Chapter 227 – Surat dari Sang Putri
Festival di Sylvania Academy terasa sangat sibuk bagi
Ed Rosstaylor.
Ia harus:
menghadiri berbagai acara
membantu urusan beasiswa
menjaga kehidupan kamp di hutan
tetap melanjutkan latihan pribadi
Akibatnya, ia bahkan tidak merasa benar-benar menikmati festival.
Namun ada satu hal yang tidak bisa diabaikan.
Princess Selaha mulai sering menyebut namanya di depan publik.
Beberapa rumor yang beredar selama festival:
Selaha bertanya tentang Ed kepada Rachel
Dalam pidato di panggung utama, Selaha menyebut nama Ed
Dalam doa yang dipimpin seorang saint, ia bahkan meminta maaf atas insiden di Ross-Taylor Mansion
Semua tindakan itu jelas.
Selaha sedang membangun hubungan publik dengan Ed.
Seolah-olah ia sudah memutuskan untuk memanfaatkannya.
Surat Setiap Hari
Selain itu, setiap hari datang surat dari pelayan Selaha,
Dest.
Selaha menulis surat setiap malam selama festival.
Surat itu panjang, ditulis tangan, dan penuh retorika elegan.
Namun kesimpulannya selalu sama.
Ed harus bergabung dengannya.
Contoh isi suratnya:
“Malam di Aken Island mulai terasa dingin.
Musim gugur tampaknya mendekat.
Kita hanya bertemu sebentar saat tragedi Ross-Taylor Mansion,
tetapi rasanya seperti kita telah saling memahami.
Aku ingin mengenalmu lebih dalam, Ed Rosstaylor.”
Surat lain berbunyi:
“Jika kita meninggalkan konflik masa lalu dan berjalan bersama,
masa depan kekaisaran akan jauh lebih baik.
Aku bisa menjamin kekuasaan keluarga Rosstaylor kembali seperti masa kejayaannya.”
Setiap surat penuh rasa hormat.
Namun bagi Ed, semuanya terasa aneh.
Karena sikap Selaha saat bertemu langsung sama sekali tidak seperti isi suratnya.
Penolakan Berulang
Setelah membaca surat, Dest biasanya berkata dengan sopan:
“Putri Selaha sedang menunggu Anda. Apakah Anda ingin menemuinya?”
Ed hanya menggeleng.
Hari berikutnya, surat lain datang.
Selaha mencoba pendekatan berbeda.
Ia menyinggung
Princess Fenia.
“Apakah benar-benar baik bagi Fenia menjadi kaisar?
Ia adalah gadis yang terlalu lembut.”
Selaha bahkan menawarkan kompromi.
“Jika aku menjadi kaisar, Fenia bisa hidup bahagia di Rose Palace.
Ia tetap bisa menjadi putri yang baik hati yang dicintai rakyat.”
Namun Ed tetap menolak.
Ia teringat peringatan Fenia.
“Jangan pernah jatuh ke dalam permainan Selaha.”
Fenia pernah menjelaskan sifat kakaknya.
Jika Selaha berhasil mendapatkan sesuatu, ia akan langsung kehilangan minat.
Nilai seseorang bagi Selaha justru berada pada saat ia belum bisa memilikinya.
Paradoksnya:
Semakin Ed menolak, semakin berharga ia bagi Selaha.
Surat yang Semakin Radikal
Hari demi hari surat Selaha semakin ekstrem.
Ia mulai menjanjikan segalanya.
“Jika kau memegang tanganku, aku pasti akan menjadi kaisar.
Aku bisa menjamin kejayaan hidupmu.”
Bahkan akhirnya ia menulis sesuatu yang hampir seperti pengakuan.
“Aku membutuhkanmu, Ed Rosstaylor.
Aku ingin kau menjadi milikku.”
Ed hanya membaca dengan wajah datar.
Ketika Dest bertanya lagi apakah ia ingin menemui Selaha—
Ed tetap menggeleng.
Pengakuan Cinta?
Surat berikutnya bahkan lebih mengejutkan.
“Aku memikirkanmu sepanjang hari.
Bukan hanya karena politik.
Kadang aku merindukan suaramu… wajahmu…”
Selaha menulis seolah-olah ia benar-benar jatuh cinta.
