Api emas menyempurnakan, Decimating Dragon Scale Armor!
Dengan mata menyipit, Ye Lin menatap pemandangan yang sangat ia kenali itu. Inilah cara yang sama ketika dulu ia diselamatkan.
“Guru, kau memakai sisik terbalikmu lagi dan menggunakan Decimating Golden Flame untuk menyempurnakan tubuhnya. Apa itu berarti dia akan jadi sama seperti aku?”
“Kenapa? Iri?”
Tanpa sedikit pun memikirkan perasaan muridnya, naga api itu mengangguk santai.
Wajah Ye Lin berkedut lalu ia menghela napas.
“Itu berarti dia akan mendapat warisan puncak yang ketujuh. Decimating Golden Flame yang tadinya cuma kumiliki, sekarang dia juga punya. Sementara aku tidak punya apa yang dia punya. Sulit untuk merasa tenang, Guru…”
“Hmph, bocah tak tahu diri, apa yang perlu kau risaukan?”
Naga api menyeringai.
“Kau pikir kau sanggup melakukan apa yang kusuruh seorang diri? Ha-ha, aku tahu itu hampir mustahil. Dan sekarang ada ‘spesimen’ begitu sempurna, jarang, dan sejenis denganku juga—aku tentu akan mengerahkan segalanya untuk menyelamatkannya, menguatkannya, supaya dia bisa menyelesaikan tugasku.”
Alis Ye Lin bergetar.
“Sejenis?”
“Ya, sejenis.”
Mata naga api berkilat, senyumnya menjadi jahat. Tatapannya tak pernah lepas dari bola api di bawahnya…
[Nine Serenities…]
Di sebuah tempat berkabut, satu bayangan kesepian melayang kebingungan.
“Siapa? Siapa yang memanggil?”
Pertanyaannya tidak pernah terjawab. Suara-suara itu datang dan pergi, hanya terus meneriakkan nama Nine Serenitiesberulang-ulang…
Bayangan itu mencoba bertanya lagi, tetapi tetap tanpa jawaban. Akhirnya ia memilih mengabaikan suara-suara itu dan hanya melayang di ruang yang sunyi dan kosong…
Tiba-tiba, sosok lelaki tua muncul di hadapannya, mengenakan jubah hitam sepekat malam.
Orang tua itu berdiri membelakanginya. Bayangan itu memasang ekspresi ragu.
“Siapa… kau?”
Orang tua itu tak menjawab, sama seperti suara-suara tadi. Ia hanya terus melayang maju.
“Tunggu!”
Baru setelah itu orang tua itu bicara,
“Di depan sana adalah batas akhir. Kalau kau melangkah lebih jauh, tak akan ada jalan kembali.”
Mengernyit, bayangan itu bertanya,
“Apa maksudmu ‘batas akhir’ itu?”
“Tempat di mana rohmu akan lenyap.” jawab si orang tua tenang.
Bayangan itu melirik sekeliling. Yang tampak hanya kabut tanpa ujung, tanpa jalan. Namun di depan mereka, terbentang kegelapan pekat.
“Kalau begitu… aku harus pergi ke mana?”
Orang tua itu terdiam lama, seakan kehabisan kata-kata. Akhirnya ia menghela napas.
“Tunggu di sini saja.”
“Oh.”
Bayangan itu mengangguk, berdiri manis layaknya anak kecil yang penurut. Di depan ada gelap gulita, di belakang pun kegelapan. Di sekelilingnya hanya kehampaan yang berputar pelan. Di tempat ini, hanya ia dan orang tua itu yang berdiri.
“Nine Serenities… kami menunggu kepulanganmu…”
Panggilan panjang itu terdengar lagi. Orang tua itu bergetar.
Bayangan itu bertanya,
“Mereka memanggil… kau?”
“Iya.”
“Kenapa tidak kau jawab?”
“Mereka tak bisa mendengar suaraku, dan mereka juga tak berani menyapaku.”
Punggung orang tua itu sedikit bergetar, lalu ia menghela napas panjang.
“Ada janji yang pernah kubuat, dan gagal kupenuhi. Karena itu, aku tidak bisa kembali.”
Bayangan itu memandang sekeliling, ke kabut tanpa jalan kembali.
“Benar juga, tidak ada jalan kembali kalau tak ada jalannya. Kecuali…”
Ia menunjuk ke arah kegelapan pekat di depan.
“Kau pergi ke sana.”
“Tapi kalau aku masuk ke sana, aku tak akan pernah keluar lagi. Tidak akan pernah kembali.”
Orang tua itu ikut menghela napas.
“Aku masih ingin pulang. Aku tidak bisa melangkah maju.”
Bayangan itu mengangguk pelan, lalu tanpa ragu mulai melayang ke depan. Di saat ia bergerak, kegelapan di belakangnya merayap, memutus seluruh jalan mundur.
Orang tua itu berteriak,
“Apa yang kau lakukan? Bukankah tadi sudah kubilang jangan ke sana?”
“Tapi hanya ini satu-satunya jalan.”
Tubuh bayangan itu bergetar, namun ia menatap orang tua itu dengan bingung.
Orang tua itu gemetar, seolah diliputi rasa takut.
Namun bayangan itu tetap terus bergerak maju.
“Tunggu sebentar!”
Orang tua itu berseru lagi.
“Sebelum kau pergi, bisakah kau menjawab satu pertanyaanku?”
“Pertanyaan apa?”
“Siapa dirimu?”
Bayangan itu tertegun. Ia mengerutkan kening lama sekali, kemudian menggeleng.
“Aku… tidak tahu. Siapa aku?”
