Chapter 223 – Malam Festival & Kunjungan Tak Terduga
Malam festival terus berlanjut.
Kembang api meledak di seluruh kampus Sylvania.
Api unggun besar menyala di alun-alun mahasiswa, sementara aula pesta utama di Ofilis Hall dipenuhi musik dari band-band mahasiswa.
Para mahasiswa:
menikmati minuman dan makanan yang disajikan para maid
berbincang dan tertawa
bahkan ada yang mencoba mengungkapkan perasaan cinta mereka
Dosen dan staf juga ikut meramaikan festival.
Beberapa berjalan di kios makanan jalanan, yang lain menikmati waktu bersama asisten lab mereka.
Aken Island benar-benar dipenuhi suasana meriah malam festival.
Penyelidikan Ayla
Sementara semua orang menikmati festival, satu orang justru menghabiskan malamnya di perpustakaan.
Ayla menutup buku tebal yang telah ia baca selama berhari-hari.
Perpustakaan hampir kosong karena festival.
Artinya ruang baca praktis menjadi miliknya sendiri.
Ia menghela napas panjang.
Beberapa hari terakhir ia terus meneliti Sylvania.
Namun masalahnya besar.
Sebagian besar catatan tentang Sylvania:
tidak lengkap
hanya berupa tradisi lisan
atau disimpan sebagai artefak negara
Beberapa sumber penting bahkan tidak bisa diakses mahasiswa biasa, seperti:
Sage’s Seal di Trix Hall
Aspect Science Research Diary di perpustakaan kekaisaran
Contemplations on Aspects and Magic Flow di arsip pusat kekaisaran
catatan penelitian milik Archmage Glokt
Ayla memijat pelipisnya.
“Sulit…”
Informasi yang bisa diakses mahasiswa hanyalah catatan publik.
Jika ada rahasia besar di sana, para sejarawan pasti sudah menemukannya sejak lama.
Namun satu catatan membuat Ayla berhenti.
Itu adalah pidato Sylvania saat ia diasingkan ke Aken Island.
Pidato Sylvania
Dalam pidatonya, Sylvania berkata:
“Aku adalah seorang fatalis ekstrem.
Aku percaya manusia harus menerima takdirnya.”
Namun ia juga berkata:
“Jika saatnya tiba untuk melawan takdir dunia…
maka aku akan melepaskan semua keyakinanku.”
Ia pergi ke Aken Island bukan sebagai orang yang kalah.
Melainkan seperti seorang jenderal yang berangkat ke medan perang.
Catatan penelitian Sylvania kemudian menjelaskan sesuatu yang lebih mengejutkan.
Ia mencoba melawan masa depan yang telah ditentukan.
Rahasia Aspect Magic
Dalam penelitiannya, Sylvania menulis:
aliran waktu bisa berubah
masa depan tidak sepenuhnya tetap
Aspect Magic dapat memutarbalikkan hukum dunia
Namun untuk melakukannya diperlukan sesuatu.
“Variabel.”
Sesuatu yang tidak tunduk pada hukum dunia.
Sylvania menulis:
“Dengan membawa variabel dari luar dunia ini,
aliran takdir dapat dipatahkan.”
Dan kemudian satu kalimat terakhir muncul.
“Seorang nabi yang mengetahui jalur dunia…
dan seseorang yang datang dari dunia lain.”
Ayla menatap kalimat itu lama.
Kekacauan di Kamp Ed
Sementara itu di kamp hutan utara.
Situasinya masih kacau.
Orang tua
Yenika Palover
—
Orte Palover dan
Sayla Palover
— masih mencoba memahami situasi.
Lortel Kecheln sebelumnya membuat mereka salah paham dengan cerita tentang “banyak wanita di sekitar Ed”.
Namun
Ed Rosstaylor langsung menyangkalnya.
“Aku tidak melakukan hal semacam itu.”
Tetapi masalahnya…
secara objektif memang terlihat aneh.
Di sekitar Ed ada:
Yenika yang tinggal di kabin sebelah
Lortel yang hampir selalu ada di vila
Lucy Mayril yang sering menyelinap tidur di kabinnya
Ed mencoba menjelaskan.
Namun kata-kata orang tua Yenika justru semakin memperburuk situasi.
Sayla tiba-tiba berkata refleks:
“Berapa banyak perempuan yang akan kau buat menangis…?!”
Ia langsung menutup mulutnya sendiri.
“Maaf! Saya tidak bermaksud!”
Orte mencoba menjelaskan dengan filosofi anehnya tentang kehidupan pria.
Namun pembicaraan justru semakin kacau.
Sementara itu Yenika sudah menyerah.
Ia duduk di sudut kamp dengan wajah merah menyala.
Di sampingnya roh angin Merilda membaca buku dengan tenang.
Yenika bergumam putus asa.
“Merilda… apakah aku anak yang tidak berbakti…?”
Merilda hanya menjawab singkat.
“Aku mengerti.”
Belle Menyelamatkan Situasi
Pada akhirnya yang menyelesaikan kekacauan adalah
Belle Maia.
Dengan suara tenang, Belle menjelaskan:
Ed menjalani kehidupan sulit setelah diusir dari keluarga
ia sekarang hidup sederhana di hutan
orang-orang di sekitarnya hanyalah teman
Perlahan suasana menjadi tenang.
Orang tua Yenika akhirnya mengerti.
Namun mereka justru semakin terharu.
Mereka berpikir Yenika telah berjuang sendirian di dunia yang keras.
Sayla hampir menangis.
“Yenika… perjuangan macam apa yang kau alami di sini…!”
Orte juga terharu.
Mereka bahkan berpikir untuk mengumpulkan seluruh desa Toren demi membantu Yenika.
Yenika hampir mati mendengar itu.
Manipulasi Lortel
Namun yang paling menarik adalah reaksi Lortel.
Awalnya ia mencoba menunjukkan perbedaan status.
Tetapi itu malah membuat orang tua Yenika bersikap defensif.
Menyadari kesalahan itu, Lortel segera mengubah strategi.
Ia menawarkan kereta perusahaan Elte untuk mengantar mereka pulang.
Namun Orte menolak.
“Kami jalan kaki saja!”
Meski begitu, malam itu Lortel berhasil berbicara lama dengan mereka.
Hasilnya?
Pagi Hari di Kantin
Keesokan paginya di kantin akademi.
Orte dan Sayla berbicara dengan penuh semangat.
“Lortel itu orang yang luar biasa!”
“Dia bahkan memperluas kontrak perdagangan dengan desa kita!”
Mereka bahkan mendapat hadiah dari perusahaan Elte.
Yenika hampir menjerit.
“Mom! Dad! Kalian benar-benar dibodohi oleh Lortel!”
Namun sudah terlambat.
Pesona seorang pedagang ulung terlalu kuat.
Rencana Lortel
Sementara itu di kamp.
Lortel duduk di dekat api unggun sambil tersenyum.
Setengah hari sudah cukup untuk memenangkan hati pasangan peternak dari desa.
Jika ancaman tidak berhasil—
cukup gunakan pendekatan ramah.
Lortel sangat memahami cara mengendalikan hati manusia.
Hari ini ia bahkan berniat mengajak Ed menikmati festival.
Namun tiba-tiba seseorang muncul di kamp.
Seseorang yang sama sekali tidak cocok dengan tempat ini.
Seorang wanita dengan pengawal.
Orang yang tidak pernah diduga akan datang ke hutan utara.
Princess Selaha.
Lortel menatapnya.
“…Kenapa Anda ada di sini?”
Selaha tersenyum tipis.
“Aku juga tidak menyangka akan melihatmu di tempat seperti ini.”