Ch 225 - Ambisi Seorang Putri

Novel: The Extra's Academy Survival Guide

← Sebelumnya Berikutnya →

Chapter 225 – Ambisi Seorang Putri


Api unggun di kamp hutan utara masih menyala pelan.


Lortel Kecheln duduk di dekat api sambil memegang cangkir teh hangat.


Hari ini seharusnya menjadi hari libur yang langka baginya. Ia bahkan sempat berpikir untuk menyeret

Ed Rosstaylor keluar ke festival.


Namun rencananya hancur ketika seseorang yang sama sekali tak terduga muncul di kamp.


Princess Selaha.


Jika dipikir-pikir, kamp sederhana Ed ini sudah didatangi terlalu banyak tokoh penting.

  • putri kerajaan

  • pedagang besar

  • penyihir jenius

  • bahkan tokoh penting akademi


Padahal ini hanyalah kamp kayu di tengah hutan.


Lortel hampir merasa tempat ini lebih penting daripada fasilitas resmi Sylvania.


Selaha dan Lortel


Selaha duduk di depan api unggun sambil menatap Lortel.


Nada suaranya ringan, tetapi tajam.


“Sepertinya semua yang kau katakan di rumah keluarga Rosstaylor dulu hanyalah tipu daya.”


Ia mengingat kejadian di Ross Taylor Mansion.


Saat itu Lortel berpura-pura berada di pihak Selaha untuk menyelamatkan Ed.


Sekarang fakta bahwa Lortel tinggal di kamp Ed sudah menjadi bukti.


Selaha tersenyum.


“Jadi kau sebenarnya menipuku.”


Lortel tidak langsung menjawab.


Ia tahu betul karakter Selaha.


Jika salah langkah sedikit saja, ini bisa dianggap menghina keluarga kerajaan.


Namun Lortel tetap tenang.


Akhirnya ia menjawab dengan santai.


“Benar. Sebenarnya saya adalah orang yang berada di pihak Senior Ed.”


Ia bahkan merendahkan dirinya sendiri.


“Saya hanya membantu beliau.”


Strateginya sederhana.


Selaha adalah orang yang sangat memperhatikan hierarki dan status.


Jika Lortel menempatkan dirinya hanya sebagai bawahan Ed, maka perhatian Selaha akan terfokus pada Ed, bukan dirinya.


Bidak catur tidak pernah menjadi target utama.


Selaha menatapnya dengan mata menyipit.


“Kau rubah yang licik.”


Lortel hanya tersenyum.


Namun Selaha melanjutkan.


“Orang seperti dirimu mungkin berguna sebagai penasihat… tapi suatu hari kau juga bisa menusuk tuanmu dari belakang.”


Ia lalu berkata pelan.


“Ed hidup dengan binatang buas di sisinya.”


Ucapan itu sebenarnya hanya analisis dingin.


Namun bagi Lortel, kata-kata itu menyentuh titik yang tidak boleh disentuh.


Biasanya ia selalu rasional.


Tetapi ada satu hal yang membuatnya kehilangan kesabaran.


Ketika seseorang meremehkan Ed.


Lortel masih tersenyum, tetapi urat di pelipisnya terlihat menegang.


“Putri Selaha.”


Suaranya tetap tenang.


“Tolong ketahui satu hal.”


“Saya tidak akan pernah mengkhianati Ed.”


Selaha tertawa.


“Hubungan romantis antara pedagang? Cerita elang makan rumput saja lebih masuk akal.”


Lortel menatapnya.


“Putri Selaha sebaiknya tidak meremehkan Senior Ed.”


Selaha mengangkat dagunya.


“Meremehkan?”


“Sebaliknya, aku menilai dia cukup tinggi.”


“Tapi bagaimana aku bisa menjadi kaisar jika bahkan satu duke saja tidak bisa kutundukkan?”


Lortel menjawab pelan.


“Mungkin memang ada pihak yang harus menyerah.”


Selaha tersenyum dingin.


“Aku yang menyerah?”


“Seumur hidupku, akulah yang membuat orang lain menyerah.”


Arogansi Selaha benar-benar tak tertandingi.


Lortel akhirnya berdiri.


“Saya akan memanggil Senior Ed.”


Namun ia sudah tahu jawabannya.


Ed tidak akan pernah berpihak pada Selaha.


Penolakan Ed


Tak lama kemudian Ed datang dari sungai.


Kemejanya masih basah oleh keringat setelah bekerja memeriksa jaring ikan.