“Janji padaku, sebelum kau bisa menjawab pertanyaanku, kau tidak boleh melangkah maju.”
Suara orang tua itu terdengar sangat serius.
Bayangan itu menggaruk kepala dan mengangguk. Namun tak lama, ia kembali bingung, dan tanpa sadar satu langkah lain terayun ke depan.
“Siapa aku? Siapa aku…?”
“Aku telah mengecewakan kalian semua. Aku tidak bisa kembali…”
Orang tua itu tertawa pahit, tubuhnya bergetar halus.
“Rohku nyaris hancur. Bahkan namaku sendiri mulai kulupa, ha-ha… Aku… ingin ikut dengannya…”
“Siapa aku…”
Bayangan itu melewati orang tua itu, sama sekali tidak menyadari bahwa lelaki tua itu kini berjalan di sisinya, ikut melangkah menuju jurang gelap di depan.
Lalu, di dunia berkabut itu, cahaya menyilaukan tiba-tiba meledak. Sebuah bola api emas raksasa muncul dan bersinar terang.
Cahaya itu menyinari bayangan tersebut, menampakkan wajah yang sangat familiar.
Seakan menjawab panggilan, api biru kehijauan menyala di keningnya, lalu menjalar ke seluruh tubuh, mengubahnya menjadi sosok manusia yang seluruhnya terbuat dari api biru.
“Siapa aku…”
Mata bayangan itu masih kosong saat bergumam. Namun saat api biru itu menjalar ke matanya, ia tersentak bangun dan berteriak,
“A-aku Zhuo Fan! Demonic Emperor Zhuo Fan!”
Seperti sumpah, teriakannya mengusir seluruh kegelapan. Jurang tanpa dasar yang hendak menelannya pun menghilang.
Kegelapan luruh, digantikan cahaya yang gemilang dan hidup.
Zhuo Fan kini melayang menuju api emas raksasa itu. Namun sebelum sepenuhnya menyatu, ia menoleh ke belakang, ke arah sosok orang tua yang perlahan memudar dari jangkauan cahaya.
“Siapa kau?” Zhuo Fan berteriak.
Sosok sang orang tua sudah tak tampak, namun tepat sebelum Zhuo Fan tertelan api emas, suaranya terdengar samar,
“Kita akan bertemu lagi. Di ujung maut… atau saat kita sama-sama mencapai Dao, ha-ha-ha…”
Boom!
Ledakan dahsyat mengguncang. Percikan api berhamburan. Dari dalam kobaran itu, Zhuo Fan muncul dengan mata keemasan yang menyala, penuh api. Seluruh tubuhnya kini diselimuti sisik emas yang memancarkan panas menyengat, seolah bisa melelehkan apa pun yang mendekat.
“Kau akhirnya kembali, Nak!”
Zhuo Fan masih belum sepenuhnya sadar akan situasinya ketika ia mendengar suara menggelegar itu.
Ia menoleh cepat dan melihat kepala naga raksasa menatap langsung ke arahnya dengan tatapan aneh. Api emas mengelilinginya, panasnya sampai membuat ruang di sekitarnya bergetar.
Zhuo Fan terkejut.
“Salah satu dari lima binatang suci besar, Decimating Dragon Ancestor? Jadi ini Infernal Gorge?”
“He-he-he, betul sekali. Inilah wilayahku. Selamat datang.”
Nenek Moyang Naga Pemusnah itu menghembuskan gelombang panas yang begitu kuat sampai membuat Zhuo Fan terdorong mundur.
Zhuo Fan mengerutkan kening, bingung.
[Kenapa aku bisa ada di sini?]
Ye Lin menjawab isi kepalanya.
“Aku yang membawamu. Saat kau dikepung Sekte Universal Righteous, kau sudah di ambang kematian — tubuh dan jiwamu hampir padam. Hanya guruku yang bisa menyelamatkanmu. Karena itu, aku membawamu ke sini.”
“Ye Lin?” alis Zhuo Fan bergetar. Ia berpikir sejenak lalu buru-buru bertanya,
“Bagaimana dengan para gadis? Apa kabar mereka?”
Ye Lin mengangkat alis.
“Sejak kapan kau peduli orang lain begitu?”
“Jawab saja. Mereka selamat atau tidak?”
“Mereka baik-baik saja. Saat aku datang, hanya kau yang bertarung, sendirian menahan ratusan orang dari Sekte Universal Righteous. Aku sudah membantumu membantai semuanya. Seharusnya tidak ada pengejar lagi.”
“Syukurlah…”
Zhuo Fan akhirnya menghela napas lega. Demi bertahan selama tiga hari, kesadarannya sudah lama menghilang. Kalau dilihat dari luar, ia mungkin sudah tampak seperti mayat. Namun ia tetap menggenggam napas terakhirnya mati-matian. Itu yang membuatnya terus bertarung, bahkan ketika ia tidak tahu apa pun lagi—apakah para gadis sudah lolos atau tidak.
Decimating Dragon Ancestor bertanya penasaran,
“Nak, apa mereka itu ada hubungan denganmu?”
“Uhm, Naga Leluhur, istriku bersama mereka.”
Zhuo Fan segera membungkuk sopan. Ia tahu diri di hadapan eksistensi sekuat ini.
Jawabannya membuat naga itu mendengus, lubang hidungnya menyemburkan hawa panas.
“Dengar baik-baik nasihatku. Putuskan semua hubungan dengan mereka. Kau bahkan tidak sadar sudah terjerat begitu dalam karena mereka. Kalau kau benar-benar peduli pada istrimu, jauhilah dia.”
“Apa?!”
Zhuo Fan terpaku di tempat…