“Jangan ikut campur.”
Itulah kata-kata yang diucapkan kakaknya sebelum menampar pipi Elvira Aniston.
Tamparan itu—
adalah kenangan paling jelas dalam hidupnya.
Sejak kecil, Elvira sudah terobsesi pada kombinasi reagen dan rekayasa sihir.
Ledakan tiga atau empat kali sehari di laboratorium keluarga Aniston adalah hal biasa.
Keluarga Aniston memang bukan bangsawan kaya raya, tetapi mereka adalah rumah alkimia ternama.
Kakak-kakaknya berbakat.
Namun dibanding Elvira… mereka biasa saja.
Elvira menciptakan sistemnya sendiri.
Ia tak tahan melihat kombinasi tak efisien.
Tak tahan melihat bahan murahan.
Tak tahan melihat penelitian setengah matang.
Ia selalu benar.
Dan itu justru melukai orang-orang di sekitarnya.
Ketika Diella Aniston gagal masuk Silvenia—
rasa inferioritas yang lama dipendam meledak.
“Enak sekali jadi kau,” kata Diella.
“Tak perlu mencoba memahami orang biasa sepertiku.”
Botol reagen dihancurkan.
Gulungan penelitian disobek.
Elvira tak salah.
Namun ia juga tak pernah memikirkan perasaan kakaknya.
Setelah itu, Diella berhenti menjadi alkemis.
Pergi ke Kroelon mempelajari akuntansi.
Bagi Diella, alkimia menjadi simbol kegagalan.
Elvira tahu semua itu.
Ia tahu ia benar.
Ia tahu Diella hancur oleh inferioritasnya sendiri.
Tetapi… kebenaran tak pernah memperbaiki hati yang retak.
Sejak itu, Elvira tak pernah berhenti “ikut campur”.
Mengkritik.
Mengoreksi.
Menunjukkan cara yang lebih baik.
Bukan karena sombong.
Melainkan karena ia ingin membuktikan—
bahwa pilihannya untuk hidup sebagai alkemis… tidak salah.
Dan entah kenapa, malam ini ia bertanya-tanya—
Apakah Clevius Nortondale akan memahami itu?
Halaman Elte – Darah dan Iblis
Aura darah membubung dari tubuh Clevius.
Matanya menatap Taylee seperti binatang buas.
Taylee McLaure tak mundur.
“Clevius! Hentikan!”
Elvira mencoba bangkit.
“Diam,” kata Clevius singkat.
Blood Swordsmanship telah aktif.
Teknik itu tak punya jalan tengah.
Semakin darah mengalir—
semakin akal sehatnya terkikis.
Pedangnya bergerak.
Tak terlihat.
Taylee menangkisnya dengan insting murni.
Bukan melihat.
Bukan memprediksi.
Seperti firasat.
Mata Clevius—
bukan lagi mata manusia.
Taylee mencoba bicara.
“Clevius… kau bahkan tak tahu apa yang terjadi!”
“Mungkin tidak.”
Kedua pedang beradu.
Clevius lebih cepat.
Ia berputar—
tendangan menghantam perut Taylee.
Taylee terlempar ke pagar besi.
Belum sempat bernapas, Clevius sudah di depan.
Tebasan seperti kilat.
Bahu Taylee tergores.
Darah mengalir.
Namun Clevius tak berhenti.
Ia mengeluarkan belati.
Menusuk bahunya sendiri.
Darah menyembur.
Aura sihir melonjak.
Semakin dekat ke kematian—
semakin kuat ia.
“Jika menghadapi Blade Demon Nortondale,” kata Profesor Mike dulu,
“habisi dalam satu serangan.”
Jika tidak—
kau yang akan dihabisi.
Kini sudah terlambat.
Clevius berubah menjadi monster yang haus darah.
Ia berlari dengan belati masih tertancap di bahunya.
Semua terjadi dalam satu kedipan.
Vila Camp – Kebenaran Terungkap
“Kita harus berdiri di pihak Putri Penia.”
Aku duduk berhadapan dengan Lortel Kecheln di dalam vilanya.
Interiornya sederhana, tapi mewah.
Terlindung baik.
Peralatan sirkulasi udara sihir terpasang rapi.
“Ini konflik keluarga kekaisaran,” kataku.
“Dan House Rothstaylor sudah ikut terseret.”
“Ini urusan Elte Company,” jawab Lortel.
“Kenapa Penia mau terlibat?”