Ia duduk di depan api unggun sambil minum air dingin.


Tidak ada sedikit pun sikap formal terhadap putri kerajaan.


Selaha langsung berbicara.


“Kau sendiri yang mengatakan bahwa aku layak menjadi kaisar.”


“Benar.”


“Kalau begitu kenapa kau tidak berpihak padaku?”


Ed menjawab tenang.


“Saya akan terus membantu Putri Fenia.”


Selaha menyipitkan mata.


“Aku bahkan bersedia menghentikan semua serangan politik terhadapmu.”


“Itu akan sangat saya hargai.”


“Menurutmu itu gratis?”


“Jika ada yang harus saya balas, saya akan melakukannya. Tapi saya tidak akan berpihak dalam perebutan tahta.”


Selaha mengernyit.


“Bukankah kau berkata aku paling layak menjadi kaisar?”


Ed menjawab tanpa ragu.


“Benar.”


“Tapi manusia tidak selalu bertindak rasional.”


Ia menatap api unggun.


“Putri Fenia mungkin bukan kandidat terkuat.”


“Tapi saya tetap memilih mendukungnya.”


Selaha meminta alasan.


Ed akhirnya menjelaskan.


“Pemerintahan yang selalu melihat ke bawah dan penuh belas kasihan memang terlihat indah.”


“Tapi jalannya sangat sulit.”


Dunia kekuasaan biasanya dipenuhi:

  • pengkhianatan

  • tipu daya

  • kekerasan


Orang idealis biasanya tidak bertahan lama.


Namun Ed berkata pelan.


“Saya akan tetap berada di jalur itu.”


“Seseorang harus melakukannya.”


Selaha akhirnya menyadari sesuatu.


Fenia masih bisa mempertahankan idealismenya karena ada Ed di sampingnya.


Ed adalah orang yang:

  • memahami realitas

  • mampu membuat strategi licik jika diperlukan

  • tetapi tetap menjaga idealisme Fenia


Tanpa Ed, Fenia hanya akan menjadi gadis naif.


Perasaan Selaha


Seharusnya percakapan itu berakhir di sana.


Namun sesuatu yang aneh muncul di mata Selaha.


Kilatan cahaya yang berbahaya.


Lortel Kecheln yang menyaksikan semuanya langsung menyadari.


Ia tahu ekspresi itu.


Keinginan untuk memiliki sesuatu.


Selaha memandang Ed seperti seseorang yang melihat harta karun.


Perasaan yang muncul bukan cinta.


Melainkan sesuatu yang lebih liar.


Cinta predator.


Fenia di Istana


Sementara itu di kediaman kerajaan.


Princess Fenia duduk di teras sambil minum teh.


Ia berbicara dengan pelayannya.


“Sejak kecil, Selaha selalu senang merebut sesuatu dari orang lain.”


Ia mengingat masa kecilnya.

  • boneka kesayangannya diambil Selaha

  • buku sihir Persica juga diambil

  • bahkan pelayan favorit mereka pun diambil


Selaha selalu merebut apa pun yang diinginkan orang lain.


Dan setelah mendapatkannya, ia akan segera bosan.


Karena itu Fenia tahu satu hal.


Selaha sangat tertarik pada sesuatu yang tidak bisa ia miliki.


Ia teringat percakapannya dengan Ed sebelumnya.


Saat festival dimulai, Fenia meminta Ed berpura-pura menjadi pendukungnya.


Ed hanya tersenyum dan menjawab:


“Aku memang sejak awal mendukung Putri Fenia.”


“Alasannya agak rumit.”


Fenia menghela napas.


“Orang itu benar-benar pandai berkata sesuatu yang bahkan tidak ada di hatinya.”


Namun ketika ia menyebut nama itu, suaranya terasa lembut.


“Ed Rosstaylor…”


Di kejauhan musik festival masih terdengar dari akademi.


Ayla dan Rahasia Sylvania


Di sisi lain kampus.


Ayla Triss mendatangi Trix Building.


Ia baru saja berbicara dengan profesor mabuk.


Ayla ingin melihat artefak legendaris.


Sage’s Seal milik Sylvania.


Profesor berkata itu hampir mustahil.


Hanya kepala akademi atau wakil kepala yang bisa memberi izin.


Namun Ayla hanya menggulung lengan bajunya.


“Kalau begitu, aku hanya perlu meyakinkan mereka.”


Dengan tekad kuat, ia berjalan menuju Trix Building.

Komentar

Untuk berkomentar, silakan login dengan Google .