Namun bagi Ed, semuanya terasa terlalu berlebihan.
Ia bahkan mulai merasa ngeri.
Sampai sejauh apa Selaha bersedia menjual kata-kata demi mencapai tujuannya?
Hari Terakhir Festival
Akhirnya tibalah hari terakhir festival.
Acara penutupnya adalah kembang api besar di alun-alun mahasiswa pada tengah malam.
Setelah itu:
festival selesai
Emperor Cloel akan kembali ke ibu kota
Selaha juga akan meninggalkan Aken Island
Dest datang sekali lagi.
“Putri Selaha menunggu Anda.”
Ed membaca surat terakhir.
Lalu berkata datar.
“Putri Selaha memiliki kemampuan menulis yang luar biasa.”
“Alur kata-katanya terasa sangat tulus.”
“Seharusnya beliau menulis puisi atau novel.”
Kemudian ia menutup surat itu.
“Maaf.”
“Aku tidak akan datang.”
Tanya yang Kelelahan
Di sisi lain kampus.
Tanya Rosstaylor akhirnya bisa beristirahat setelah festival.
Ia terbaring di sofa kantor dewan mahasiswa seperti mayat.
Di depannya duduk
Ziggs Eiffelstein.
Ziggs melemparkan camilan ke meja.
“Kau tahu? Kau terus mengulang monolog yang sama.”
Tanya mengangkat kepala dengan wajah kosong.
“Aku ingin pensiun.”
“Aku ingin mati.”
“Aku ingin kabur ke tempat yang tidak ada orang mengenalku.”
Ziggs tertawa kecil.
“Cobalah berpikir positif.”
Tanya mendengus.
“Kalau aku membohongi diriku sendiri dengan kata-kata positif, itu tidak berarti apa-apa.”
Ziggs menjawab santai.
“Justru itu intinya.”
“Jika kau terus berbohong pada dirimu sendiri cukup lama… suatu saat otakmu akan menganggapnya sebagai kebenaran.”
Tanya menatapnya.
“Itu terdengar seperti metode psikologi yang menakutkan.”
Ziggs mengangkat bahu.
“Setidaknya lebih baik daripada ingin mati setiap hari.”
Selaha Mulai Terobsesi
Di kamar VIP-nya, Selaha mendengus setelah mendengar laporan Dest.
“Dia menolak lagi?”
Ia memutar pena bulu di tangannya.
Selaha sebenarnya sangat sibuk selama festival:
menemani Kaisar
menghadiri acara
mengatur laporan politik
Ia tidak punya waktu untuk datang langsung ke kamp Ed setiap hari.
Karena itu ia mencoba merayunya lewat surat.
Namun sesuatu yang aneh mulai terjadi.
Selaha mulai terlalu memikirkan isi surat-surat itu.
Ia menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk memikirkan kalimat yang tepat.
Padahal semua itu hanya kebohongan.
Tujuannya sederhana:
membuat Ed mengkhianati Fenia
memanfaatkannya
lalu membuangnya
Selaha bahkan membayangkan wajah Ed saat dikhianati.
Hanya dengan memikirkan itu, ia tersenyum.
Namun ada masalah.
Ed tidak pernah datang.
Bahkan sekali pun tidak.
Selaha mulai bertanya pada dirinya sendiri.
“Apakah dia sudah tahu semua ini kebohongan?”
Namun ia tetap menulis surat.
Semakin lama, semakin penuh emosi.
Tanpa sadar, ia terus mengulangi kebohongan itu bahkan kepada dirinya sendiri.
Ayla dan Sage’s Seal
Sementara itu di Trix Building.
Ayla Triss mencoba mengakses artefak legendaris.
Sage’s Seal milik
Great Sage Sylvania.
Namun staf akademi menolak dengan sopan.
“Permintaan Anda ditolak.”
“Artefak itu tidak bisa diakses mahasiswa.”
Ayla menunduk.
“Baik… terima kasih.”
Ia keluar dari gedung.
Namun ekspresinya berubah serius.
Ia menoleh kembali ke Trix Building.
Perasaannya mengatakan sesuatu.
Ia harus membaca Sage’s Seal.
Apa pun caranya.