“Karena Persica mendukung Dune.”
Nama itu membuat Lortel terdiam.
Fenia Einir Cloel dan Lortel—
seperti air dan minyak.
Musuh alami.
“Hubunganku dengannya buruk,” gumam Lortel.
“Dia pikir aku memanfaatkan tubuhmu saat kau pingsan.”
“Apa?”
“Aku tak ingin keselamatanmu di tangan orang lain.”
Itu bukan jawaban yang bisa kuabaikan.
“Kita tak punya waktu,” kataku.
“Hanya Penia yang bisa menandingi Persica.”
Lortel menggigit bibirnya.
“Aku tak suka membungkuk pada rival.”
“Lihat aku.”
Ia menatapku.
“Kita sudah terlalu jauh untuk memikirkan harga diri.”
Akhirnya ia mengangguk pelan.
“Baik. Hubungan kontrak darurat.”
Langkah pertama sudah diambil.
Sekarang giliran Dune.
Ruang Bawah Tanah
“Dana toko tak mungkin lolos dari pengawasanku,” kata Lortel yakin.
“Kalau bukan dari dalam… berarti dari luar.”
“Di Pulau Aken, 80% dana dari distrik komersial. Itu wilayahku.”
Ia berhenti.
Wajahnya berubah.
“Masih ada satu tempat lagi…”
“Di mana?”
“Di sini.”
Kami menuju pintu kecil di samping tempat tidur.
Tangga menuju basement.
“Gudang anggur,” katanya.
Namun kunci tak pernah diberikan Dune.
Aku mencoba mendobrak—
gagal.
Lortel menghancurkan pintunya dengan sihir.
BOOM.
Debu mengendap.
Dan kami membeku.
Bukan gudang anggur.
Melainkan gunung emas.
Koin bertumpuk tinggi.
Barang berharga Elte.
Peralatan teknik sihir mahal.
Botol minuman impor bernilai tinggi.
Semua ada di sini.
Dune tak pernah menghamburkan hasil penggelapan kecilnya.
Ia mengumpulkannya.
Sedikit demi sedikit.
Selama bertahun-tahun.
Bertindak sebagai pegawai licik yang “mencuri recehan”—
agar dianggap dapat dikendalikan.
Agar Lortel merasa memegang kendali.
Padahal—
ia sedang membangun bukti.
Jika tentara kekaisaran masuk sekarang—
Lortel akan langsung ditangkap.
Gudang rahasia.
Dana tersembunyi.
Barang selundupan.
Bukti sempurna.
Ia mengasah pedangnya dalam gelap selama bertahun-tahun.
Menunggu momen.
Lawan yang ia incar—
bukan pegawai biasa.
Melainkan Lortel Kehelland.
Gedung Elte – Tembok Raksasa
Lantai dua—
Ziggs Eiffelstein duduk mengasah pedang.
Senjata berserakan di sekelilingnya.
Seperti binatang buas mengasah taring.
Lantai tiga—
Yennekar Palerover duduk minum teh di ruang VIP.
Spirit di sekitarnya menunduk.
Aura tak wajar menyelimuti ruangan.
Lantai empat—
Trayciana Bloomriver berdiri dengan tongkat di tangan.
Battle magician kelas atas.
Pengalaman duel jarak dekat pun ia kuasai.
Atap—
jejak pelarianku menuju Hutan Utara.
Untuk mencapainya, Taylee harus melewati mereka semua.
Ujian.
Bukan sekadar tembok—
melainkan dinding yang seolah mustahil dilewati.
Taylee Bangkit Lagi
Taylee terhempas ke tanah.
Darah membasahi tubuhnya.
Clevius berdiri di bawah cahaya bulan—
seperti iblis peminum darah.
Taylee memejamkan mata.
Seluruh hidupnya adalah ujian.
Ujian yang tak membunuhnya—
hanya membuatnya lebih kuat.
Namun tetap saja… sakit.
Ia berdiri.
Bertumpu pada pedangnya.
Tubuhnya hampir habis.
Namun satu hal tak berubah—
Ayla.
Selama ia masih ingin menyelamatkan Ayla,
ia tak akan runtuh.
Ia membuka mata.
Aura Swordmaster’s Skill kembali beresonansi.
Hidup mulai menyala kembali dalam pandangannya.
Dengan tubuh penuh luka dan darah—
Taylee McLaure berdiri lagi.
Dan ujian berikutnya…
baru saja dimulai.