
“Apa maksudmu?”
Ia tersenyum nakal.
[Kau harus memperlambat sedikit.]
Tangannya memutar dasiku pelan.
[Setidaknya beri Yenika satu ciuman sebelum liburan berakhir.]
Aku membeku.
[Kalau si gadis rubah api duduk di camp, Yenika pasti kalah. Sebelum itu, buat saja semuanya jadi fait accompli.]
Angin malam berhembus pelan.
Liburan musim panas hampir selesai.
Dan entah kenapa—
Aku merasa firasat buruk sedang menatapku dengan wajah tersenyum putih.