Hujan memantul dari bilah pedang, jatuh ke lumpur.
Taylee menendang tanah sekali lagi.
Gerakannya terlalu cepat untuk diikuti mata.
Satu cipratan lumpur—dan dunia terasa berhenti.
Bukan dunia yang melambat.
Indra Taylee yang menajam.
— Hwaaaaaa!
— Kagagagak!
Ed Rothstaylor berguling ke belakang dan menyebar perlengkapan teknik sihir di tanah.
Namun dalam sekejap—
Taylee menebas semuanya.
Satu. Dua. Tiga kali.
Setiap perangkat kecil itu terbelah presisi oleh pedang besar di tangannya.
Ia sudah belajar.
Dari pertarungannya dengan Elvira Aniston di lantai pertama.
Jangan biarkan Ed mengendalikan medan dengan alat teknik sihirnya.
“Di mana Ayla?!” teriaknya di tengah hujan.
Ed hanya menyeringai, menyeka lumpur dari lengan bajunya.
Ayla telah ia pingsankan dan sembunyikan di dalam shelter kayu.
“Carilah sendiri.”
Taylee menggertakkan gigi.
“Kau benar-benar gila soal riset Aspect Magic.”
Pedang terangkat lagi.
Waktu hampir habis.
Skill Sword Saint Rite – Terminal aktif, namun hanya sesaat lagi.
Ed melemparkan alat lain ke tanah.
— Kwaaaaang!
Asap tebal menyebar.
Smoke Generator.
Namun hujan deras menggerusnya hampir seketika.
Tetap saja—cukup waktu.
Ed meraih busur di sudut camp.
Dua anak panah melesat.
“Hah!”
Taylee menghembuskan mana dan semua anak panah mental.
Terlalu lemah.
Namun itu membuka posisi Ed.
Taylee menerjang.
Tangannya hampir meraih kerah Ed—
Pugh!
Kakinya terperosok lumpur.
Ed menendang pahanya.
Pedang besar terlempar jauh.
Belati terbalik mengarah ke bahunya—
Clang!
Pedang mana menepis belati itu dan menghantam tubuh Ed.
Ed terpental, terguling hingga ke depan kabin.
Keduanya bangkit.
Keduanya basah, kotor, nyaris hancur.
Taylee menyadari sesuatu.
Ed hampir tak menggunakan mana.
Bukan karena sombong.
Ia tak bisa.
Namun—
ia tetap tenang.
“Heogeomsul…” gumam Ed, seolah mencatat teknik barusan.
Taylee merasakan kegelisahan.
“Coba lagi.”
Seolah ia sedang diuji.
Pedang mana menyelimuti Taylee.
Skill Sword Saint Rite – Space Cutting.
Jika terkena—bukan hanya tubuh terbelah.
Eksistensi itu sendiri terhapus.
— Hwaaaaaaaaa!
Mana merah gelap membelah ruang.
Ed terpotong dua.
Keyakinan dan rasa bersalah muncul bersamaan di dada Taylee.
Namun—
— Hwaaaaaaaaaaa
Tubuh Ed menghilang seperti kabut.
Ilusi.
Magic Engineering Supply – Welcome Disk.
Asap tadi bukan untuk menutup serangan.
Tapi untuk menutup pemasangan ilusi.
Ed sudah memperhitungkan semuanya.
“Brengsek…!”
Sebelum Taylee sadar—
Pintu shelter kayu di sampingnya meledak terbuka.
Ed muncul dari sana, terhuyung.
Mana hampir habis.
Taylee kehilangan keseimbangan.
Ed membantingnya ke lumpur.
— Kwaak!
Air hujan masuk ke mulut Taylee.
Ed menginjak ulu hatinya.
“Hehehe… bahkan Space Cutting pun kau pakai…”
Terminal hampir habis.
Tubuh Taylee gemetar.
Ia sadar sekarang.
Ed bukan menahan diri.
Ia benar-benar kehabisan mana.
Namun tetap—
ia menang dalam ketenangan.
“Kenapa… kau melakukan ini?!”
Nada Taylee penuh bara.
Ed menjawab setenang es.
“Semua orang punya cerita.”
Taylee tak tahu beban apa yang dipikul Ed.
Dunia nyata bukan hitam putih.
“Kerja bagus. Kau sampai di sini.”
Belati terangkat.
Saat itu—
— Quang!
Mana meledak sekali lagi dari tubuh Taylee.
Darah yang tertumpah berubah jadi pedang mana.
Belati. Pedang panjang. Greatsword.
Ia menyerap teknik darah Clevius Nortondale.
Ia menyerap mana weapon Ziggs Eltman.
Semakin didesak, semakin kuat.
Seolah dunia tak mengizinkannya kalah.
Ed terpental oleh gelombang mana.
Terminal hampir berakhir.
Ini pukulan terakhir.
Penglihatan Taylee kabur.
Ia tak bisa melihat.
Tak bisa mendengar.
Maka—
ia menebas seluruh area.
Segalanya.
Jika Tuhan melihatnya—
biarlah satu serangan saja mengenai Ed.
— Kwaak!
— Kaang!
Tiba-tiba—
Ujung pedang besar menembus bahu Ed.
Darah memercik ke wajah Taylee.
Belati kecil menahan agar tak lebih dalam.
Namun tebasan itu nyata.
Ed… sengaja masuk ke jangkauan.
“Kalau mau menebas… kau harus tahu apa yang ingin kau tebas, bodoh.”
Taylee melihat ke belakang Ed.
Shelter kayu.
Ayla ada di dalamnya.
Ed melindunginya.
Belati jatuh.
Ed terhuyung, darah mengalir dari bahunya.
“Aku sudah mendapatkan semua yang kuinginkan.”
Ia membuka kedua tangan.
“Sekarang tinggal ditebas saja.”
Terminal mati.
Tangan Taylee gemetar.
Namun ia tetap mengayun.
— Paaaaak!
Dari bahu kiri ke pinggang kanan.
Darah segar mekar.
Ed bersandar ke pintu shelter.
Kakinya kehilangan tenaga.
Perlahan ia meluncur turun.
“Huh… bagus…”
Hujan mengalir di dagunya.
Ia memejamkan mata.
Final Boss Act 5—
Ed Rothstaylor—
jatuh.
Taylee menggertakkan gigi.
Ia harus mencari Ayla sebelum kehilangan kesadaran.
Ia bertumpu pada pedang.
— Bang!
Dunia terbalik.
Seseorang menendang ulu hatinya.
Napasnya terhenti.
Kereta-kereta berhenti di tepi hutan.
Pengawal Kekaisaran berlarian.
Di tengah mereka—
Princess Fenia Cloel.
Dan—
lutut yang menekan ulu hati Taylee.
Seorang gadis kecil bertopi penyihir.
Wajahnya tertutup bayangan.
Namun matanya—
terbuka lebar dalam kegelapan.
Tatapan itu membuat darah membeku.
Lucy Mayreel.
Ia membenci hari hujan.
Karena tak pernah ada kenangan baik di dalamnya.
Air hujan mengalir melewati wajah Taylee.
“Ka… kau…”
Namun suaranya tenggelam oleh hujan.