Ch 177 - Alasan yang Tak Bisa Dihitung

Novel: The Extra's Academy Survival Guide

← Sebelumnya Berikutnya →


Untuk mengalahkan Naga Suci Biru Velbrok, kami membutuhkan Swordmaster’s Skill milik Taylee McLaure.


Itu masalah yang terus menghantuiku.


Solusi terbaik tentu saja sederhana:

biarkan Taylee cukup kuat untuk mengalahkannya.


Namun dunia ini sudah terlalu menyimpang dari alur asli Silvenia’s Failed Swordmaster.

Tak mungkin lagi bergantung pada timeline lama.


Pertumbuhan Taylee jelas lebih lambat dari seharusnya.


Velbrok adalah ujian terakhirku di dunia ini.


Jika Taylee tak sanggup… maka aku harus turun tangan.


Dan jika Velbrok sepenuhnya bangkit di Pulau Aken—


bukan hanya satu orang yang hancur.


Seluruh benua bisa terdampak.


Awalnya aku hanya ingin lulus diam-diam dan menyerahkan segalanya pada Taylee.


Rencana itu sudah lama hancur.


Velbrok bukan musuh yang bisa kuhadapi sendirian.


Jadi yang bisa kulakukan hanya satu—


berdoa.


Berdoa agar Taylee sedikit lebih kuat dari yang kuduga.


Cabang Silvenia – Malam Hari


Halaman belakang gedung Elte gelap gulita.


Aku mengetuk pintu belakang.


Dune menyambutku.


Di belakangnya berdiri Lienna Clemson dan beberapa pegawai.


Sebagian dulu setia pada Lortel Kecheln.


Kini berdiri di sisi Dune.


“Lebih intens dari yang kukira, Ed.”


Yang dilihat Dune bukan pemandangan biasa.


Aku menyeret Ayla Triss yang terikat, mulutnya disumpal kain.


Yennekar Palerover berdiri di belakangku.


“Hmmm! Hmmm!”


Ayla meronta pelan.


“Ikat dia lebih kuat,” kata Dune.


Pegawai menyeret Ayla masuk.


Alasan Palsu


“Kau menculiknya untuk apa?” tanya Dune.


“Ayla punya resonansi tinggi terhadap Celestial Magic.”


Aku mengangkat tangan.


Sedikit aura merah gelap muncul.


Phoenix Ring masih menahan sihirku, tapi cukup untuk menipu.


“Celestial Magic?” Dune menyipit.


“Aku tak bisa meneliti tingkat lanjut sendirian. Aku butuh medium dengan resonansi bagus.”


Alasan yang sama seperti Profesor Glast dulu.


Kebohongan yang cukup masuk akal.


“Kalau ini tersebar, sekolah tak akan diam.”


“Karena itu kita rahasiakan. Kita bilang ia kabur.”


Aku sengaja menunjukkan “kelemahanku”.


Dalam negosiasi, kepercayaan dibangun lewat kerentanan.


Dune tersenyum.


“Basement punya lebih dari dua puluh ruangan kosong.”


Ruang Bawah Tanah


Kami turun.


Ayla didorong masuk ke sebuah ruangan.


Ia jatuh, tubuhnya gemetar.


Aku berlutut di depannya.


“Aku minta maaf.”


Tanpa dilihat orang lain, aku mengangguk kecil.


Ayla membalas anggukan.


Ia lebih tenang dari dugaanku.


Berbakat diculik, rupanya.


Metode Klasik


“Bagaimana kau akan menjatuhkan Lortel?” tanyaku.


“Cara klasik. Beri alasan. Tuduh.”


Sama seperti Lortel dulu menjatuhkan Elte.


Bedanya—kali ini Lortel tak bersalah.


“Semester baru dimulai, kontrol perusahaan sudah di tangan kami.”


Dune tak pernah membuka detailnya.


Cukup gambaran besar.


“Baiklah,” kataku.


“Kalau begitu… aku ingin menemui Lortel.”


Kereta Kekaisaran


Di dalam kereta megah, suasana hening.


Fenia Einir Cloel memandangi luar jendela.


Lucy Mayreel tampak tertidur.


Namun—


“Mereka bagian dari konvoi.”


Lucy berbicara tiba-tiba.


“Mereka menuju Pulau Aken untuk menangkap seorang kriminal.”


Fenia menegang.


“Kriminal?”


Lucy duduk tegak.


“Ed Rothstaylor?”


“Jangan cepat menyimpulkan.”


Fenia berpikir keras.


Hanya orang setingkat komandan ksatria, perdana menteri, atau salah satu putri yang bisa menambah pasukan dalam pengawalan resmi.


“Sister Persica…”


Mata Lucy menajam.


Jika benar Persica mengincar Ed—


situasinya bisa meledak.


Kereta melewati perbatasan Zahul.


Mexes Bridge segera terlihat.


Pulau Aken semakin dekat.


Dan sesuatu jelas akan terjadi.


Kantor Wakil Direktur


Aku membuka pintu.


Lortel duduk dengan kepala tertunduk.


Tangan terikat.


Roti dan ikan kering tersaji, tak tersentuh.


Pegawai yang mengantarku gemetar.


Aura Lortel menekan seperti lumpur kental.


“Bisa tunggu di luar?”


Pegawai itu kabur cepat.


Pintu tertutup.


Sunyi.


“Kenapa kau ke sini?” suara Lortel datar.


“Mengejekku?”


Ia tak mengangkat kepala.


“Tak ada keuntungan bagimu membelaku.”


Benar.


Secara rasional—tidak ada.


“Kau bisa untung besar berkatku.”


Ia berbicara seperti pedagang sejati.


Namun ada nada getir.


Semua momen dua tahun terakhir—


tak berarti di hadapan logika.


Aku menghela napas.


“Sekarang… kau ini apa?”


Ia diam.


“Wakil Direktur? Mahasiswi kehormatan? Saudagar muda jenius?”


Hening.


“Tidak. Sekarang kau bukan apa-apa.”


Aku menatapnya.


“Kau hanya Lortel Kehelland.”


Ia tetap tak bergerak.


“Dan itu cukup bagiku.”


“Apa maksudmu?”


“Itu alasanku menyelamatkanmu.”


Aku menghunus belati.


Tali di pergelangan tangannya terputus.


Lortel mendongak.


Ia tersenyum.


“Oh?”


“Aku menunggu kau mengatakan itu.”


“…Apa?”


“Kau kira aku meragukanmu?”


Ia mengangkat tudungnya.


Wajahnya berseri.


“Aku hampir mati menunggu.”


Aku menghela napas dan memotong tali di kakinya.


“Sayang sekali,” katanya.

“Kukira kau ingin melihatku patah hati.”


“Cukup. Kita tak punya waktu. Taylee akan segera tiba.”


Aku selesai memotong tali.


Clang—


Tiba-tiba tubuhku terdorong.


Kami jatuh ke lantai kayu.


Lortel memelukku erat.


Wajahnya menekan dadaku.


“…Kupikir kau sudah tahu semuanya.”


“Tahu bukan berarti tak merasa sakit.”


Ia benar.


Bahkan kemungkinan kecil aku mengkhianatinya—


cukup membuatnya takut.


“Ini bukan pengalaman yang menyenangkan,” katanya pelan.


Aku mengusap rambutnya.


“…Maaf.”


Untuk sesaat, kami hanya diam di lantai kantor.


Lalu—


BOOM!


Ledakan besar mengguncang gedung.


Lantai bergetar.


Dan rencana tahap berikutnya—


akhirnya dimulai.

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .